Tag Archives: Yummy Food

Mencecap Lembut Es Krim Toko OEN Malang

Seraut wajah bulat manis menatap takjub gelas cembung bertangkai rendah di depannya. Tiga bulatan lembut, coklat, kuning, dan merah muda, memenuhi gelas berpinggir lekuk. Tampak taburan warna-warni serupa buah kering di atasnya. Setangkai wafer roll menancap di atasnya. Senyum gadis muda itu merekah. Diambilnya sendok kecil di sisi gelas. Menyendok bulatan kuning. Menyuapkannya ke dalam bibir mungilnya. Sejurus kemudian, rona merah menghias pipinya. Matanya mengerjap-ngerjap. Es krim itu dingin,  seperti udara di luar sana, tapi hatinya dalam sekejap menghangat.

edit_MG_3907

Mengunjungi Toko Oen di sudut jalan gereja Kayu Tangan adalah ketidaksengajaan.  Kami hanya berjalan menyusuri sekitar alun-alun dan tidak berharap akan menemukan sesuatu yang menarik.  Tapi, ternyata, Tuhan punya banyak kejutan untuk kami di malam itu. Selepas menikmati arsitektur Gereja Kayu Tangan yang berselimut cahaya kuning malam yang mempesona, mata saya terpaku pada bangunan bertirai putih pada jendela lebar model lama. Saya katakan pada teman jalan, mungkin sehabis mengelilingi alun-alun kita bisa mampir ke sana. Ia spontan berkata, sekarang saja. Dan spontanitasnya sungguh membawa berkah karena Toko Oen tutup jam 20.30 sedangkan jarum jam saya sudah menunjukkan lebih dari setengah delapan.

Toko Oen Malang yang sedikit tersembunyi

Toko Oen Malang yang sedikit tersembunyi

Tentang Toko Oen, persis seperti yang diceritakan banyak referensi. Interior dalamnya, kursi rotan sintetisnya yang berkaki rendah tapi nyaman, meja bundar bertaplak jadul, langit-langitnya yang tinggi berkayu jati, ubinnya yang kuning oranye, persis seperti yang digambarkan. Meski tidak lagi dimiliki oleh pemilik asli Toko Oen dari Yogya yang sekarang hanya punya satu toko di Semarang,  menu yang ditawarkan masih sama (dengan harga berbeda). Saya bingung melihat deretan nama-nama es krim dan makanan berbahasa Belanda, tak satu pun saya paham. Maka andalannya adalah…”Es krim yang spesial disini ya”. Tak lama, Es Krim Spesial Toko Oen datang ke meja. Tentunya dibawakan pramusaji berbaju hitam putih dan berpeci hitam. Es kirimnya tidak datang sendiri :-P. Sedangkan makanannya sudah tidak lagi tersedia kecuali yang dipajang di etalase toko. Setelah lihat-lihat apa yang terpajang, saya putuskan tidak makan. Yang tersisa tinggal rupa-rupa cake. Cake dan es krim tidak boleh bertemu malam itu :D.

edit_MG_3900

Sebenarnya tindakan bodoh menikmati es krim di malam hari walau Kota Malang tidak lagi dingin. Mana sudah berhari-hari saya batuk dengan tenggorokan yang meradang. Tetapi, begitu suapan kecil es krim warna kuning rasa vanila meluncur ke kerongkongan….tiba-tiba tenggorakan terasa lebih nyaman. Entah apa hubungannya tapi sepanjang malam itu saya tidak lagi batuk-batuk. Pun pagi harinya. Es Krim Spesial Toko Oen ini terdiri dari 3 bulatan es krim dengan 3 rasa, vanila, coklat, dan strawberry. Terus terang, saya tidak suka es krim rasa coklat dan strawberry jadi saya  makan terakhir. Semua makanan/minuman rasa strawberry mengingatkan saya pada obat. Nah, tekstur es krimnya ini yang menarik, lembut tapi menyisakan sensasi serutan-serutan es di lidah, manisnya pas, dan tidak cepat mencair. Rasa wafer yang menjadi topping es krim juga menarik, mengingatkan saya pada wafer yang jaman dulu. Rasa wafer seperti ini tidak akan saya dapatkan di toko-toko besar. Rasa wafer jenis ini mungkin hanya bisa didapatkan di warung-warung kecil di pinggir kota. Tentang harga, sepertinya agak lebih tinggi dibanding Toko Oen Semarang :D.

edit_MG_3903

Deretan toples berisi kue kering jaman dulu

 

Satu yang menarik di Toko OEN Malang adalah interiornya yang bikin nyaman ngobrol berjam-jam. Sampai-sampai kami didatangi pramusaji yang mengantarkan bill, pengusiran secara halus karena toko segera tutup :D. Lain waktu, jika berkunjung ke Malang, saya ingin kembali ke sini :).

edit_MG_3909

Bangku rotan sintetisnya biking betah duduk berlama-lama

 

 

 

Mendekap Hangat di Ndoro Donker

Rintik membayangi perjalanan kami menuju sebuah rumah putih mungil di puncak bukit perkebunan teh Kemuning. Mobil kami pacu perlahan karena tidak yakin, benar tidaknya arah yang dituju. Bekal kami hanya petunjuk tukang parkir di Amanah Agrowisata dan Petugas TPR di gerbang masuk wana wisata air terjun Jumog dan Candi Cetho. Selepas tanjakan, tampak rumah bercat putih yang dicari. Lega rasanya karena tangan mulai keriput kedinginan.

Rumah teh Ndoro Donker namanya. Pertama kali dengar dan lihat foto lokasinya yang keren dari seorang teman. Pada kunjungan pertama ke Bukit Kemuning, saya tidak sempat mampir. Hanya lewat dan bertekad suatu saat harus mampir. Sebagai penyuka teh, Ndoro Donker adalah destinasi wajib kunjung. Apalagi yang ditawarkan adalah teh lokal dengan kualitas ekspor. Sudah rahasia umum kalau teh yang dipasarkan secara lokal adalah teh kualitas rendah karena lebih banyak memasukkan ranting dan tangkai teh ketimbang daunnya. Warnanya yang merah kecokelatan adalah indikasi jenis kualitas teh lokal.
image

Begitu masuk, aroma teh langsung menggelitik hidung. Tiba-tiba mata juga dimanjakan oleh deretan toples-toples dan kaleng-kaleng lucu berwarna-warni. Persis di belakang meja kasir. Saya hanya menebak, pasti isinya rupa-rupa teh. Bergegas kami memilih tempat duduk. Ada 3 pilihan tempat duduk. Di luar dengan meja melingkar dan berpayung, di bagian depan dengan konsep rumahan, dan di teras belakang yang menghadap perkebunan teh. Kami memilih duduk di teras belakang yang langsung menyapu pandangan ke hamparan perkebunan teh yang basah.
image

image

Perlu lambaian tangan untuk mengundang waitress mengantarkan menu makanan dan minuman. Untuk makanan, kami memilih kentang Ndoro Donker dan pisang panggang. Dua macam saja mengingat perut baru saja diisi dengan makan siang porsi besar. Walaupun ada singkong keju dan iga bakar di meja sebelah yang menggugah selera. Untuk teh, kami memilih White Tea. Teh spesial Ndoro Donker selain Radja Tea. White tea ini adalah teh premium dari pucuk daun yang masih kuncup sedangkan Radja Tea adalah teh hijau premium.
image

image

Tak lama menunggu, teh dihidangkan dalam teko transparan yang masih panas. Di tengahnya terdapat saringan tempat pucuk daun teh diletakkan. Terlihat daun tehnya masih kuncup. Warna yang dihasilkan kuning kehijauan bening, seperti chamomile tea. Tehnya sendiri ditemani dengan sewadah kecil gula pasir dan potongan-potongan mungil gula aren. Aroma White Tea ini begitu menenangkan. Saat menyesap, rasa ringan tertahan di lidah. Membuat saya Tiba-tiba tersenyum, benar kata orang “A cup of tea makes everything better “. Sengaja saya tidak memasukkan gula ke dalam cangkir untuk memperoleh rasa asli teh. Saya lebih memilih mengulum potongan-potongan gula aren. Tentang makanannya, to be honest, nothing special. Tapi, tidak masalah karena di sini kita ingin menikmati secangkir teh kan ya. Merasakan dekapan hangat dan menenangkan, untuk mempercayai bahwa semua akan jadi lebih baik :-).

Menyesap Hitam Pekat Kopi Gianyar

Hari menjelang siang ketika mobil kami berbelok ke sebuah halaman tak berbangunan. Dimana ini? “Kita ngopi-ngopi sebentar ya Saya belum ngopi tadi pagi”. Senyum manis bli Tude , supir mobil sewaan sekaligus guide dadakan, menjawab kegusaran kami. Pagi, sebelum bergerak, kami sudah wanti-wanti untuk dibawa keliling ke daerah utara. Tempat eksotik yang jarang dikunjungi wisatawan lokal dan gratis!!! Hahaha….nasib jadi traveller kere yang cuman sanggup sewa kendaraan dan makan ala kadarnya. IMG_2168-edited Menurut Aeki-Aice.org, kopi pertam kali masuk ke Indonesia di tahun 1696 oleh Komandan Adrian van Ommen dari Malabar-India. Jenis kopi yang dikembangkan saat itu adalah kopi Arabika dan ditanam di Pondok Kopi-Jakarta Timur. Sayangnya, Pondok Kopi dilanda banjir yang menyebabkan tidak hanya gagal panen tapi…gagal total!! Mati semua. Akhirnya didatangkan lagi bibit kopi di tahun 1699 dan disebarkan ke Jawa Barat, Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Timor. Ternyata, di daerah ini bibit kopi tumbuh dengan subur dan menghasilkan panen yang melonjak. Sehingga, di tahun 1711, Indonesia melalui VOC melakukan ekspor kopi pertamanya. Saat ini, jenis kopi yang dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Arabika dan Robusta. Kopi Gayo, Mandailing, Sidikalang, Toraja, dan Kintamani adalah sebagian kopi Indonesia yang terkenal…..mahal :D. Saya bukan penggemar fanatik kopi. Tapi, tidak pernah menolak suguhan kopi panas, yang hitam pekat dan berampas, atau yang telah dipermanis dengan krimer dan segala rupa rasa-rasa :D. Favorit saya tetap….kopi hitam dengan ampas. Rasanya nikmat tatkala bibir dan lidah bersentuhan dengan sensasi pahit dan manis kopi hitam. Tetiba langsung bersemangat :D. Tambah semangat jika disuguhkan 12 gelas aneka rasa kopi dan minuman lainnya. Gratis!!! Hah??? Yang bener???? IMG_2198-edited Di sepanjang jalan menuju Danau Batur atau jalan antara Tampaksiring-Kintamani banyak bermunculan agrowisata dengan kopi sebagai andalannya. Salah satunya adalah Satria Agrowisata. Agrowisata ini memberikan informasi yang menarik tentang kopi dan minuman khas Bali yang berkhasiat bagi tubuh. Informasi ini disajikan secara interaktif, langsung cicip di tempat :D. Lokasinya tidak terlihat dari jalan besar. Kita perlu melewati kebun kecil dengan beragam tanaman bahan baku minuman dan kandang luwak. Sebelum duduk manis menikmati indahnya suasana desa dan aroma kopi, pengunjung bisa melihat aneka biji kopi di sebuah gubuk kecil. Disini kita bisa belajar jenis-jenis kopi dilihat dari ukuran dan warnanya yang berbeda-beda. Saya pikir, kemana pergi biji kopi ya begitu-begitu aja…hahaha….ternyata warnanya bisa beda-beda. Di gubuk ini, bisa dilihat juga proses roasting yang masih sederhana. Kopi dipanggang dalam wajan tembikar di atas bara dari kayu. Kalau melihat hasilnya, dipanggang sampai tingkat kematangan “dark roast”. Hitam pekat. IMG_2173-edited IMG_2176-edited Dari gubuk kecil, lanjut ke gubuk kecil lainnya :D. Nah, di sini sudah disiapkan 12 gelas minuman olahan produksi Satria Agrowisata. Sebenarnya ini tester untuk memperkenalkan produk mereka. Setelah minum kepingin beli, merea seneng dong ya :D. Kalau tidak beli juga rapopo :D. Ada apa aja? Lihat langsung deh. IMG_2187-editedSilahkan dicicipi kopi moka, kopi gingseng, kopi kelapa, kopi vanilla, bali cocoa/coklat, kopi bali, sari manggis, lemon grass tea, rice tea, rossela tea, apa lagi ya….lupa…hahaha. Yang jelas enak-enak. Saya paling suka kopi Bali, rice tea, dan bali cocoa. Bali cocoa rasanya persis dengan choco drink-nya Cadburry :D. Ada lagi yang spesial….kopi luwak. Dari yang penampilannya bikin jijay…. IMG_2166-edited Jadi segelas kenikmatan tiada tara…..hahahaha

IMG_2195-edited

Lihat….busa kopinya masih ada, pinter yang buat 😀

Jadi, Satria Agrowisata juga menyediakan Kopi Luwak produksi sendiri yang sudah diekspor ke Russia. Di flyer mereka, pilihan bahasanya hanya 2, Indonesia dan Russia…hahaha. Kalau yang lain gratis, kopi luwak ini tidak gratis. Secangkir 50.000. Termasuk murah dibandingkan kalau sudah masuk ke kafe-kafe. Dan ternyata…..menikmati kopi tanpa gula lebih nikmat. Beneran :P. Jadi ya, kopi luwak ini saya cicipi dengan 2 metode. Dengan gula dan tanpa gula. Sungguh lebih nikmat tanpa gula. Rasanya lebih asam dibanding kopi biasa tapi lebih ringan. Dan sama sekali tidak meninggalkan rasa perih di lambung.  Menurut guide dari Satria, kandungan kafein di kopi luwak lebih sedikit dibanding kopi biasa. Dan menikmati kopi tanpa gula jauh lebih sehat dibanding dengan gula. Selepas dari sini, kalau buat kopi, takaran gulanya selalu saya kurangi. Beneran enak. Mmmmm…tapi tidak berlaku untuk JJ Royal Coffee…masih berasa pahitnya :D.

Jadi, ngopi-ngopi yuk sambil ngobrol-ngobrol 😀

4 Jam Di Rembang

Kedua pria beda usia itu saling dorong. Siapa yang akan memencet bel pintu. Sebelumnya mereka beruntung. Menemukan alamat yang tepat hanya dalam satu belokan asal tanpa perlu perlu bertanya kanan kiri. Satu kali. Tidak ada respon. Dua kali. Sama saja. Tiga kali. Siap berbalik. Dan tiba-tiba terdengar suara grendel pintu dibuka. Selarik raut wajah wanita paruh baya muncul. Sedikit saja. Hanya separuh wajah. Tapi bisa ku lihat rumah berarsitektur Cina dengan ornamen kuno di belakangnya. 

“Maaf, bapak baru saja pergi ke luar kota.”

Sayang, empunya tidak di rumah :(

Sayang, empunya tidak di rumah 😦

……

Sebagai rombongan “kisruh” yang ogah rugi, perjalanan ke Cepu harus lebih dari sekedar menghadiri acara pernikahan. Jadilah kami, berenam -dengan komposisi yang sangat tidak menarik, 4 pria/wanita paruh baya siap pensiun, 1 pria muda cupu, dan 1 wanita muda centil :D- mendedikasikan diri travelling with no age matter :D. Tujuan utamanya singkat, Lasem!! Sisanya pelengkap perjalanan alias berhenti dan menikmati sejenak spot-spot menarik sepanjang rute perjalanan. Mengambil rute Yogya-Solo-Purwodadi-Pati-Rembang-Cepu ternyata bukan pilihan yang salah. Ada saja yang bisa dilihat di sepanjang jalan melalui kaca jendela mobil. Sekumpulan penjaja burung dan deretan pohon jati di lintas jalan Purwodadi. Bukit-bukit bau karst sejauh mata memandang menuju Pati. Dan yang paling superb menurut saya, ladang garam di sepanjang jalan pantura Pati-Rembang.

Ladang garam...sepanjang jalan pantura

Ladang garam…sepanjang jalan pantura

Sungainya ga lebar, tapi yang parkir....ondeeeee

Sungainya ga lebar, tapi yang parkir….ondeeeee

Ladang garamnya….luas banget. Kebetulan sedang musim panen garam. Banyak tumpukan-tumpukan putih dan petani yang mengumpulkan garam dengan alat khusus. Bentuknya persis seperti serokan air. Lihat petani-petani itu rasanya antara kagum, iba, dan nyeriiiii. Kagum dengan semangatnya. Iba dengan harga garam yang dihargai tak seberapa, tak sebanding dengan kerja kerasnya. Dan yang penting…nyeriiii…nyebayangin harus berpanas-panas, tanpa alas kaki nginjak-nginjak garam. Ugh…ngebayangin ada luka sedikit aja di kaki langsung berdiri bulu kuduk. Konon, garam tradisional seperti ini lebih mantap dibandingkan garam rafinasi karena masih murni belum dicampur bahan lain. Kalau tidak salah namanya garam grosok. Bentuknya serpihan-serpihan kasar. Konon untuk mendinginkan es krim abang-abang es dong dong pakainya garam grosok. Lebih lama daya dinginnya. Tapi nantinya garam-garam dari petani ini akan diolah lagi, jadi garam dapur lah, garam mandi, macem-macem.

Setelah melewati jembatan kecil tapi isinya perahu semua, akhirnya sampai juga di Rembang. Yeayyyy….Lasem di depan mata :D. Lasem ini terkenal sebagai kota tua pecinaan dan batik tulisnya. Ada banyak sentra batik Lasem tapi tujuan kami sudah pasti, ke rumah Pak Sigit Witjaksono. Hasil berburu di gugel. Pak Sigit ini tempat paling tepat mendengarkan kisah kota Lasem. Sayangnya beliau tidak di tempat. Baruuuuu aja keluar kota. Aduuuuhhh pakkk…mbok ya perginya ntar aja tunggu kita dateng gituu :P. 

Kawasan disini seperti kampung batik Laweyan Solo, tapi lebih tertutup dengan pagar tinggi menjulang dan rapat alias tidak terbuka. Kalau di Laweyan, hampir semua rumah punya showroom jadi bisa keluar masuk sampe pegel. Untungnya ada satu rumah yang tidak terlalu tertutup, Batik Sriti. Oke masukkkkk…. Untungnya yang punya usaha ramah dan mau menjelaskan batik-batik Lasem. Menurut si ibu, batik Lasem beda dengan batik daerah lainnya karena motifnya menggunakan motif Lotoh. Lotoh itu semacam sayuran yang berasal dari laut, masih sejenis dengan rumput laut. Bentuknya panjang bercabang-cabang dengan bulatan-bulatan kecil. Nah, bulatan-bulatan ini yang jadi ciri khas batik Lasem. Semakin banyak dan kecil motif bulatan, semakin mahal. Harga dari 200an sampai jutaan. Menurut empunya, sayur lotoh ini bisa dimakan. Dicampur dengan parutan kelapa. Saya jadi membayangkan rujak rumput laut di Pulau Serangan Bali yang enak itu. Langsung deh ambil setangkai, masukin mulut, dan…….MELOTOTTTT…asyinnnnnnnnnnnnnn!!!! Ga tahu deh emang beneran gini rasanya atau si ibu lagi berantem sama suaminya trus kasih garem banyak beneurrrr. Ada rasa amis-amis juga yang tertinggal di lidah.

Sayur lotoh, motif batik Lasem mengikuti pola lotoh ini.

Sayur lotoh, motif batik Lasem mengikuti pola lotoh ini.

Tapi kata referensi di banyak tempat, motif batik Lasem tidak cuma Lotoh. Motifnya kental dengan nuansa etnis keturunan. Mungkin karena penduduknya banyak etnis keturunan ya. Terlihat ada klenteng di ujung pintu masuk sentra. Lupa nama klentengnya apa. Yang jelas penjaganya baik banget, mbak-mbak muda dan oma-oma sepuh. Kata oma, dia udah di klenteng ini selama 39 tahun. Dan sepertinya klenteng ini terkenal. Ada potongan artikel koran yang ditempel di dinding tentang penampakan naga api saat upaca apaaa gituu…lupa…hehehe.Ini kali kedua saya masuk klenteng yang ternyata beda-beda ya ornamennya. Yang ini dindingnya penuh sketsa orang berpakaian tradisional Cina. Dewa-dewanya kali ya. Dan banyak burung merpatinyaaaaa….tsakeppppp

09rembang

kagum deh ama dedikasinya

08rembang

interior dalam, wallpaper sketsa cina. sepertinya cerita tentan apa gituuu…ga ngeti 😦

Merpatiii...lempar-lempar roti

Merpatiii…lempar-lempar roti

Selain batik lasem dan klenteng ada satu lagi yang tidak boleh dilewatkan. Mampir beli sirup kawisssss…. Sirup kawis ini dari buah kawis yang katanya hanya tumbuh di Rembang. Bentuk buahnya seperti delima tapi kulitnya lebih keras. Kebetulan kita mampir di toko yang persis bersebelahan dengan pabrik kawis Dewa Burung. Rasanya gimana?? Bedaaa ama sirup di pasaran. Ada rasa getir, manis, dan rasa asing di ujung lidah. Cobain deh.

Di pabrik sirup kawis pas jam bubaran

Di pabrik sirup kawis pas jam bubaran

Walaupun ada drama di sana sini selama perjalanan, maklum komposisi usianya jomplang banget…qiqiqi. Tapi tetap asyik kok. Dan inilah rombongan ciamiknyaaaaa…… 😀

Komposisi ciamikkk :D

Komposisi ciamikkk 😀

makannnnnn

makannnnnn

ps: foto by novian 😀

Medan ohhh Medan (part 1 yaaa)

“Nanti di jalan, jangan lupa shalawat ya. Sama baca ayat kursy”. Abah.

Dan kita semua lupa baca karena saking senangnya mau jalan-jalan

…..

Selepas menghabiskan sepiring lontong Medan komplit. Sepiring lupis berlumur gula merah kental, yang mana sepiring itu ada dua lupis dan belasan cenil. Beberapa tusuk sate kerang *penting ditulis beberapa tusuk untuk kamuflase 😀. Dan segelas the panas. Kami lanjut pulang. Jalan kaki untuk menghilangkan segala rupa karbohidrat. Sungguh tidak signifikan penghilangannya karena jarak rumah-kedai makan kurang dari 5 menit dan sesampainya di rumah lanjut gigit-gigit keripik. Mari salahkan krucils Azra yang lama tak kunjung tiba sehingga menyebabkan kerusakan parah menu sarapan :D.

Trip ke Medan diawali dengan jalan-jalan ke Danau Toba, Parapat. Standar banget ya…hahaha… Pokoknya, belum ke Medan kalau belum ke Danau Toba!! Kami baru berangkat jam 10 waktu jam tangan. Takjub dengan energi Azra. Selalu 100% tidak habis-habis. Bayangkan, dari Penyabungan jam 7 malam. Sampai Medan jam 9 pagi. Lanjut ke Parapat dengan perkiraan 4-5 jam perjalanan. Padahal Penyabungan – Parapat cuman 2 jam saja!!! Emang niat pingin jalan bareng ya, jadi kuat-kuat terus.

Awal perjalanan tidak banyak yang dilihat. Begitu memasuki Tebing Tinggi, mata langsung segerrrr… Kanan kiri perkebunan kelapa sawit dan karet berderet rapi. Dulu menanamnya pakai meteran apa ya, bisa pas gitu ukurannya. Tidak sedikit perkebunan yang agak menjorok ke dalam dan menyisakan ruang kosong berumput halus untuk leyeh-leyeh. Pelintas jalan bisa istirahat disini, gelar tikar, tidur-tidur, main-main. Asal jangan iseng metik atau merusak kebun orang :D. Nah, sepanjang jalan banyak yang jualan lemang. Aiiii….langsung netes-netes air liur. Sudah lama tidak makan lemang. Pulut atau ketan yang dibakar di dalam bambu. Berminyak karena santan yang berlimpah. Dicocol di tapai ketan hitam. Rasanyaaaa….nom..nommmm… Sayangnya kita tidak berhenti di pinggir jalan karena si abang supir menjanjikan lemang batok yang rasanya maknyosss. Janji dia, kalau sudah makan lemang batok lupa sama mamang-mamang lemang yang lain :D. Dan ternyata betulllll….. Lemang batok ini endusssmarendusss *percaya lidah saya deh :P. Pilihan cocolannya pun ada dua, tapai ketan dan srikaya. Sayangnya saya kurang suka selai srikayanya, terlalu manis saya kan udah manisss.  Bentuknya berbeda dengan srikaya umumnya. Warnanya lebih coklat karena ada campuran karamel gula dan sedikit lebih encer. Bungkus duaaaa!!!

Lemangnya gede-gede...bukan lengannya yang gede, apalagi lengan saya :D

Lemangnya gede-gede…bukan lengan yang jualan yang saya maksud, apalagi lengan saya 😀

Perjalanan lanjut menuju Pematang Siantar. Dan kanan-kiri tidak lagi kebun sawit atau karet. Tapi door smeer. Bertaburan doorsmeer, kanan-kiri, bahkan cuman berselang 100 m sudah ketemu doorsmer lagi. Bukan kebun daun pintu apalagi daun jendela. Bukan pula jasa semir pintu. Tidak ada jasa pengecatan warna pintu jadi coklat, burgundy, deep purple, apalagi deep blue sea. Tetapi jasa ini juga bikin penampilan cakep, bersih, kinclong :D. Yaaa…doorsmer adalah jasa cuci mobil/motor dan tidak sedikit plus jasa tambal ban. Qiqiqi..beda daerah beda istilah ya. Unik juga. Dan terlalu banyak melihat tulisan doorsmer bisa berujung masalah buat kami juga :(.

Setelah bercanda-canda di mobil. Membat kerusakan di piring-piring warung makan Top yang spesial menyuguhkan burung goreng *burung dara gorengnya enak, renyah dan gurih, tapi sayang kecil-kecil, disajikan cuman setengah badan :P. Akhirnya sampai juga di penginapan Darma Agung Beach Hotel. Hotel sederhana tapi nyaman di pinggir danau Toba yang sampai check out tak jua saya temukan dimana beach- nya. Rate hotelnya termasuk murah, tidak sampai 400 ribu plus sarapan nasi-mie goreng . Bersih, luas, ada TV imut *ga penting nonton kalau lagi jalan :D, kamar mandinya juga bersih. Tidak ada AC, sudah adem bangettt. Kalau mau menginap disini, pesan kamar yang menghadap danau ya. Ada balkon buat menikmati danau. Dan pilih kamar mandi pakai bak supaya bisa tampung air panas *yaa,,,kalau bisa pilih :D. Karena air panasnya disediakan jam tertentu dan agak lama panasnya. Tapi jika kamu tidak mau mandi atau pecinta mandi ala 2 jari atau nyaman-nyaman aja dengan bau badan, abaikan saran ini :D.

Sayangnya, sampai disana mendung. Berkabut pula. Tidak bisa melihat danau dengan jelas. Apalagi pulau Samosirnya. Jadilah kita semua tebak-tebakan dimana pulau Samosirnya. Apalagi malam harinya ada cahaya di kejauhan yang bergerak pasti dari atas ke bawah. Itukah Samosir?? Besar amat. Kalau Samosirnya aja besar, danaunya lebih besar dong yaa. Dan betapa Allah niatnya susah ditebak ya. Tiba-tiba kasih bencana super duper maha dahsyat. Tapi setelahnya ada tempat cantik yang tercipta. Jadi dana Toba terbentuk akibat gempa vulkano-tektonik.Adalah gunung Toba, gunung purba aktif, yang memancarkan isi perutnya secara hiperaktif sekitar 74.000 tahun lampau. Tidak cukup letusan gunung. Allah juga kasih gempa sesar akibat pergeseran lempeng Indo-Australira. Kombinasi dua bencana (vulkano-tektonik) yang nyaris menamatkan sejarah hidup manusia inilah yang membentuk Danau Toba. Makanya, bentuk danau tidak bulat seperti danau lainnya yang terbentuk karena gempa vulkanik. Tetapi memanjang (sesar) dengan sisi terpanjang 90 Km (asal usul ini saya dapat dari nationalgeographic.coid) Saya tidak mengukur panjangnya, tapi saya haqqul yaqqin panjangnya. Karena pulangnya kita melewati jalur berbeda melintasi tepian Danau seperti menyusuri tepian laut. Sayang, kami tidak ke Pulau Samosir karena (1) hari sudah terlalu sore, (2) angin kencang banget plus kabut mendung, (3) dingin menusuk tulang enakanya kemulan di ranjang, (4) dititah sang maharaja babe untuk tidak menyebrang!!!.

Perahu cantik ke Pulau Samosir. Ada hubungan apakah antara Tony Fernandes dengan pemilik perahu ini???

Perahu cantik ke Pulau Samosir. Ada hubungan apakah antara Tony Fernandes dengan pemilik perahu ini???

Malam... (iye tahuuu)...enaknya ngariung di gazebo sambil nggragasin jagung bakar

Malam… (iye tahuuu)…enaknya ngariung di gazebo sambil nggragasin jagung bakar

Apakah orang Medan lihat pohon seperti orang India di pilem-pilem???

Apakah orang Medan lihat pohon seperti orang India di pilem-pilem???

Ketika malam mulai genap beringsut. Saat perut mulai teriak-teriak kelaparan. Saat lemang tapai, roti, popmie, dan chitato tidak bisa lagi membungkam. Datanglah bencana.

Sebagian besar dari kami, para tuan rumah, ke luar cari makan untuk di makan bersama di hotel. Tak lama mereka keluar. Hujan deras mengguyur disertai petir sahut menyahut. Saat mengintip di balkon….blasssstttttt….baru sekali itu lihat “pedang” Allah menyambar dataran P.Samosir. Tebal, panjang, bersinar terang. Astagfirullahhh…subhanallahhh. Jam 8 rombongan belum juga datang *elus-elus perut. Jam 9 tak terdengar ketukan di pintu dari mereka apalagi dari Sadako..hiii… Tuninut, sms masuk “in sory, ban gembes, mau diganti ban serep, sabar ya”. Baiklaaa.. Jam 10, masuk sms lagi “in, ban serepnya juga gembes. mobil ga bisa jalan, kami stuck..ga tau dimana”  Nah loooo… Menjelang jam 11 baru datang. Mobil ditinggal karena ban gembes semua. Tidak ada bengkel. Tidak ada doorsmer. Tidak ada orang yang bisa dipinjamin bannya. Keputusannya, dua pria gagah berani balik lagi ke mobil setelah mengantar para wanita dan anak-anak. Tidur di mobil. Menunggu terang. Menunggu abang-abang ganteng tukang tambal ban.

Dan kami semua makan dalam diam. Walau ditemani ikan sipora-pora khas danau Toba. Membayangkan para pria. Menggigil kedinginan. Hujan belum juga reda. Terbaca running text Metro di TV kecil, dua wisatawan Jerman terjebak hujan saat mendaki Samosir. Satu tergelincir dan dipastikan tewas. Satu masih hilang. Tiba-tiba Dhidot ngomong…

“Bu, kita tadi kan ga shalawat dan baca ayat kursy yang disuruh abah, makanya celaka terus :(“

“….”