Tag Archives: photographs

Menjejak Sejarah di Museum Brawijaya Malang

Aku menjumpainya di sebuah ruang sederhana. Berdinding kuning pucat. Ubin ruangan itu, meski tampak sompal dan kusam karena jarang dipel, masih memperlihatkan wujud asli ubin khas terakota. Mentari pagi masuk melalui jendela tinggi berlukis. Cahayanya langsung membias di wajahnya. Riuh gaduh di ruang sebelah menjalar di ruang tempat aku melihatnya. Tapi, itu seakan tidak mengusikmu. Matamu tajam, menunjuk, menggetarkan suara tegas. Kebaya kartini dan jarik sama sekali tidak menenggelamkan keberanianmu. Bahkan ditengah-tengah sekumpulan pria yang diam.
“Ia…pejuang yang berani hidup. Banyak orang yang berani mati, hanya sedikit orang yang berani hidup. Ia…yang memenggal kepala Gurkha”, kata-kata teman tiba-tiba menyentak. Berani hidup.

edit_MG_3923

edit_MG_3927

Membersamai para abg…tetiba wajah jadi mulus, cerah ceria ๐Ÿ˜€

 

Saya sulit untuk tidak membuat daftar tujuan saat berjalan. Tidak harus detail tapi semua yang di-list harus dikunjungi, dicoba, dirasakan. Jika tidak, saya bisa uring-uringan. Makanya, berjalan dengan teman yg suka spontanitas, sama sekali tanpa rencana, benar-benar bikin saya labil. Kadang happy, kadang dan lebih banyaknya…senewen. Akhirnya uring-uringan. Tapi, sejatinya saya selalu senang berjalan bersamanya. Pagi itu kami berniat menghabiskan sisa hari memutari Malang sebelum kembali ke Jogja-Solo. Saya, secara sepihak, mengajak dua orang teman ke Museum Brawijaya. Kunjungan ke museum adalah it’s a must!!! Untunglah mereka tidak protes dan sepertinya juga suka :D.

Museum Brawijaya ini berdiri di area perumahan model Belanda di Jalan Besar Ijen. Dengan jalan yang luas dan pepohonan teduh di kiri kanannya . Saya membayangkan, di masa lalu tentulah kawasan ini wilayah elit. Masih sangat sejuk. Mobil hilir mudik dengan anggunnya, sering tapi tidak banyak. Fasad museum sederhana saja. Sebuah kolam harus kita titi sebelum masuk ke bangunan utama. Tank dan patung Sudirman menghias sisi depan museum sekaligus ikon gedung ini. Begitu masuk…kami dihadapkan pada sekumpulan anak sekolahan. Fuiiihh…kunjungan ini pasti akan riuh. Dengan 2000/orang, kami bersiap menjelajah museum yang tidak luas ini.

edit_MG_3934

Kamu, bisa menikmati museum dengan cara apa pun…termasuk lesehan dan membiarkan para “penghuni” museum bercerita..

edit_MG_3931

Selalu…ada senjata dalam tiap perang…dengan latar belakang lukisan pertemupran depan gedung Kempetai (sekarang tugu pahlawan)

Museum ini terbagi dalam 5 area, ini sih menurut penjelajahan saya. Ruang utama sebagai pintu masuk yang memajang foto-foto gubernur Jawa Timur dari periode pertama sampai sekarang. Ruang sayap kanan dan kiri yang isinya hampir mirip. Tapi saya lebih suka ruang sayap kanan. Disinilah saya berjumpa Willy dan Soesilawati, anggota Laswi yang pemberani, dalam beberapa carik potongan berita. Yup, museum ini lebih banyak memajang klipping koran yang sudah kekuningan. Selain dua wanita itu, saya bertemu pula dengan ibu Fatmawati yang sedang berpidato di depan ratusan tentara. Sungguh, ini kali pertama saya lihat ibu negara berpidato. Rasanya luar biasa… Sepertinya belum pernah melihat ibu negara pidato apalagi depan tentara.

edit_MG_3930

Jenderal Besar Soedirman semasa muda….duh..jadi deg-degan.. ๐Ÿ˜€

edit_MG_3929

Quote Soedirman “Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, iri hati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan kejujuran”

Adakah sosok pejuang pria yang memikat di sana? Adaaa…astaga Jend. Besar Soedirman masa muda kok ganteng banget yaaa :D…hahaha … Sempat ga habis pikir kenapa rute gerilya Soedirman bisa sampai Malang. Seorang teman yang pernah mengikuti susur rute gerilya Jend.Besar Soedirman mengiyakan…rute gerilya-nya sampai Malang.

Di bagian halaman belakang, masih ada spot menarik yang jadi pusat perhatian pengunjung. Gerbong Maut. Ada satu gerbong kecil, ukurannya mungkin hanya 2×4 meter saja. Menurut plakat informasi, gerbong ini mengangkut 100 pejuang dari penjara Bondowoso ke Surabaya. Begitu melihat lebih dekat ke gerbong, saya langsung merinding. Betapa sumpek dan panasnya di dalam. Sudahlah berjejalan, tanpa ventilasi, berebut tempat berpijak dan udara, panas lagi karena semua terbuat dari besi. Saya yang berjejalan di komuter saat musim liburan dan lebaran aja bengek…apalagi ini. Tercatat, 46 orang meninggal (gila…setengahnya!!!). Sisanya sampai di Surabaya dalam kondisi sakit parah, sakit, dan hanya 12 saja yang sehat. Sedih… ๐Ÿ˜ฆ

Gerbong maut…kata orang…ini yang bikin jadi angker… Kalau kata saya, ini sejarah!!

Museum Brawijaya Malang bisa jadi salah satu tujuan travelling selain kawasan wisata alam. Memang agak sulit kalau kesini karena sepertinya tidak ada kendaran umum yang lalu lalang. Kemarin kami naik taksi, hitungannya jadi murah. Dan karena supirnya baik hati, mau menunggu, kunjungan ke museum tidak banyak menghabiskan anggaran. Ya…masuknya aja murah banget. Sebenarnya, dinaikan tidak masalah jadi sekitar 5-10 ribu supaya bangunan dan koleksinya bisa terawat dan terpajang dengan baik :D. Salam sejarah ๐Ÿ˜€

Cinta, Api, dan Kera Yang Kalem

Mari kita sebut hari itu adalah hari keberuntungan saya, my serendipity day :D. Setelah menelan ludah karena lungsum harian tidak bisa dicairkan hari itu (dan harus menunggu seminggu lagi). Serta janji bertemu narasumber pagi hari harus dijadwal ulang jadi siang hari (dan harus berpanas ria, utara selatan, bolak balik). Ketika sudah tepat waktu, ternyata harus menunggu lagi selama berjam-jam. Kali ini saya pilih menunggu di lobi sambil terkantuk-kantuk. Dan bingung harus menginap dimana karena ada kejadian tak terelakkan di kos sepupu. Seorang kawan lama menawarkan…

“Nginap di hotel sama aku. Kita hang out ampe malem ya”

Ah, tidak perlu berpikir dua kali. Yup!!! Tak berapa lama kemudian, ia mengajak nonton pertunjukan epik Ramayana di Open Theatre Prambanan. Serius???ย Segelas susu karamel porsi gajah yang saya pesan di Kalimilk langsung tandas tatkala menerima tawarannya :D.ย Ini kali kedua saya ke Prambanan bersama seorang kawan lama. Ah, cinta tidak selalu dengan pasangan kan ya. Cinta bisa dibagi dengan seorang dan atau beberapa kawan ;).

Lepas magrib, kami segera meluncur ke barat. Menuju teater terbuka Prambanan.ย Sebelumnya kami reservasi dulu melalui sebuah nomor telepon pengelola untuk memastikan ada tidaknya pertunjukan hari itu dan kursi yang tersedia. Ternyata yang tersisa hanya kursi kelas I, special, dan VIP. Sempat terpikir, turis mana yang menyerbu Prambanan. Secara, nyaris tidak mungkin wisatawan lokal mau melihat pertunjukan ini. Pertunjukan lokal dan tarif yang lumayan mahal untuk turis lokal bukan kombinasi yang menarik kan ya. Walaupun sebenarnya tarif ini cukupย worth it :D. Atau, jangan-jangan ada invasi besar-besaran para bule ke Prambanan??? Ah….itu bisa jadi selingan mata yang menyenangkan :D.

Sampai di lokasi, ternyata sudah ramai oleh…..rombongan anak sekolah!!! Hahahaha…baiklah kali ini selingannya anak-anak SMP. Sayap kiri dan kanan yang notabene adalah kursi kelas II dan kursi student sudah dipenuhi rombongan yang super berisik. Untungnya pilih kursi kelas I karena posisinya di sudut. Jadi bisa melihat pertunjukan dari sudut pandang yang bagus. Tepat jam 20.00 lampu dipadamkan. Dan dengan segera teater sunyi senyap. Tapi, hanya beberapa saat. Rombongan kedua yang menempati kursi VIP dan spesial di samping kami mulai berdatangan tepat MC membuka acara. Kali ini bukan rombongan anak sekolahan tapi….rombongan bule. Hahahaha…..thanks God for this lucky day :D.

Bagaimana ceritanya tidak perlu diceritakan ya. Standar cerita Ramayana. Walaupun ada beberapa bagian yang saya luput dan baru tahu ketika melihat pertunjukan. Ternyata Sita bisa diculik karena iseng minta kijang (suruhan Rahwana). Mungkin dia pikir kijang ini bisa serupa mahar. Padahal dia bisa saja minta keliling dunia 80 hari atau pesiar di gugusan Wayag Raja Ampat. Relatif mudah dikabulkan Rama. Katanya, mahar itu yang memudahkan tho ya. Walah, malah ngelantur. Kijang yang super gesit ini susah sekali dipanah. Demi istri, akhirnya dikejar Rama entah sampai mana. Sita yang tinggal sendirian tanpa pengawalan mudah sekali diculik. Fragmen ini langsung dikomentari kawan, Makanya….jadi istri jangan minta yang macem-macem!!! Bikin perkara aja. Ngakak saya dengarnya.

IMG_2721_EDITDrama ini dibawakan dengan….sangat lambat. Kalau bukan karena penasaran mungkin saya sudah tertidur seperti seorang gadis di depan saya. Suara anak-anak SMP yang awalnya hilang kembali muncul. Tampaknya mereka juga bosan. Penari membawakan drama dengan sangat halus dan lambat, khas tari Solo-Jogja. Sungguh saya tidak bisa membedakan gerakan prajurit Rama, prajuritnya Rahwana, dan kera-kera. Semuanya sama!! Baru kali ini saya lihat kera yang super kalem. Tidakย pethakilanย :D. Untungnya rombongan kera ini dimainkan oleh anak usia SD yang sepertinya tidak peduli mereka sedang dipanggung dan dilihat ratusan orang. Ada yang lihat kesana kemari, ngobrol, bahkan ngupil….hahahaha. Setidaknya,ย soulย kera masih muncul. Kata kawan yang pernah menonton pertunjukan serupa di Uluwatu, gerakan di Bali lebih dinamis dan rancak. Yeah, pakem tari tidap daerah bisa berbeda. Saya membayangkan ini dibawakan penari jaipongan. Ah tentu heboh ;).

Kebosanan saya hampir memuncak tatkala beberapa kera membawa api dalam wadah berbentuk kotak. Mereka mau ngapain??

IMG_2726_EDIT

Oke, si Hanoman loncat ke bara api. Bolak-balik. Lari menaiki tangga sambil bawa obor. Dannn….

IMG_2729_EDIT

Dua buah bangunan beratap daun kelapa kering langsung dibakar. Seketika bangku yang semula dingin langsung terasa panas. Kerennnn. Ini bagian paling epik, seru, dan paling banyak mendapat sambutan penonton. Dalam kisah Ramayana, Hanoman membakar istana Rahwana hingga habis dan prajuritnya lari pontang panting. Dan api pula yang membuktikan cinta serta kesucian Sita dihadapan Rama. Bagian lain yang baru saya ketahui setelah menonton pertunjukkan ini ada di bagian akhir. Ternyata tidak semua prajurit Rahwana jahat. Ada juga yang berhati tulus. Siapa??? Lihat saja ๐Ÿ˜‰ (padahal lupa namanya :P).

Di akhir acara, MC membolehkan penonton foto bersama dengan para penari. Dari jauh Rama itu ganteng banget (yang sayangnya sudah tua :D). Tapi, saya sama sekali ga pingin berfoto sama dia. Target saya ada di atas yang sayangnya diapit banyak bidadari. Saya kalah saing, akhirnya foto bersama…

IMG_2732edit

Usil, lincah, nakal, tukang bakar, dan bau kethek…hahaha

Hanoman dan Rahwana adalah duo penampil favorit saya malam itu. Makasi banyak my lovely friend, Cendrawasih. You really made my day :D. Kapan kita jalan bareng lagi??

IMG_2733edit

 

Menyesap Hitam Pekat Kopi Gianyar

Hari menjelang siang ketika mobil kami berbelok ke sebuah halaman tak berbangunan. Dimana ini? “Kita ngopi-ngopi sebentar ya Saya belum ngopi tadi pagi”. Senyum manisย bliย Tude , supir mobil sewaan sekaligus guide dadakan,ย menjawab kegusaran kami. Pagi, sebelum bergerak, kami sudah wanti-wanti untuk dibawa keliling ke daerah utara. Tempat eksotik yang jarang dikunjungi wisatawan lokal dan gratis!!! Hahaha….nasib jadi traveller kere yang cuman sanggup sewa kendaraan dan makan ala kadarnya. IMG_2168-edited Menurut Aeki-Aice.org, kopi pertam kali masuk ke Indonesia di tahun 1696 oleh Komandan Adrian van Ommen dari Malabar-India. Jenis kopi yang dikembangkan saat itu adalah kopi Arabika dan ditanam di Pondok Kopi-Jakarta Timur. Sayangnya, Pondok Kopi dilanda banjir yang menyebabkan tidak hanya gagal panen tapi…gagal total!! Mati semua. Akhirnya didatangkan lagi bibit kopi di tahun 1699 dan disebarkan ke Jawa Barat, Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Timor. Ternyata, di daerah ini bibit kopi tumbuh dengan subur dan menghasilkan panen yang melonjak. Sehingga, di tahun 1711, Indonesia melalui VOC melakukan ekspor kopi pertamanya. Saat ini, jenis kopi yang dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Arabika dan Robusta. Kopi Gayo, Mandailing, Sidikalang, Toraja, dan Kintamani adalah sebagian kopi Indonesia yang terkenal…..mahal :D. Saya bukan penggemar fanatik kopi. Tapi, tidak pernah menolak suguhan kopi panas, yang hitam pekat dan berampas, atau yang telah dipermanis denganย krimer dan segala rupa rasa-rasa :D. Favorit saya tetap….kopi hitam dengan ampas. Rasanya nikmat tatkala bibir dan lidah bersentuhan dengan sensasi pahit dan manis kopi hitam. Tetiba langsung bersemangat :D. Tambah semangat jika disuguhkan 12 gelas aneka rasa kopi dan minuman lainnya. Gratis!!! Hah??? Yang bener???? IMG_2198-edited Di sepanjang jalan menuju Danau Batur atau jalan antara Tampaksiring-Kintamani banyak bermunculan agrowisata dengan kopi sebagai andalannya.ย Salah satunya adalah Satria Agrowisata. Agrowisata ini memberikan informasi yang menarik tentang kopi dan minuman khas Bali yang berkhasiat bagi tubuh. Informasi ini disajikan secara interaktif, langsung cicip di tempat :D. Lokasinya tidak terlihat dari jalan besar. Kita perlu melewati kebun kecil dengan beragam tanaman bahan baku minuman dan kandang luwak. Sebelum duduk manis menikmati indahnya suasana desa dan aroma kopi, pengunjung bisa melihat aneka biji kopi di sebuah gubuk kecil. Disini kita bisa belajar jenis-jenis kopi dilihatย dari ukuran dan warnanya yang berbeda-beda. Saya pikir, kemana pergi biji kopi ya begitu-begitu aja…hahaha….ternyata warnanya bisa beda-beda. Di gubuk ini, bisa dilihat juga prosesย roasting yang masih sederhana. Kopi dipanggang dalam wajan tembikar di atas bara dari kayu. Kalau melihat hasilnya, dipanggang sampai tingkat kematangan “dark roast”. Hitam pekat. IMG_2173-edited IMG_2176-edited Dari gubuk kecil, lanjut ke gubuk kecil lainnya :D. Nah, di sini sudah disiapkan 12 gelas minuman olahan produksi Satria Agrowisata. Sebenarnya ini tester untuk memperkenalkan produk mereka. Setelah minum kepingin beli, merea seneng dong ya :D. Kalau tidak beli juga rapopo :D. Ada apa aja? Lihat langsung deh. IMG_2187-editedSilahkan dicicipi kopi moka, kopi gingseng, kopi kelapa, kopi vanilla, bali cocoa/coklat, kopi bali, sari manggis, lemon grass tea, rice tea, rossela tea, apa lagi ya….lupa…hahaha. Yang jelas enak-enak. Saya paling suka kopi Bali, rice tea, dan bali cocoa. Bali cocoa rasanya persis dengan choco drink-nya Cadburry :D. Ada lagi yang spesial….kopi luwak. Dari yang penampilannya bikin jijay…. IMG_2166-edited Jadi segelas kenikmatan tiada tara…..hahahaha

IMG_2195-edited

Lihat….busa kopinya masih ada, pinter yang buat ๐Ÿ˜€

Jadi, Satria Agrowisata juga menyediakan Kopi Luwak produksi sendiri yang sudah diekspor ke Russia. Di flyer mereka, pilihan bahasanya hanya 2, Indonesia dan Russia…hahaha. Kalau yang lain gratis, kopi luwak ini tidak gratis. Secangkir 50.000. Termasuk murah dibandingkan kalau sudah masuk ke kafe-kafe. Dan ternyata…..menikmati kopi tanpa gula lebih nikmat. Beneran :P. Jadi ya, kopi luwak ini saya cicipi dengan 2 metode. Dengan gula dan tanpa gula. Sungguh lebih nikmat tanpa gula. Rasanya lebih asam dibanding kopi biasa tapi lebih ringan. Dan sama sekali tidak meninggalkan rasa perih di lambung. ย Menurutย guide dari Satria, kandungan kafein di kopi luwak lebih sedikit dibanding kopi biasa. Dan menikmati kopi tanpa gula jauh lebih sehat dibanding dengan gula. Selepas dari sini, kalau buat kopi, takaran gulanya selalu saya kurangi. Beneran enak. Mmmmm…tapi tidak berlaku untuk JJ Royal Coffee…masih berasa pahitnya :D.

Jadi, ngopi-ngopi yuk sambil ngobrol-ngobrol ๐Ÿ˜€

Menikmati Bandung Dari Menara Kembar

Lanjut postingan tentang flazz trip ke Bandung ya. Umm…ralat, seputaran alun-alun Bandung…hehehe. Ternyata jalan sendirian itu ada asyik dan ada ga asyiknya juga. Luntang lantung sendirian, ga ada temen ngobrol, ga bisa foto-foto cantik :D, dan dilihatin terus…#ah_perasaan_dek_ina_aja #holang_beken :D. Kalau jalan bareng harus bisa menyesuaikan satu dengan lainnya. Tidak bisa memaksa harus kesana harus kesini.

Lepas dari Gedung Asia Afrika, saya melipir ke Masjid Rayaย Bandung. Sebenernya waktu dzuhur masih agak lama tapi kaki sudah pegel. Mau istirahat sambil makan-makan juga belum laper. Lihat menara di masjid….*cling cling* ke atas aja yuuuk :D. Ini solusi ampuh buat yang pingin lihat Jawa Barat (ga cuman Bandung) tapi ga punya waktu banyak dan udah pegel banget :D.

Oya, buat kamu yang lagi jalan di Bandung dan bawa bawaan yang lumayan berat dan merepotkan tapi masih pingin jalan-jalan. Bisa deh tasnya dititipkan di masjid :D. Sebenarnya tempat penitipan sandal dan sepatu tetapi mereka tidak keberatan dititipi tas. Mungkin sudah maklum ya, pengunjung masjid rata-rata bawa belanjaan banyak…hehehe. Ada 3 tempat penitipan, di sisi timur (depan pintu masuk utama), sisi selatan (depan Yogya mall), dan sisi utara (depan kantor pos). Karena masuk dari arah utara saya menitipkan tas di sisi utara. Gratissss…tapi tidak ada salahnya masukin lembaran ribuan ke kotak infak sebagai rasa syukur tas kita dijagain dengan baik. Nah, kalau naik kereta api, tas bisa dititipkan di mushola stasiun (sisi utara). Dulu ada loker khusus di sisi selatan. Sayang kemarin sudah tidak ada lagi. Penitipan di mushola juga saya baru tahunya setelah jalan-jalan *tahu gitu kan nitip disini…:(. Sama seperti di masjid raya, ini hanya penitipan sandal/sepatu. Untungnya bapak-bapak penjaga baik-baik. Jangan khawatir, tas dijaga dengan baik dan dikasih nomor. Penjaganya juga pegawai KAI kok karena mereka pakai ID Card KAI :D.

Di antara masjid raya yang pernah saya kunjungi, Masjid Raya Bandung ini yang paling rame. Ramai orang pengajian, ramai orang diskusi, ramai orang leyeh-leyeh, ramai juga yang jualan makanan :D. Tidak di halaman, tidak di teras, penuh sama penjual makanan. Mulai dari mie kocok, pecel, batagor, gorengan, nasi padang pun ada, minuman pun komplit :D. Itu yang mangkal di emperan ya, belum lagi yang mobile. Huwaa….rame!!!ย Walaupun ramai penjual, teras masjid tetap bersih. Tidak tahu ya yang di halaman/lapangan. Piring makan dialasi daun pisang/kertas makan jadi tidak perlu cuci-cuci piring. Minum pun disediakan dalam wadah sekali buang. Harganya….errrrr…saya tidak tahu karena cuman beli minum air mineral gelas seharga 1000 perak dan tahu sumedang seharga 500/biji…hehehe.

IMG_1467-edited

Sekedar duduk-duduk di teras sambil selonjoran dan lihat tingkah laku kanan kiri yang sebagian besar warga Bandung seru juga. Beneran menghibur. Dari cara penjual memanggil dan melayani, ketahuan deh ramahnya beneran ramah. Walau ada selipan SKSD kayak “Bu hajiiii!!!!…eta saha yak. Oya bu haji Johaaaannnnn, sini buuuu!!!”…hihihi. Terus tidak ada cerita maksa-maksa beli. Lumayan lama saya duduk di antara penjual tanpa berniat beli dan mereka sama sekali tidak menawarkan :D.

IMG_1465-edited

Hari itu sedang ramai pengajian ibu-ibu. Oh my….baru sekali itu saya lihat secara langsung ibu-ibu pengajian dengan model hijab, aksesoris, dan pakaian seperti di tipi-tipi…hahaha Biasanya cuman lihat ibu-ibu pengajian kampung yang modal jarik sama abaya dan jilbab standar aja. Biarpun style beda, semangat ikut pengajiannya itu doooonnggg…acungin jempol banyak-banyak :D.

Masjid Raya Bandung ini punya 2 menara kembar, di sisi utara dan selatan. Tapi kemarin yang dibuka hanya menara sisi selatan. Mau naik??? Buat kamu yang mukanya masih mut-imut kek pelajar, 2000 aja. Yang sudah agak “matang” dan kelewat “matang” 3000 deh. Yang bawa-bawa dan ngaku-ngaku turis (sebenernya agak ga jelas juga yang dimaksud turis inih. :)) 5000 fix ga boleh nawar. Murah kannnn… Mana bisa sesuka hati mau seberapa lama di atas :D. Sayangnya di atas menara tidak ada kafe seperti di MAJT dan bisa muter-muter. Lebih mirip ke gardu pandang . Kalau diisi orang 15 aja sudah berasa sumpek. Untungnya kemarin cuman ada saya dan 2 orang anak sekolahan. Katanya tinggi menara dihitung dari fondasi mencapai 99 meter tapi yang kelihatan di permukaan hanya 81 meter. Kalau tinggi-tinggi bisa mengganggu lalu lintas penerbangan. Dari menara kelihatan lintasan pesawatnya yang kalau ditarik garis lurus sekitar 2 km. Tapi kalau dihitung dari nomor lift ada 19 tingkat. Si Aa penjaga lift bilang tingginya 19 meter…hihihi….ga salah, tergantung dari perspektifnya siapa :D.ย Di seputaran alun-alun ini hanya ada 2 bangunan tinggi, menara masjid dan gedung BRI.

IMG_1459-edited

Bisa lihat apa aja dari menara….wah…..sepertinya nyaris semua. Berhubung pengetahuan saya tentang Bandung cetek banget, jadinya mepet-mepet si anak sekolahan yang sibuk tebak-tebakan gedung. Dari hasil nguping dan tanya-tanya, bisa kelihatan Gasibu dan Gedung Sate. Di garis horizon bisa lihat deretan pegunungan sisi selatan (kampus dulu dooongg….hahaha) dan sisi utara. Seharusnya kelihatan juga Tangkuban Perahu tapi tidak tahu yang mana :D.

IMG_1455-edited

Yang jelas…..Bandung padat bangettttttt. Rumah, toko, mall, perkantoran mepet-mepet deh. Dan ternyata Bandung tidak seperti Jakarta yang penuh gedung pencakar langit. Dari menara ini, saya belajar peta Bandung radius 1 km….ooo kalau mau kesana , bisa lewat sana sana sana. Jalan kaki ternyata deket aja :D.

collage bandung

Trus, dari atas menara juga kelihatan bagian masjid yang lama dan bagian masjid yang baru. Dulu waktu jaman kuliah belum ada menara dan alun-alun belum dipagari. Sekarang sudah ada penambahan selasar karena ruang utama masjid tidak cukup untuk menampung jemaah. Bagian yang ditambah itu, kalau dari atas ditandai dengan ada lengkungan warna biru. Kalau dari dalam, kalau tidak salah ditandai dengan ruang pengurus masjid.

IMG_1457-edited

Puas di atas dan kebetulan mau masuk waktu dzuhur, turun deh. Ruang wudhu dan toilet lumayan bersih. ย Ada penjaga perempuan, yang saya ga habis pikir kok bisa ya makan depan toilet…:D. Dan baru kali ini saya ke masjid dengernya lagu Katty Perry bukan muratal…hihihihi. Dibandingkan masjid agung lain, interior Masjid Raya Bandung ini sangat sangat sederhana. Tidak banyak ornamen. Kecuali mozaik di sisi atas. Mungkin masjid ini lebih diutamakan fungsinya sebagai tempat ibadah apa pun bentuknya dari pada tempat wisata yang cuman dikunjungi sesekali *lirik masjid yang penuh emas-emas :D*

IMG_1472-edited

IMG_1469-edited

IMG_1431-edited

The World Goes to Bandung…Aku jugaaa !!!

Apa yang membuatmu kembali ke bandung??? Kulinernya yang special? Suasananya? Distro, FO, apa pun namanya yang penting puas bela-beli the latest fashion :D? Kenangan manis yang tertinggal disana *euwwwww?? Kalau untuk saya, yang bisa membuat saya kembali ke bandung adalah ditugaskan!! Hahahaโ€ฆmemang ogah rugi banget. Sejak lulus kuliah, baru 3 kali saya kembali ke Bandung. Itu pun setelah 6 tahun hengkang :D. Dan ketiganya diakomodasi pihak lain, heheheโ€ฆ. Yang pertama bareng rombongan kantor kakak yang rutenya sudah default. Yang kedua ditugaskan kantor dan sempat melipir bertiga sama teman kantor. Dan yang ketiga (semoga bukan yang terakhir :D), minggu lalu. Sebenarnya acara berlangsung di Lembang selama 3 hari. Hari terakhir saya bela-belain pulang naik kereta terakhir, pisah dengan rombongan karena mau jalan-jalan dulu. Sayang, sudah jauh-jauh jadi sekalian dicapekkin :D.

Sebelum berangkat sudah melist tempat-tempat yang akan dikunjungi. Apa daya, ternyata Bandung masih macet yaโ€ฆhikssโ€ฆlangsung jiper. Bisa-bisa terlambat sampai stasiun. Dan lagiiii….astagadragon…kenapa ini backpack tiba-tiba jadi berat *arggghhhh*?? Kombinasi usia dan jarang olahraga bikin acara hang out agak keluar dari rencana. Ya sudahlah, ikuti kaki sanggupnya melangkah kemana *buang jauh-jauh list destinasi*. Rencananya kemarin mau ke Taman Hutan Raya Juanda di daerah Dago, Museum Geologi (punya kenangan manis disana, jadi pingin balik lagi…ihirrrrr), Museum Pos Indonesia, Palasari, Kantor Pos Besar, dan Museum Asia-Afrika. Lihat-lihat situasi akhirnya jalan di sekitaran stasiun hingga alun-alun aja (bilang aja mau ke Pasar Baru…hehehehe). Saya hanya punya waktu 7 jam sebelum kereta berangkat.

Tetep yaaaa....di Bandung itu, konferensi jadi konperensi!! Pake "P" ceunah....qiqiqi...Untungnya Afrika-nya bener :D

Tetep yaaaa….di Bandung itu, konferensi jadi konperensi!! Pake “P” ceunah….qiqiqi…Untungnya Afrika-nya bener ๐Ÿ˜€

Cerita tentang Museum Asia-Afrika dulu yaaa. Dua tahun yang lalu sempat kesini tapi tidak masuk karena sudah tutup. Sengaja datang pagi-pagi pas jam buka museum, jam 09.00 am. Yang ternyata saya barengan rombongan anak SD *phewwww* Untungnya mereka briefing lumayan lama di ruang konferensi jadi bisa keliling tanpa suara berisik… :D. Apa yang bisa dilihat disini??? Sebenarnya tidak terlalu banyak produk yang dipajang, lebih banyak foto dan poster. Tapiiii….it hides many story behind :). Setidaknya saya lebih memahami arti Konferensi Asia Afrika di sini, dibandingkan dari text book :D. Dari sini saya bisa lihat, ternyata Soekarno sangat visioner, membenci imperialisme, dan menyukai networking dengan negara-negara yang mayoritas senasib sepenanggungan dengan Indonesia. Pidatonya….weiitzzzz…bacanya saja sudah bikin merinding apalagi kalau dengar langsung.ย Ia memiliki kemampuan mengajak tanpa memaksa. Membuka mata siapa pun yang mendengarkan bahwa apa yang ia katakan itu benar dan nyata. Kalau ingin berubah maka kita harus bergerak. Jika kita tidak bisa berjuang sendirian, ajaklah kawan. Dan ternyata, Indonesia itu berperan besar bagi kemerdekaan negara-negara lain.

Sebelum tahun 50-an hanya sedikit bangsa yang merdeka dan lepas dari kolonialisme. Indonesia, Filipina, Vietnam, Pakistan, Birma, India, Tiongkok, dan Ceylon (ceylon itu dimana ya???). Nah selepas KAA, semakin banyak negara yang merdeka. Sebagian besar di kawasan Afrika. Juga termasuk Malaysia dan Singapura. Hebat ga tuh Indonesia. Sepertinya yang cocok jadi duta (polisi) perdamaian dunia adalah Indonesia karena sudah terbukti dan teruji puluhan tahun. Bukan negara yang sekarang kali ya…hehehehe… Dan lagi, semua ketua komite berasal dari Indonesia. Ada 3 komite saat pertemuan KAA, politik, ekonomi, dan kebudayaan. See….bagaimana kemerdekaan itu dicapai dengan cara-cara damai. Bukan dengan pertumpahan darah. Jepang yang dulu pernah menjajah kita aja ikutan dalam pertemuan perdana KAA. Sudah insyaf :D.ย Negara peserta KAA yang cukup bikin mata zoom in zoom out selain Pakistan adalah Afghanistan dan Ethiopia. Oh my…ternyata kita punya relasi yang sangat lama dengan mereka. Jadi ingat di salah satu bukunya, Agustinus pernah bilang, teh terbaik yang digemari di Afganistan adalah teh dari Indonesia. Dan di sana ada daerah bernama Soekarno meski penduduk sekitar tidak tahu siapa ia. Ah…ternyata mereka sahabat lama kita :).

Saat pertama masuk, kita diminta mengisi buku tamu. Freeeeee….alias gratis. Syukur-syukur kita dipandu dengan petugas yang ramah bangetttt. Saya dipandunya setelah keliling sendirian karena saat itu hanya ada 2 petugas yang lagi on duty. Tidak perlu memberikan tips karena memang dilarang :D. Si ibu yang jaga sempat bengong lihat saya datang sendirian. Hahaha…jadi inget waktu jalan sendirian malam-malam di Kuta. Responnya sama, “Ga takut mba???”. Dengan pede-nya bilang orang Bandung baik-baik jadi ga ada yang perlu dikhawatirkan (kenyataan memang begitu kan yaaa :D). Hasilnya…saya bisa nitip backpack yang berathhh ituhhh di kolong meja :D.

Ruang pertama yang wajib kunjung adalah ruang konferensi. Isinya masih asli, kecuali beberapa ubin yang sudah mengalami pergantian. Kursi-kursinya masih yang sama, masih empuk, dan boleh diduduki :D. Membayangkan, dulu yang duduk di kursi ini delegasi dari negara mana ya :D. Di bagian depan selain bendera-bendera delegasi juga ada gong perdamaian. Bentuk gong ini persis banget dengan yang di Taman Pintar Jogja. Ruang konferensi terbagi dua lantai. Lantai pertama khusus delegasi dan lantai kedua khusus wartawan. Sayang tidak diijinkan naik ke lantai 2.

Ruang konferensi, bayangim mereka dulu duduk di sini dan membicarakan tentang perdamaian dunia :D

Ruang konferensi, bayangim mereka dulu duduk di sini dan membicarakan tentang perdamaian dunia ๐Ÿ˜€

Kursi milik MPRS....masih inget ga sapa MPRS :D

Kursi milik MPRS….masih inget ga sapa MPRS ๐Ÿ˜€

Dari ruang konferensi bisa pilih mau keluar masuk ruangan di gedung atau langsung ke ruang pamer tetap. Gedung KAA ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jabar (sisi barat) dan Kementerian Luar Negeri (sisi timur). Selain ada pameran tetap tentang KAA juga ada pameran tematik, tergantung siapa penyelenggaranya. Saat saya datang kemarin tidak ada pameran tematik.

IMG_1401 edited

Indonesia di tengah-tengah nasib bangsa lain ๐Ÿ˜€

IMG_1343-edited

Sebagian besar kemerdakaan negara-negara di Afrika karena peran Indonesia ๐Ÿ˜€

IMG_1356-edited

Default-nya museum di Indonesia, pasti deh ada furniturenya ๐Ÿ˜€

IMG_1384-edited

Yeayyyy….wilujeng sumpinnnggg…mangga mangga ๐Ÿ˜€

IMG_1379-edited

Sebagian besar eksebisinya berupa foto dan poster. Di ujung kanan ituuuu…alat cetak foto. Ga kebayang gimana dulu cetaknya

Ada sisi yang menarik juga lho dari perhelatan KAA tahun 1955 itu. Sebagian besar gedung di sekitar gedung KAA turut andil, mulai dari hotel Preanger yang sekarang masih beroperasi sampai Hotel Swarha yang sekarang sudah spooky banget. Menjelang acara ternyata ada delegasi yang mengalami kecelakaan. Pesawatnya jatuh di Kepulauan Natuna, so sad:(. Yang unik lagi, sebagian besar negara-negara yang muncul saat KAA tidak pernah kedengaran lagi. Ada yang pernah dengar negara Tuvalu?? Dimana coba tuh negara. Mana benderanya aneh-aneh warna dan motifnya. Sempat diceritain, sebelumnya foto Soekarno tidak ada di gedung ini padahal beliaulah pencetus ide konferensi. Baru dipasang setelah ditegur Nelson Mandela…qiqiqi

Hotel Swarha yang udah spooky...sayang banget

Hotel Swarha yang udah spooky…sayang banget

IMG_1393-edited

Toiletnyaaaa….masih seperti yang dulu…errr…kecuali ubinnya ๐Ÿ˜€

Dannnn….pemandu saya kali ini adalah Pak Kudrat, pegawai Kemenlu yang ternyata orang Banyumasan. Jadilah dia ber-Jawa ria dan saya ber-Indonesia ria :D.

IMG_1416-edited

Pak Kudrat…maturnuwun ya paaakkk