Tag Archives: pantai

Short Trip (Part 2): Ngobaran, Pantai Rasa Jogja Bali

Udah cerita dong ya short trip yang cuman setengah hari di part 1. Kalau belum dibaca, monggo dibaca dulu :D.

Walaupun sudah direncanakan jauh-jauh hari, saya tetap lupa bawa kamera…sigh. Akhirnya selama trip kemarin cuman poto-poto pakai kamera henpun Gal-ACE. ย Dan ternyata poto pakai kamera henpun di tengah hari bolong itu susaaaahh banget. Ga kelihatan layarnya sama sekali. Jadi ga tahu obyek yang mau dipoto sudah pas belum posisinya. Blur ga. Dan ga bisa setting macem-macem. Hanya bisa setting normal. Mau buat poto panorama pun ribet. Ga kepikiran deh mau di setting yang lain. Begitu lihat hasilnya…lah kok begini begono. Tapi lumayan lah…hehehe. Daripada saiyah manyun aja :D. Malah ada objek yang baru kelihatan pas lihat hasil jepretan. Keknya pas mau bidik ga lihat objek ini…hihi. Kurang tahu ya, yang buat layar henpun tidak terlihat di bawah matahari langsung itu apa. Apa memang kelemahan Gal-ACE seperti itu atau karena saya pakai anti spy. Ga ngerti deh…

Jadiiii…kelar makan dan sudah pada kenyang. Ga ngomel-ngomel lagi karna kelaparan. Kita lanjut ke Ngobaran. Pantainya dekat, sebelah-sebelahan. Hanya dipisahkan tebing saja. Tidak sampai 1 km rasanya. Pantai Ngobaran ini ternyata ada dua sisi. Begitu masuk, serasa bukan di Jogja. Tapi di Bali !!! Sisi pertama ini bentuknya tebing tinggi. Kita berada persis di atas tebing. Nah, di pinggir tebing ini ada pura yang masih digunakan umat Hindu. Dimana coba bisa ketemu pantai yang ada puranya kecuali di Bali :).

Puranya bukan yang ini, ada di sebelahnya tapi ga di poto :)

Puranya bukan yang ini, ada di sebelahnya tapi ga di poto ๐Ÿ™‚

Ga lupa deretan patung-patung yang saya tidak tahu apa saja kecuali Ganesha. Di bawah patung-patung tidak ada keterangan nama kecuali tulisan seperti “bakti”, “satya”, dan lainnya. Lupa :D.

Deretan patung-patung. Masih ada lagi di sekitarnya

Deretan patung-patung. Masih ada lagi di sekitarnya

Agak ke pinggir tebing, kita bisa lihat ombak yang menghantam tebing. Cukup aman karena ada pagar pembatas tapi di beberapa sisi tidak ada. Buat saya yang orangnya kikuk harus ekstra hati-hati. Sebenarnya ada tangga batu menuju ke bawah, ke sisi tersembunyi tebing. Pengunjung bisa kesini tapi ya itu..hati hati yaa kalau ga mau disambut batu batu besar.
Nah dipinggir tebing ada patung seperti Garuda Wisnu Kencana yang menghadap lautan lepas. Mungkin GWK yang di Bali kalau sudah jadi bentuknya seperti ini ya. Versi mininya. Pas mau bidik saya pikir hanya patung Garuda biasa saja. Pas lihat hasilnya..kok ada kaki dan kepala. Ternyata oh ternyata. Yang agak bikin bingung, ni statue Hindu kok ada stupa stupa mini ya. Bukannya identik dengan Budha. Saya yang salah kali ya. Tetap terlihat indah kok.

Hati-hati kalau mau turun ya

Hati-hati kalau mau turun ya

Patung ular di kanan kiri

Patung ular di kanan kiri

Garuda Wisnu Kencana. Baru kelihatan ada kepala dan kaki pas edit :D

Garuda Wisnu Kencana. Baru kelihatan ada kepala dan kaki pas edit ๐Ÿ˜€

Stupa??

Stupa??

Disisi ini ga bisa main main pasir. Harus naik ke atas terus turun. Dan taraaaaaa….beautiful isn’t??

Cantiiikkkk...subhanallah. Pingin langsung kipik kipik di air :D

Cantiiikkkk…subhanallah. Pingin langsung kipik kipik di air ๐Ÿ˜€

2013-03-19 15.08.08

Damai ya kelihatannya ๐Ÿ˜€

Pantaiiii….Pasirnya hasil pecahan batu karang dan karst jadi enak diinjak. Ga bikin susah ngeersihin. Ombaknya ga besar dan sudah pecah duluan. Asyik buat berenang.
Jalan jalan di era digital ini meurut saya kurang asyik. Di tambah waktu perjalanan yang singkat. Tidak bisa menikmatiiii…huaaa… Lebih banyak jeprat jepret sana sini. Pingin hening sesaat disana. Mendengarkan deburan ombak. Merasakan hembusan angin. Membaui laut. Ahh…tidak bisa. Balik lagi apa ya :D.ย Satu yang bikin heran, kenapa tiap kali ke pantai di daerah Gunung Kidul ini pasti hujan rintik rintik. Pas di Ngrenehan ya gerimis. Pulangnya hujan deras yang horor banget. Mungkin karena pas masih musim hujan aja ya.

Advertisements

Short Trip (part-1): Berburu Lobster di Ngrenehan

Jadi, mana lobsternya?? Ga adaaa…hehe

Niatnya mau melipir sebentar cari spot-spot cantik di seputaran Jogja.ย Minggu kemarin pada sepakat mau main ke Pantai Indriyani. Tapi apa di kata, yang dinanti tak kunjung terlihat batang hidungnya. Padahal dia tumpuan harapan satu-satunya tim kisruh…hihi. Bubar jalan deh rencana kita. Satu-satu anggota mulai gelisah. Hilir mudik sana sini. Saya yang awalnya anteng- kalau datang yuk jalan, kalau ga datang ya sudah- jadi ikut-ikutan resah. Memang benaran tim bikin kisruh deh. Menjelang siang pun ga nongol-nongol, sampai ada yang usul ke Pantai Depok aja yang dekat buat “tombo loro”. Dari pada beneran bubar. Begitu mau siap-siap, yang dinanti datang juga. Yeayyyy….alhamdulillah, mashadi datang juga

Jadi main ke Indrayani dong?? Gaaaa…hihihi

Sudah terlalu siang, kasian emak-emak kalau pulangnya kemalaman. Mana pun tim kisruh ini isinya dari lanjut usia sampai yang imut-imut kek sayaย  muda. Kalau kita yang muda-muda sih ayuh ayuh aja. Akhirnya pun, masahadi mengusulkan ke Ngrenehan dan Ngobaran. Mulai dong ya dia promo ini itu. Ga lupa promo lobster yang katanya segar-segar dan terjangkau. Kita yang dengerin cuman plonga plongo sambil ngences langsung teriak YAAAA!!!

Jadinya ke Ngrenehan dan Ngobaran nih? IYAAAAA… Pasti?? PASTIIII!!!!

Dua pantai ini letaknya berdampingan hanya dibatasi tebing tinggi nan curam. Lokasinya sebelum Baron, Krakal, Kukup, dan kawan-kawan. Pantai-pantai di pesisir Gunung Kidul ini memang sejalur dengan karakter hampir-hampir mirip. Ombak tidak terlalu tinggi/besar dan dikelilingi bukit karst. Sedaaappp semua. Saya tidak cerita bagaimana jalan kesini ya. Petunjuk di sepanjang jalan jelas dan banyak kok. Yang penting sabar aja. Karena objek yang bagus itu biasanya tersembunyi dan penuh perjuangan :D. Pemandangan sepanjang jalan tidak cuman cakeppp tapi juga unik. Mulai dari penjaja belalang -itu belalang gendut-gendut, jadi ingat nyonya rumah suka belalang goreng :D- deretan pohon jati, sampai perkebunan penduduk. Gunung Kidul memang susah air ya. Itu pipa air gede banget dan panjannggg. Ga tau di mana awal dan akhirnya. Ukuran pipanya seperti pipa minyak. Tekstur tanahnya batuan kapur jadi hanya bisa untuk tanaman yang tidak boros air. Singkong dan kacang jadi pilihan utama. Sepanjang jalan banyak pohon singkong yang sudah kebayang enaknya kalau dibikin tiwul, direbus, atau digoreng sambil minum teh gula batu. Cessss…nom nom ๐Ÿ˜€

Berhubung sepanjang jalan bayangin makanan terus. Semua kelaparan. Kita putuskan ke Ngrenehan dulu. Di sini ada pelelangan ikan dan los pasar ikan segar. Losnya sedikit aja tapi cukup komplit. Bawal putih, layur, cakalang, tongkol, kakap, pari, dan ikan-ikan lainnya yang ga saya kenal. Bisa beli mentah langsung atau minta mereka olah. Umumnya digoreng dan nanti bisa diolah lagi di warung makan. Sayang kemarin ga ada lobster. Udang pun tak ada. Susah kali ya dapetinnya. Pas lagi nunggu makanan matang ada nelayan yang lewat bawa gurita. Hmmm…langsung pingin ngebakar…qiqiqi… Sebenarnya pingin pari juga, digoreng tepung sepertinya enak. Tapi khawatir yang lain pada ga mau. Akhirnya beli bawal putih, cakalang, dan layur. Dibonusi ikan bulet merah, ga tahu apa namanya.

Look!! No wave at all. Pingin langsung nyemplung :D

Look!! No wave at all. Pingin langsung nyemplung ๐Ÿ˜€

Karena konsepnya pelelangan ikan jadi lebih terkesan seperti desa nelayan tapi banyakan warung makannya :D. Pinggir pantai penuh kapal. Saya pikir bibir pantainya masih jauh jadi bisa main-main air sebentar. Ga tahunya, begitu jalan ke kapal terdepan udah langsung air dalam aja. Weee…. Ga landai ternyata pantainya. Ga bisa main pasir deh. Tapi airnya cukup tenang karena berada di cekungan. Jadi ombaknya sudah pecah duluan sebelum masuk pantai. Asyik :D. Kanan kirinya tebing tinggi dan hijau. Seperti pantai Parang Gesing cuman lebih sempit cekungannya.

Tebing di sisi kiri

Tebing di sisi kiri

Tebing di sisi kanan. Sedapppp

Tebing di sisi kanan. Sedapppp

Jangan bayangin warung makan disini seperti restoran ya. Seperti di Pantai Depok atau Parangtritis, Beneran warung. Kecil-kecil dan sempit. Tapi ibu-ibu yang jualan ramah-ramah. ย  Banyak kamar kecil juga yang cukup bersih. Jadi jangan khawatir kalau kebelet :D. Berhubung tiap kamar kecil tidak ada penjaga atau kotak amal, tapi ditulisin kamar mandi/toile umum. Saya sarankan kasih sedikit tips ya. Hitung-hitung ucapan terima kasih sudah bisa menyalurkan hajat dengan baik :). Dan kalau menawar ikan segar jangan sadis-sadis. Kasihan nelayannya. Pas kita datang, mereka ngelihatin dengan wajah…gimana yaa. Ga tega rasanya. Ya, ga bisa dipungkiri harga di daerah wisata kadang lebih mahal. Konsekuensi yang harus kita tanggung. Tapi kalau terpaksa menawar, tawarlah dengan bijak aja ya :).

Lihat perahu kek gini, masih berani nawar sadis?? Tega. Yang bijak yaa

Lihat perahu kek gini, masih berani nawar sadis?? Tega. Yang bijak yaa

Kelar makan. Yang mana ikannya enak semua walau cuman digoreng. Masih segar soalnya. Kecuali layurnya. Nyesel minta si ibu ngolah lagi jadi layur masak asam pedas. Rasa asli layurnya jadi hilang :(. Kita lanjut ke Ngobarannnn. (lanjut part 2 yaaa)

Another Trip to Beach: Pantai Gesing

Jalan-jalan tanpa rencana. Tidak tahu jalan. Tidak punya ekspektasi apa pun. Ngikut aja sama tuan rumah. Dan begitu sampai tujuan melihat yang wowww…. Itu sesuatu banget :D.

Jadi ceritanya penghuni kantor diundang syukuran nikahan salah satu pegawai honorer. Yang mana acara syukuran itu tentunya memang dinanti-nanti. Makan gratis sudah pasti dong ya. Tapi kalau acaranya di desa yang sangat melipir di puncak bukit itu lain ceritanya. Dari kantor saya sudah membayangkan suguhan masakan ndeso plus teh panas manis kenthelll *ampun dah, belum nyumbang udah mikir makan…qiqiqi*. Sungguh saya suka itu. Dan alhamdulillah ya yang punya hajat pengertian banget. Jauh-jauh dari Yogya ke Kecamatan Panggang, Gunung Kidul langsung disuguhi Gathot, tape ketan, mbili, emping, sayur lombok ijo, mie lethek, ga lupa teh panas….nyammmm….yummeahhh…. Beneran enak. Lewat deh tuh menu-menu wedding di gedung-gedung…qiqiqiqi… Selesai makan dan ludes semua suguhan, pada masih ogah-ogahan pulang. Kapan lagi bisa ngumpul semua teman-teman kantor. jadi diputuskanlan untuk jalan-jalan sebentar. Pilihan pertama ke pantai Indrayati, tapi jauuuuuuuhhhh. Akhirnya tuan rumah ngusulin ke Pantai Gesing.

Pantai Gesing?? Saya belum pernah denger!

Tapi yang namanya pantai. Saya sungguh cintaaa… Langsung menyala-nyala matanya kalau dengar kata pantai. Beachlovers banget :D.

Pantai Gesing ini masih di Gunung Kidul. Di daerah Girikarto. Kalau ditarik dari Yogya kira-kira perjalanannya kurang lebih 1,5 jam. Ga jauh ya. Lewatnya dari Imogiri. Terus naik ke Pandak. Habis itu ga tahu lagi kemana…hehehe… Penumpang yang baik cukup menikmati perjalanan saja. Ga usah bawel daripada diturunin. Sepanjang jalan pemandangannya bagus. Jalannya juga bagus. Hanya tidak terlalu lebar. Naik turun. Banyak tanjakan. Tapi pemandangan sepanjang jalan itu…..manissssss…. Deretan pohon jati. Kebetulan pas lewat lagi gugur. Batu-batu gamping. Ada bekas bangunan lama juga, mirip benteng di pinggir jalan. Cakep buat poto-poto wedding…. :D. Begitu masuk ke jalan menuju pantai, kanan kirinya swah dan kebun aja tuh. Jalannya kecil. Saya sempat khawatir juga, ni jalan bener ga sih. Kok dari tadi tidak kelihatan tanda-tanda ada pantai. Sawah melulu yang isinya batu-batu aja. Gunung Kidul ini kenapa isinya batu semua ya. Alhamdulillah ga lama lihat deretan pohon kelapa…waaaa pertanda ni. Aromanya juga udah aroma laut….segerrrrr….. Pas belokan, whaaaaa….langsung biruuuuu….. Ternyata kita di atas bukit. Jadi kalau ke pantainya harus turun bukit dulu. Cakep deh dari atas

Penampakannya seperti Uluwatu. Jadi Pantai Gesing ini menjorok ke dalam cekungan bukit batu. Mungkin jaman duluuuuuu bukan pantai, tapi bukit batu. Karena kena ombak terus menerus akhirnya terkikis jadilah cekungan. Hehehe…analisis bego-bego an nih. Menurut saya sih bener *teteuuuppp* Soalnya tekstur pasirnya besar dan tidak lengket seperti di pasir Pantai Parangtritis. Seperti pecahan batu kecil-kecil. Begitu di injak, kaki langsung ndelesp…tenggelam …tapi ga meninggalkan bekas pasir. Kanan kirinya bukit karang batu. Ombaknya ga tinggi. Cocok buat berenang, tapi sampai jarak tertentu saja.

pasirnyaaaa…..penuh kerang dan koral….sukaaaaa

Pantai Gesing ini sebenarnya pantai nelayan. Banyak perahu-perahu nelayan dan pelelangan ikan. Saya rekomendasikan kalau kesini jalan-jalan di pinggir pantai ya. Jangan ke pelelangan ikan, bau amis soalnya. Karena bukan obyek wisata juga, jadinya agak kurang keurus ya. Buktinya ga ada pos retribusi seperti pantai-pantai pada umumnya. Masuk gratis. Keluar gratis. Ga di pungut biaya parkir juga. Di sisi kiri pantai, bagian bawah bukit sudah terkikis yang bisa kita jelajahi sampai ย ke tiang penanda tinggi gelombang. Sayangnya kemarin tidak sempat melihat dari atas bukit. Ternyata di sebelah pantai gesing juga ada pantai lain yang ga tahu apa namanya. Mana pas lagi mendung…baru sebentar udah rintik-rintik. Itu air ujan…rasanya kok asin yaa…qiqiqiqi. Ga lupa kebiasaan setiap ke pantai…mungutin kerang, batu, patahan coral. Kurang pasirnya ๐Ÿ˜ฆ

Oya, ini poto-poto diambil pake kamera henpun trus di edit pakai aplikasi Fotor di Android.

Trip to Pari Island

pantai pasir perawan…bisa jalan ampe ke pulau kecil…ga dalem kok ๐Ÿ™‚

Ga tahu kenapa, si ABG ndut ini selalu sukses meracuni para hippies@office buat jalan-jalan ga tentu arah dengan bujet terbatas di saat tanggal tua dan ga ada honor dari sana sini. Padahal saya sudah putus asa ngajakin jalan sana sini dan cuman jadi bahan obrolan aja. Kurang bukti apa ya. Soalnya si ABG suka kasih bukti poto-poto dan segudang bualan cerita karena dia dah pernah kesana. Dan rayuannya itu…maut banget. Pernah si ABG ngajakin arung jeram di Gua Pindul, sayang ga bisa ikutan. Begitu liat poto-poto dan gombalan dia, nyeselnya ga ketulungan. Dan tampak tidak mungkin bisa ke sana lagi.

 

 

Kali ini si ABG sukses ngeracuin para hippies jalan ke Pulau Pari. Yang diracunin sesepuhnya dulu, karena paling ga tahan godaan jalan dan siap nanggung semua akomodasiย pinter ngeracunin ABG polos lainnya. Jadilah kita, 7-hippies, bersuka ria di pulau yang katanya landscapenya mirip ikan pari. Continue reading

Tak Gendong, Kemana-Mana

Uji nyali menyeberangi lautan

Saya tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Terbersit pun tidak. Di Bali lagi. Kalau di kota lain mungkin, tapi ini di Bali !! Tempat semua penduduk dunia menuju.

Perjalanan kali ini bertujuan ke Nusa Penida. Saya dan rombongan transit di Sanur. Saya tidak punya ekspektasi apa pun pada perjalanan kali ini. Pasrah dibawa kemana saja sama leader-nya. Dan leader-nya pun tidak memberikan gambaran yang jelas, sama-sama tidak punya informasi tentang lokasi yang dituju.

Lagian mau cari kemana, mbah google tidak memberikan informasi yang mencerahkan. Tiap search Nusa Penida, yang muncul Lembongan lagi Lembongan lagi (jadi 4L yah…hehehehe). Karena tidak punya pandangan apa pun, saya pilih pergi ala backpacker. Beruntungnya saya…ternyata kondisi perjalanan lebih menguntungkan bagi “penggendong” daripada “penggeret”.

Sebenarnya banyak pilihan ke Nusa Penida. Bisa melalui Pelabuhan Padang Bai di Klungkung, Tanjung Benoa, atau Sanur. Tidak ada cruise-cruiseยญ-an karena Nusa Penida memang belum menjadi tujuan wisata utama. Mungkin karena fasilitas dasar disana belum mencukupi kebutuhan pelancong seperti air, listrik, dan telepon. Kalau ada investor yang berani, hasilnya akan jauh lebih maju dibanding Nusa Lembongan.


Tenang ya yam...jangan ampe mabuk laut ya yamm

Akhirnya kami nurut aja sama leader-nya, berangkatlah kami melalui Sanur. Ternyata dari penginapan ke pelabuhan, nau’zubillah jauhnya. Ada kali 1 kilo. Berasa makhluk aneh, pagi-pagi “gendong” dan “geret” di tengah turis yang lari pagi. Beruntung pemandangannya bagus, pas matahari terbit. Baru ketahuan kenapa pasir di depan hotel/cottage cantik-cantik. Ternyata memang dibuat garis-garis, lengkung-lengkung, bulat-bulat, sama petugasnya. Jadi ga enak nginjeknya…hehehe..
Tiap lihat dermaga, saya jingkrak “Itu yaaaa???”. “BUKAN!!”. Berkali-kali liat dermaga dijawab bukan. Sampai kemudian lihat loket tiket. “NIIII…DISINI”. Trus, mana kapalnya??? Alamakkkkk…bukan kapal, tapi perahu. Dan tidak bersandar di dermaga, tapi di lepas pantaiiii…OH NOOOO. Saya bengong lihat penumpang naik. Aduh…basah-basahan sampai pinggang (itu yang tingginya kira-kira 160cm). Tiba-tiba ada yang menghampiri. “Gendong, gendong….5000 saja”, Jadi ingat pengalaman Trinity. Siapa sangka saya juga bakal ngalamin, tapi di negeri sendiri…hadohhh. Saya pilih digendong aja daripada basah-basahan dan tidak tahu apa yang akan saya temui di tempat tujuan nantinya. Pilihan gaya gendongnya ada di pundak dan ala penganten baru.

Perahu ini lebih mirip jukung untuk menyeberang di sungai. Atapnya sangat rendah. Bangkunya dari papan-papan yang dijejer. Penumpang boleh duduk dimana saja mereka suka. Didalam, ga panas tapi agak pengap dan bau muntah (yekkkkk….). Di belakang, ga panas tapi berisik dengar motor perahu dan bercampur sama karung, koper, tas, bahkan ayam. Atau di atas, panas dan berangin, bisa langsung nyebur kalau ada apa-apa. Sebagian besar pilih di atas. Menyeberang lautan luas dengan perahu yang minim fasilitas penyelamatan ini benar-benar uji nyali. Terasa sekali ombak menghantam perahu, bahkan sampai nyiprat-nyiprat ke dalam. Iri rasanya lihat cruise hilir mudik mengantar bule-bule dan wisatawan berkantong tebal. Sedangkan penduduk lokal hanya bisa menikmati fasilitas ala kadarnya. Mana sanggup mereka mengeluarkan ongkos cruise yang mahal sedangkan profesinya hanya pedagang, peternak, petani, dan buruh kasar. Mungkin baru kali ini mereka lihat ada yang mau naik perahu. Kelihatan dari pandangan aneh. Beruntung sesama Indonesia, jadi enak ngobrolnya :). Kalau disuruh pilih, tidak ada yang mau naik perahu ini. Tapi ya emang ga ada pilihan lain. Alhmadulillah sekarang di Nusa Penida ada pelabuhan yang bisa bersandar kapal roro. Sayangnya, kapal ini baru melayani trayek Nusa Penida-Padang Bai. Lha dari Klungkung ke kota Bali kan perlu biaya lagi. Susah lho cari transportasi darat di Bali, angkutan umumnya sedikiiiitttt. Taksi dan persewaan mobil/motor lebih laris. Pulangnya kami coba naik kapal roro. Lebih nyaman, hantaman ombak tidak terlalu berasa. Tidak pakai basah-basahan. Penumpangnya sedikit. Tapi ya pengeluarannya jadi banyak buat sewa mobil ke kota Bali.

Mudah-mudahan pemerintah pusat dan daerah termasuk juga investor mau lebih memikirkan fasilitas transportasi untuk penduduk lokal. Tidak hanya memanjakan wisatawan. Rasanya kita tidak ingin terjadi musibah di tengah laut. Dan saya tidak mau basah-basahan lagi kalau mau ke Nusa Penida (turun dari perahu saya terpaksa basah-basahan, beruntung tidak sedalam di Sanur).

For your information:
* Trayek Sanur-Nusa Penida ada di jam-jam tertentu, Saya naik yang jam 07.00 waktu Bali. Harga tiket Rp.30.000 waktu tempuh 2 jam.
* Trayek Nusa Penida-Padang Bai jam 12.00 waktu Bali. Harga tiket Rp. 14.000, waktu tempuh 1,5 jam.