Tag Archives: semarang

Photo of This Week: A Night in Thousand Doors


IMG_0936edited

Terakhir kali ke Lawang Sewu 3 tahun yang lalu. Setelah 3 tahun, banyak yang berubah. Bangunan yang dulu tidak terurus. Diyakini jadi sarang jin, memedi, para kunti, dan geng sejenis. Yang bisa masuk sesuka hati tanpa perlu bayar tiket masuk. Yang kalau mau bayar tiket tidak ada tanda terimanya alias karcis. Yang kalau mau sewa guide bayarannya sukarela. Sekarang sudah berubah. Masuk pagar sudah langsung ketemu loket tiket (10.000 untuk dewasa, 5.000 untuk anak). Tidak bisa lenggang kangkung walau hanya di halaman. Tarif guide sudah jelas (30.000 untuk waktu tak terbatas). Sudah ada ruangan khusus, seperti museum, yang berisi galeri foto sejarah Lawang Sewu. Jelas, Lawang Sewu sudah dikelola dengan profesional. Jadi lebih baik :).

Bagaimana atmosfirnya? Hmmm….tur di malam hari (dengan anak kecil dan sesepuh) pasti beda dengan tur di siang hari. Dulu tiap ruangan saya jelajahi, sampai ke loteng, toilet, dan gorong-gorong lantai bawah. Kecuali lantai bawah, saya tidak tahan bau dan pengapnya. Sekarang….ala kadarnya aja…hehehe. Yang penting misi foto-foto narsisnya tercapai :D. Sungguh, Lawang Sewu di malam hari terlihat lebih cantik. Lebih bercahaya πŸ˜€

IMG_0941edited

Menuju bangunan sayap utara. Satu-satunya bangunan yang bisa dijelajahi untuk saat ini

IMG_0942edited

Mozaik itu, tetap cantik. Sayang sedang direnovasi. Tidak bisa dijelajahi

Semak

Kangen bermain di semak-semak. Ngumpet. Jawil putri malu. Nangkap jangkrik dan kupu. Gatal dan bisul-bisul habis makan buah ungu.

Cerah di pagi hari

terompet ungu

Pijar ungu pagi hari

Siap menyongsong hari

Menanti prenjak

candle light morning

Cintai bumi sayang, kaulah penerus

KA Madiun Jaya, kereta full music

Setelah Joglosemar alias Banyubiru merasakan kalah saing sama dedengkotnya -Pramex- dan kondisi rel yang terkena rob…. Si Joglosemar tidak bisa lagi diandalkan.

Sekarang saya agak malas naik Pramex jam 06.55. Liburan anak sekolah bikin angkot malas beroperasi. Jadilah saya telat terus sampai stasiun. Mudah-mudahan, pekan depan angkot pulih seperti semula. Ga enak juga telat ngantor terus. Biasanya, kalau telat saya numpang KA. Lodaya tujuan Solo-Bandung. Berangkatnya pukul 08.30, yang berarti saya telat 2 jam ke kantor. Sebenarnya bisa naik Joglosemar aka Banyubiru yang menurut jadwal berangkat ke Yogya pkl 07.25. Tapi kereta yang satu ini benar-benar tidak bisa diharapkan. Telat bisa sampai 1 jam lebih. Atau, kalau sudah duduk manis di dalam kereta, tiba-tiba kepala stasiun cuap-cuap lewat pengeras suara yang sember “Sorry…sorry…Joglosemar ga berangkat ke Yogya nih. Penumpang turun aja ye. Naek Prame jam 9 aja… Gitu. Sorry banget deh”Β Β  (ini versi saya.. :P). ..duh males banget. Tidak jelas kenapa si Joglo malas jalan, mungkin karena “rob” di Semarang agak mengurang performa-nya. Yang jelas sekarang jadwalnya berubah jadi jam 09.25 dari Staisun Balapan.

Nah bulan Juli ini ada trayek baru Madiun-Solo-Yogya. Nama keretanya Madiun Jaya. Warna badan dan tipenya persis Si Joglo. Bedanya, kursinya hadap-hadapan dengan bantalan sofa (empuk… :P).Dan full musiccccccccccc….. hahaha baru sekali ini kereta ada musiknya, kayak bis kota aja. Asyik juga. Suaranya cukup jernih dan jelas, bisa ngimbangi tuuuut-tuuuuuuut-nya kereta :D.

Trayek si ManJa 3 kali sehari. Jadi berpikir, Solo-Madiun berapa jam ya…boleh tuh sekali-sekali ke sana naik kereta. Berangkat dari Stasiun Purwosari (ke Yogya) pukul 07.25. Sampai di Yogya kira-kira pukul 08.15. Klaten dan Maguwo berhenti. Kalau trayek ke Madiunnya saya belum tahu. Paling tidak ada pilihan kereta Yogya-Solo selain Pramex yang mulai menurun performanya.

Shine of Lawang Sewu

Meski sering ke Semarang baru sekali ini saya mengunjungi Lawang Sewu.Β  Sambil menunggu kereta selanjutnya, saya dan duo ibu-ibu sepakat ke Lawang Sewu. Dari pada bengongΒ  5 jam di stasiun. Pergi bareng ibu-ibu berarti traveling ala koper…hehehe. Keuntungan buat saya, ga perlu capek-capek, dibayarin pula.

Semarang terkenal dengan kota tua-nya. Banyak bangunan tua di pinggir jalan yang dibiarkan apa adanya. Tidak menerima sentuhan renovasi.Β  Cat dinding terkelupas, kaca-kaca jendela pecah,Β  lumutan… spooky banget kalau lewat malam-malam. Bangunan lama yang terawat bisa dihitung jari. Gereja Bledug salah satunya. Dindingnya putih bersih. Dengan kubah jingga. Memikat dari kejauhan.

so many rooms...so many doors

Lawang Sewu termasuk bangunan yang sama sekali tidak terawat. Atau memang dibiarkan seperti itu ya karena imej-nya sebagai bangunan Casper dan kawan-kawannya. Berapa kali coba acara sejenis uji nyali syuting di sana. Sampai-sampai terekam di benak pengunjung keangkeran bangunan . Ibu-ibu pun ga brehenti-hentinya nyebut kata “uji nyali”. Saya yang awalnya biasa-biasa aja jadi jiper juga… :(.

Masuk ke Lawang Sewu sebaiknya dipandu sama guide. Secara pintu dan ruangannya banyak banget. Dari pada ke sasar dan lebih bisa meng-eksplor Lawang Sewu dengan baik plus sejarahnya. Katanya ada 1000 pintu di sini. Menurut saya sih kurang dari seribu. Terlalu hiperbolic. Tapi jelas buanyaaakkkk…ratusan kali ya. Dulunya bangunan ini dijadikan jawatan kereta apinya Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun tahun 1094. Di lantai 1 ada loket tempat penjualan tiket kereta api yang melintas di tengah kota.Β  Lama tidak terpakai kemudian digunakan untuk kantor Kodam Diponegoro. Sampai sekarang mangkrak.

Tugu dari jendela loteng Lawang Sewu

Sebagai komoditas wisata, kita disuguhkan arsitektur bangunan yang baik. Bisa bertahan hingga saat ini. Tidak banyak yang dilihat di dalam bangunan. Kosong blong…sama sekali tidak ada furnitur.Β  Oleh pemandunya, kami dibawa sampai ke loteng yang dijadikan area logistik yang berdekatan dengan tangki penyimpanan air. Saya pikir disitu tempat menyimpan lonceng karena kalau dilihat dari luar terlihat menara. Ternyata didalamnya tangki. Asli di sini bau pup-nya kelelawar. Yang menarik, bisa melongok persimpangan tugu muda dari jendela loteng. Ada juga jalan pintas dari lantai 2 ke loteng. Tapi ya ampunnn…jalan pintasnya berupa tangga sempit melingkar-lingkar. Mending muter deh daripada lewat sana. O ya, bangunan ini terdiri dari 4 lantai, termasuk basement. Sama pemandu, kita tidak dibawa ke basement. Dia hanya kasih lihat jalan menuju tempat uji nyali. Ga tahu tempat uji nyali sama atau tidak dengan basement. Yang jelas tidak bisa disebut pintu masuk, karena seperti tingkap di tanah yang ditutupi seng. Dan kami sama sekali tidak berminat ke sana….hehehehe…

Hebohnya, bangunan segede ini minim toilet. Toiletnya ada di ujung-ujung bangunan. Bayangkan kalo kebelet….weeee…lari-lari ke toilet. Iya kalau hapal letaknya, kalau ga…bisa kesasar saking banyaknya ruang dan pintu.

Satu lagi, kami diperlihatkan ruang tempat syuting Ayat-Ayat Cinta. Yah begini doang… Ruangan 4×4 meter tanpa furnitur apa pun. Siapa sangka ini dulunya tempat syuting. Membayangkan, apa ya yang ada di benak sutradaranya kok milih tempat ini…hmmm….

Sensasi Masjid

Tiap masjid berfungsi sama. Tapi ada sensasi berbeda di tiap masjid.

Kalau ada waktu, saya suka mampir ke masjid (mushala) tiap berkunjung ke daerah. Baru-baru ini saya mampir ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Hehehe…malu mengakui agak kampungan ni. Teman dan keluarga yang sudah pernah ke sana mempromosikan menaranya yang bisa berputar dan payung otomatisnya.

Sebenarnya saya kesana pas hari Jumat. Hari dimana payung dikembangkan. Tapi saya datangnya kepagian, payung belum dikembangkan dan perjalanan masih jauh sehingga tidak bisa menunggu sampai jam 11. Ternyata masjidnya tidak terlalu luas, terasnya yang luas. Halamannya lebih luas lagi. Payung dikembangkan di teras masjid untuk menampung jemaah yang tidak tertampung di dalam masjid. Saya membayangkan, apa di payung tersebut ada kipas anginnya ya. Secara panas banget di luar. Begitu sujud bisa-bisa langsung dapat cap di jidat….hehehehe… Kalau mau jalan di teras, harus lepas alas kaki. Panassss….

Interior di dalam masjid menurut saya biasa saja. Malah mengingatkan saya pada masjid Akbar At Taqwa di Bengkulu. Ada kubah di atas dengan lampu. Di dinding mimbar ada lengkungan yang memantulkan sinar dari luar. Lengkungan ini terefleksi di lantai. Jadi seperti oval bersinar. Ada bedug besar juga di dalam. Disebut bedug ijo karena warnanya memang ijo. Sayangnya, mukena tidak tertata rapi di lemari. Bau apek dan bintik-bintik item. Saya berpikiran positif aja, jamaah wanitanya banyak dan suka shalat di masjid makanya bau apek dan bintik-bintik :).

Oya tentang masjid Akbar At Taqwa, ini masjid terbesar di Bengkulu. Di bangun sekitar tahun 1994, saya tidak tahu persis. Yang jelas, saya suka main di sana sejak TK…(duh, tuwirnya saya…). Masjidnya dekat dengan pantai panjang. Jadi lantainya beraroma pantai dan agak lengket. Warna masjid putih…putihhh semua. Kubahnya besar. Saya suka berbaring di lantai dan melihat ke atas kubah. Tiba-tiba ada burung keluar masuk dan buat sarang di lubang ventilasi kubah. Kubahnya dan langit-langitnya tinggi jadi tidak sumpek, malah ada semilir angin laut. Waktu dulu, jamaahnya sedikiiiiiiiitt. Masjid sebesar itu, jamaahnya bisa diitung 2 tangan. Kecuali kalau Ramadhan. Saking besar dan sepinya, saya takut ke tempat wudhu sendirian. Bagi kami anak-anak, ada lokasi favorit tempat bermain lompat tali. Di bawah kubah kecil bagian belakang, berhadapan langsung dengan pantai. Lagi asyik-asyik main diusir dan dimarahin marbot masjid. Ya iyalah, main lompat tali sampai roknya diangkat tinggi-tinggi. Di masjid gitu lhoo….hehehe…

Masjid Pusdai (Pusat Dakwah Islam), Bandung, menurut saya interiornya bagus dan selalu ramai. Banyak ventilasi segi enam imut-imut. Jadi banyak jamaah pun tidak sumpek malah duingiiiinnn. Biasanya ada anak-anak kecil di teras masjid sambil bawa kresek tempat taruh sendal. Mereka menawarkan jasa penitipan sandal dengan imbalan beberapa receh. Kebanyakan yang menggunakan jasa karena kasihan saja. Soalnya masjid sudah punya penitipan sendiri. Yang kurang menyenangkan di masjid ini adalah tempat wudhu dan toilet yang tidak sebanding dengan jumlah jemaah. Apalagi kalau ada even mabit. Wuihhhhh…. ngantri toilet dan wudhunya bisa satu jam lebih. Mengular naga panjangnya sampai ke dalam masjid. Kalau dijadwalkan shalat tahajud dimulai jam 3, jam 1 sudah harus bangun dan siap-siap ngantri. Kalau jam 2 mulai ngantri dijamin masbuk. Gimana ya kalau wudhunya batal, trus harus ngantri lagi…duh.

Sampai saat ini, masjid favorit masih Syamsul ‘Ulum, Bandung :).