Tag Archives: lovely friends

Jatuh Cinta Pada Morris Traveller

Ketika banyak pejalan yang menuliskan harapan tentang Indonesian Tourism di awal tahun 2015 ini, saya justru harus berjibaku menuliskan perjalanan 2014 yang tertunda. Mari tuntaskan. Bukankah ini juga bagian dari kebanggaan akan Indonesian Tourism versi abal-abal dari saya. So, let’s speak out :D.

edit_MG_3818

Sebagiann besar mobil jadul yang dipamerkan bermerk Ford…jadi inget replika mobil ini yang sudah hancur lebur di tangan pricils 😦

Kunjungan ke Museum Angkut Malang yang terletak di Jl. Terusan Sultan Agung 2, Kota Wisata Batu Malang, ini sebenarnya tanpa rencana. Asal nyomot aja. Hanya ini satu-satunya destinasi yang terlintas di pikiran begitu tiba di Stasiun Kota Malang. Setelah beberapa opsi tampak tidak mungkin terlaksana karena waktu yang singkat, lokasi yang jauh, sudah dikunjungi, murah meriah (penting :D). Dan beruntungnya kami, seorang rekan menawarkan mobilnya untuk dipakai (tentunya ia turut serta). Awalnya malu-malu kucing, lama-lama jadi malu-maluin karena kita pake mobilnya ga kenal waktu. Kelayapan sendiri dan membiarkan ia bersama keluarga kecilnya nungguin kami selesai muterin area museum yang luas banget. Sungguh tidak berperi-perjalanan, sangat tidak layak ditiru, kecuali kamu emang ga punya malu 😀

edit_MG_3823

Dibayar berapa pun ga mau naik sepeda ini…gimana cara ngayuhnya coba..udah lah ga ada sadel, pedalnya di roda depan, panjang lagi…berat euyyyy..

edit_MG_3802 Ternyata kami tiba terlalu dini. Wahana museum baru dibuka untuk pengunjung jam 11.00. Jadilah kami memutari area foodcourts dan souvenir yang tidak terlalu luas tapi didesain sangat menarik. Area ini berupa panggung kayu yang dipercantik dengan kanal mungil. Pengunjung bisa mengitari foodcourts dengan sampan kecil. Dari pandangan sepintas, saya menduga museum ini tidak luas. Kesan itu semakin menguat ketika saya memasuki museum. Begini doang?? Hall luas bertingkat dua dengan jejeran motor dan mobil jaman dulu. Yah, masak begini aja museumnya. Bagus sih mobil dan motor yang dipajang. Beberapa adalah kendaraan yang mempunyai nilai sejarah bangsa ini. Tapi…kok begini aja. Akhirnya kami naik ke lantai dua. Area ini memamerkan alat angkut tanpa mesin. Mulai dari sepeda angin dari kayu, pedati, hingga alat angkut yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ada juga spot interaktif bagi pengunjung untuk mengetahui suara jenis-jenis motor, arti sinyal kereta, dan sebagainya. Terus mengeksplor lantai dua dan sampai di pintu “keluar”. Udah gini aja? Rasa kecewa mulai merayapi hati. Kaki mulai gontai menuruni tangga. Dan tiba-tiba…..wowww…mata langsung dimanjakan area outdoor dengan nuansa pecinan tempo doeloe. Ternyata, museum ini menyimpan bagian “wow”nya secara khusus. Baiklaaa…mari menjelajah dengan senyum terkembang dan langkah kaki yang lebih bersemangat. edit_MG_3831

edit_MG_3830

Tuan Ong…soedah lama sadja menoenggoe soerat toean. Oetang toean soedahlah banjak. Djangan kirim soerat lagi, kirim doeit sadja. Tolong toean transfer ya. Itoe lebih tjepat dan terdjamin!!!

Museum Angkut ini dibagi dalam beberapa area tematik. Area hall di awal bisa dikatakan sebagai area pemanasan. Setelah keluar hall, kita akan menemui area pecinaan dengan rupa-rupa toko jaman dulu beserta gerobaknya dan…mmmm…angkutan yang tidak terlalu banyak. Spot menarik disini adalah kantor pos yang memajang surat-surat yang tidak sampai ke penerima. Geli deh baca suratnya, mulai dari yang berbahasa daerah sampai ejaan lama. Dari urusan remeh temeh sampai masalah asmara dan utang piutang :D. Setelahnya kita akan temui area Broadway, pusatnya gangster-gangster, yang dibuat terbuka. Kemudian lanjut ke area Eropa dengan konsep indoor. Ini area yang paling saya suka. Ga panas soalnya…hahaha… Suasananya juga remang-remang jadi berkesan romantis…hihihi… Alat angkut yang dipamerkan di sini kebanyakan mobil Eropa. Ada juga truk pengangkut replika gentong-gentong bir. Lucu dan terkesan country. edit_MG_3848

edit_MG_3859

Dengan angle yang tepat, seharusnya terlihat seperti duduk-duduk cantik di cafe Paris ya 😀

Keluar dari area Eropa, kita langsung disuguhi halaman Buckingham. Kalau tepat ambil spot untuk foto, bisa dikira beneran di Buckingham lho. Di dalam “istana Buckingham” dipajang mobil dan bus khas Londong tak lupa Ratu Elizabeth yang duduk dengan anggun. Area Buckingham yang berkonsep aula istana ini lebih cocok untuk pengunjung cilik karena lebih luas bisa untuk lelarian, dalam ruang, an ada wahana maknanya.

edit_MG_3863

Travelling paling asyik bareng mate yang lucu…sabar…dan sayang ama kita…#eaaaa

Saya suka dengan konsep Museum Angkut ini. Sangat interaktif. Sejujurnya, semua wahana di bawah manajemen Jatim Park ini bagus semua. Mulai dari tata letaknya, keramahan petugasnya, sampai kebersihannya. Dan tarifnya tidak terlalu mahal. Di sini pula saya bertemu Morris Traveler yang seketika langsung jatuh cinta. Untuk urusan travelling, sebenarnya saya pingin mobil sport yang gede garang. Tapi begitu lihat si Morris yang imut dan tampak lugu ini jadi pingin :-D.

edit_MG_3845

Muach..muachh..mmmmuachhhh…

Suguhan yang menarik ketika keluar museum adalah….lorong menyerupai gerbong kereta jaman dulu. Semakin nyata dengan suara jesss…jesssnya, goyangannya, dan pemandangan dari jendela yang bergerak. Salut buat pengelola Museum Angkut :-P.

Advertisements

Cinta, Api, dan Kera Yang Kalem

Mari kita sebut hari itu adalah hari keberuntungan saya, my serendipity day :D. Setelah menelan ludah karena lungsum harian tidak bisa dicairkan hari itu (dan harus menunggu seminggu lagi). Serta janji bertemu narasumber pagi hari harus dijadwal ulang jadi siang hari (dan harus berpanas ria, utara selatan, bolak balik). Ketika sudah tepat waktu, ternyata harus menunggu lagi selama berjam-jam. Kali ini saya pilih menunggu di lobi sambil terkantuk-kantuk. Dan bingung harus menginap dimana karena ada kejadian tak terelakkan di kos sepupu. Seorang kawan lama menawarkan…

“Nginap di hotel sama aku. Kita hang out ampe malem ya”

Ah, tidak perlu berpikir dua kali. Yup!!! Tak berapa lama kemudian, ia mengajak nonton pertunjukan epik Ramayana di Open Theatre Prambanan. Serius??? Segelas susu karamel porsi gajah yang saya pesan di Kalimilk langsung tandas tatkala menerima tawarannya :D. Ini kali kedua saya ke Prambanan bersama seorang kawan lama. Ah, cinta tidak selalu dengan pasangan kan ya. Cinta bisa dibagi dengan seorang dan atau beberapa kawan ;).

Lepas magrib, kami segera meluncur ke barat. Menuju teater terbuka Prambanan. Sebelumnya kami reservasi dulu melalui sebuah nomor telepon pengelola untuk memastikan ada tidaknya pertunjukan hari itu dan kursi yang tersedia. Ternyata yang tersisa hanya kursi kelas I, special, dan VIP. Sempat terpikir, turis mana yang menyerbu Prambanan. Secara, nyaris tidak mungkin wisatawan lokal mau melihat pertunjukan ini. Pertunjukan lokal dan tarif yang lumayan mahal untuk turis lokal bukan kombinasi yang menarik kan ya. Walaupun sebenarnya tarif ini cukup worth it :D. Atau, jangan-jangan ada invasi besar-besaran para bule ke Prambanan??? Ah….itu bisa jadi selingan mata yang menyenangkan :D.

Sampai di lokasi, ternyata sudah ramai oleh…..rombongan anak sekolah!!! Hahahaha…baiklah kali ini selingannya anak-anak SMP. Sayap kiri dan kanan yang notabene adalah kursi kelas II dan kursi student sudah dipenuhi rombongan yang super berisik. Untungnya pilih kursi kelas I karena posisinya di sudut. Jadi bisa melihat pertunjukan dari sudut pandang yang bagus. Tepat jam 20.00 lampu dipadamkan. Dan dengan segera teater sunyi senyap. Tapi, hanya beberapa saat. Rombongan kedua yang menempati kursi VIP dan spesial di samping kami mulai berdatangan tepat MC membuka acara. Kali ini bukan rombongan anak sekolahan tapi….rombongan bule. Hahahaha…..thanks God for this lucky day :D.

Bagaimana ceritanya tidak perlu diceritakan ya. Standar cerita Ramayana. Walaupun ada beberapa bagian yang saya luput dan baru tahu ketika melihat pertunjukan. Ternyata Sita bisa diculik karena iseng minta kijang (suruhan Rahwana). Mungkin dia pikir kijang ini bisa serupa mahar. Padahal dia bisa saja minta keliling dunia 80 hari atau pesiar di gugusan Wayag Raja Ampat. Relatif mudah dikabulkan Rama. Katanya, mahar itu yang memudahkan tho ya. Walah, malah ngelantur. Kijang yang super gesit ini susah sekali dipanah. Demi istri, akhirnya dikejar Rama entah sampai mana. Sita yang tinggal sendirian tanpa pengawalan mudah sekali diculik. Fragmen ini langsung dikomentari kawan, Makanya….jadi istri jangan minta yang macem-macem!!! Bikin perkara aja. Ngakak saya dengarnya.

IMG_2721_EDITDrama ini dibawakan dengan….sangat lambat. Kalau bukan karena penasaran mungkin saya sudah tertidur seperti seorang gadis di depan saya. Suara anak-anak SMP yang awalnya hilang kembali muncul. Tampaknya mereka juga bosan. Penari membawakan drama dengan sangat halus dan lambat, khas tari Solo-Jogja. Sungguh saya tidak bisa membedakan gerakan prajurit Rama, prajuritnya Rahwana, dan kera-kera. Semuanya sama!! Baru kali ini saya lihat kera yang super kalem. Tidak pethakilan :D. Untungnya rombongan kera ini dimainkan oleh anak usia SD yang sepertinya tidak peduli mereka sedang dipanggung dan dilihat ratusan orang. Ada yang lihat kesana kemari, ngobrol, bahkan ngupil….hahahaha. Setidaknya, soul kera masih muncul. Kata kawan yang pernah menonton pertunjukan serupa di Uluwatu, gerakan di Bali lebih dinamis dan rancak. Yeah, pakem tari tidap daerah bisa berbeda. Saya membayangkan ini dibawakan penari jaipongan. Ah tentu heboh ;).

Kebosanan saya hampir memuncak tatkala beberapa kera membawa api dalam wadah berbentuk kotak. Mereka mau ngapain??

IMG_2726_EDIT

Oke, si Hanoman loncat ke bara api. Bolak-balik. Lari menaiki tangga sambil bawa obor. Dannn….

IMG_2729_EDIT

Dua buah bangunan beratap daun kelapa kering langsung dibakar. Seketika bangku yang semula dingin langsung terasa panas. Kerennnn. Ini bagian paling epik, seru, dan paling banyak mendapat sambutan penonton. Dalam kisah Ramayana, Hanoman membakar istana Rahwana hingga habis dan prajuritnya lari pontang panting. Dan api pula yang membuktikan cinta serta kesucian Sita dihadapan Rama. Bagian lain yang baru saya ketahui setelah menonton pertunjukkan ini ada di bagian akhir. Ternyata tidak semua prajurit Rahwana jahat. Ada juga yang berhati tulus. Siapa??? Lihat saja 😉 (padahal lupa namanya :P).

Di akhir acara, MC membolehkan penonton foto bersama dengan para penari. Dari jauh Rama itu ganteng banget (yang sayangnya sudah tua :D). Tapi, saya sama sekali ga pingin berfoto sama dia. Target saya ada di atas yang sayangnya diapit banyak bidadari. Saya kalah saing, akhirnya foto bersama…

IMG_2732edit

Usil, lincah, nakal, tukang bakar, dan bau kethek…hahaha

Hanoman dan Rahwana adalah duo penampil favorit saya malam itu. Makasi banyak my lovely friend, Cendrawasih. You really made my day :D. Kapan kita jalan bareng lagi??

IMG_2733edit

 

Senja di Delfshaven

“Pegang erat tanganku ya. Jangan sampai lepas. Aku akan membawamu ke tempat dimana matahari sejenak enggan bersinar. 11 ribu kilometer lebih dari sini. Aku tidak tanggung kalau kau lepaskan tanganmu.”

Aku hanya diam menggangguk mendengar kata-katanya. Tak sanggup berkata-kata. Seperti ada kodok yang melompat-lompat dalam perutku. Belum sempat mataku berkedip, tetiba kakiku bergetar. Bukan karena hentakan tangannya. Bukan karena pusaran yang menyedotku. Tapi karena apa yang yang ia katakan nyata di depanku. Tuhan…ini lebih dari indah.

2014-05-14 08.24.55

Pagi hari, 14 Mei 1940, tidak ada yang menyangka akan datangnya serangan dari Luftwaffe (AU Jerman) yang berniat menginvasi Belanda. Jerman memborbardir tanpa ampun dari pagi hingga menjelang senja. Waktu yang sangat singkat untuk meluluhlantakkan Rotterdam (jurus perang kilat Jerman, Blitzkrieg). Seketika, Rotterdam menjadi inferno versi Jerman. Pilihan yang cerdik untuk melumpuhkan Belanda karena Rotterdam adalah pusat dan gerbang pelabuhan internasional. Markas VOC ada disini. Bisa jadi, kehancuran infrastruktur yang parah di Rotterdam menghentikan invasi Belanda ke negara-negara jajahannya termasuk Indonesia. Errrr…..haruskah berterima kasih ke Jerman???

Tidak ada yang berbekas disini sehingga pemerintah secara bertahap membangun fasilitas baru dengan arsitektur yang unik dan menarik. Sebut saja Office of Unilever Bestfoods, Kubiswoningen, Erasmus Bridge, Montevideo, dan macam-macam lainnya. Tunggu…..tidak ada yang tersisa??? Tidak!!! Sisi selatan Rotterdam selamat dari serangan. Inilah Delfshaven masa dulu dan kini. Nyaris tidak ada yang berbeda. Masih dengan jejeran bangunan khas abad 17 yang masih bertahan. Di paling ujung adalah Windmill yang dibangun tahun 1722 dan dibangun kembali tahun 1940. Mungkin di masa itu adalah bangun tertinggi yang terlihat jelas oleh Jerman sehingga jadi sasaran empuk.

Dank Je Raniiii…. :D. Kartu ini, biarpun menimbulkan kesan yellow mellow, aku suka bangeeettt. Suatu saat nanti, temani aku menyusurinya di saat senja ya. Aku janji akan genggam tanganmu selalu :D.

Sources:

 

 

Temple Hop

Berjodoh itu kalau….pingin jalan-jalan tapi agak malas karena ga ada teman jalan, tiba-tiba ketemu teman jalan yang seide, mau capek, mau jalan kaki, ga ngeluh. Ahhh….klik banget :D.

Minggu lalu saya dikirim kantor ikutan workshop yang saya superblank di ruangan. Topiknya bagus, favorit saya jaman kuliah bahkan jadi basis riset tugas akhir. Berhubung teknis banget yang dibahas, pesertanya banyakan operator/teknisi, dan saya lama tidak bersentuhan lagi…jadinya plonga plongo aja. Untungnya Tuhan menyelamatkan saya *ga kabur pas acara…hahaha*. Ketemu teman yang sudah 5 tahun ga ketemu, sekaligus tiga!! Senangnyaaaaa… *peluk ira, peluk nayla, tujes unggul…qiqiqi* Dan berkat mereka, saya jadi paham apa yang dibicarakan. Dan berkat mereka pula, saya jadi ada teman jalan….yeayyyy :D.

Karena Ira belum pernah ke Yogya dan ngidam Borobudur serta candi-candi lainnya. Saya sudah lamaaaaaa tidak ke Borobudur *terakhir SD…qiqi* dan pingin balik kesana lagi. Akhirnya ke sepakat temple hop by public transport…qiqiqi.  Capek. Tapi Asyik. Lecet-lecet. Tapi seru. Kelaparan. Tapi takjub…hahaha

So..here are the temples 🙂

Candi Mendut dan Vihara Graha Vipassana Avalokitesvara

Yup, ini candi pertama yang kita datangi. Lokasinya kira-kira 2 km sebelum Borobudur.  candi ini juga termasuk candi Budha. Saya tidak terlalu paham perbedaan candi Budha dan Hindu. Patokan saya cuman, kalau candi Budha bentuknya mblenuk-mblenuk apa yaa…gendut-gendut dan melebar. Kalau candi Hindu bentuknya ramping dan menjulang seperti pura. Candi Mendut sendiri dibangun di jaman dinasti Syailendra dan baru ditemukan tahun 1836. Candi Mendut menjadi tempat yang sakral dan hadirdDalam upacara ibadah umat Budha. Seperti saat Waisak kemarin. Karenanya di dekat candi ada Vihara. Sempat masuk ke sana tapi tidak sampai ke pelataran dalam. Tidak enak mengganggu meditasi para bikhu dan bikhuni.

Candi Mendut dan beberapa sisa reruntuhan

Candi Mendut dan beberapa sisa reruntuhan

Tampak depan, abaikan penampakan mereka-mereka ya :D

Tampak depan, abaikan penampakan mereka-mereka ya 😀

Salah satu relief, tidak tahu maksudnya apa, tapi suka lihat posisi Budha seperti itu :)

Salah satu relief, tidak tahu maksudnya apa, tapi suka lihat posisi Budha seperti itu 🙂

Patung Budha tidur di pelataran vihara. Di dalamnya ada ptung lain, katanya hibah dari kerajaan Thailand

Patung Budha tidur di pelataran vihara. Di dalamnya ada ptung lain, katanya hibah dari kerajaan Thailand

Candi Pawon

Belum pernah dengar Candi Pawon kann?? Hehe…sama dong. Mayoritas visitor hanya tahu Candi Mendut dan Candi Borobudur. Padahal ada trio candi yang mungkin di masa dulu saling terhubung. Lokasinya nyempil di pemukiman penduduk. Ukurannya tidak terlalu besar tapi sudah tercatat di Unicef bersama kedua candi lainnya. Kata Pawon berasal dari kata Pe-Awu-An atau tempat menaruh abu jenazah. Di masa dulu dijadikan tempat menaruh abu. Tapi saya tidak tahu di sebelah mana abu ditaruh karena di dalam candi lompong aja, tidak ada tempat khusus.

Candi Pawon, imut-imut candinya :)

Candi Pawon, imut-imut candinya 🙂

Candi Borobudur

Ini rajanya candi-candi :D. Besar dan luasss. Saya membayangkan jalan ke candi jauh banget. Belum lagi mendaki tangga ke puncak, stupa teratas. Pasti capek. Ternyata ga tuh. Tidak tahu apakah karena ada perubahan jalur visitor atau karena datang pas sudah gede, bukan anak-anak lagi…hehehe. Selalu takjub lihat candi Borobudur. Membayangkan datang kesini sebelum pagi sempurna. Tidak melakukan apa pun, cuman duduk lihat perbukitan. Ahhh….rasanya pasti damaiiiii banget 🙂

Dulu waktu kecil, saya suka masuk-masukin tangan ke dalam stupa untuk memegang tangan Budha. Katanya abang saya, kalau bisa menyentuh berarti cita-citanya terkabul…hahaha. Bodoh banget deh. Sekarang saya lihat, tangan Budha di dalam stupa mayoritas sudah tidak ada. Sudah patah-patah. Apa karena banyak yang masuk-masukin tangan seperti saya *jaman kecil* ya. Sedih lihatnya.

Borobudur....the great one :)

Borobudur….the great one 🙂

Rasanya damaiiiii banget....

Rasanya damaiiiii banget….

Salah satu relief yang tidak tahu artinya apa :(

Salah satu relief yang tidak tahu artinya apa 😦

Candi Prambanan

Candi terakhir, tapi langsung 1000 candi…hahaha. Yang masih utuh sekitar 6 candi, satu diantaranya terpisah lokasinya. Namanya candi Sewu, masih di kompleks candi Prambanan tapi berjarak kurang lebih 300 m dari kompleks candi utama. Jadi ada 5 candi di kompleks utama, yang terbesar adalah candi Siwa. Kalau 4 candi di sekitarnya hanya berisi 1 arca. Sedangkan candi Siwa berisi 4 arca di tiap sisinya, arca Siwa, Ganesha, satu lagi lupa, dan pastinya Durga atau Roro Jonggrang. Sungguh saya baru tahu kalau arca Durga berdiri di atas sapi setelah lihat hasil jepretan :P. Setelah gempa tahun 2006 kemarin, ada bagian-bagian candi yang rusak, runtuh, dan mungkin kurang stabil. Jadi untuk memasuki candi Siwa harus antri (dibatasi maksimal 15 orang) dan harus pakai helm. Kelihatan retakan-retakan di dinding canding yang direkatkan dengan bahan khusus. Disini juga ada museumnya. Dan saya baru tahu ternyata candi-candi ini tidak ditemukan utuh. Nyaris runtuh….tuh..tuh. Besar kemungkinan arsitektur yang ada sekarang bikinan manusia jaman pasca penemuan. Bentuk aslinya tidak terlihat. Yang menarik di candi ini reliefnya. Saya melihat relief didominasi hewan seperti kancil, sapi, garuda, dara, merak, monyet, dan lainnya. Maksudnya apa…hehehe…tidak tahu. Dibandingkan kawasan wisata candi Borobudur, saya melihat kawasan wisata Prambanan lebih tertata dan rapi. Petugas lebih ramah dan banyak tour guide-nya. Lebih nyaman disini :D.

Prambanan....anggun :)

Prambanan….anggun 🙂

Candi Siwa, dilihat dari candi....mmmm...apa ya...hahaha, payah ah

Candi mmm…apa ya…hehe …dilihat dari candi Siwa

The beautiful and mistify  of Durga (Rara Djonggrang)

The beautiful and mistify of Durga (Rara Djonggrang)

Yeaayyy…..itu hasil temple hop kita. Makin asyik karena ditemeni si kuning cerewet dan teman ketemu di jalan…Aniiii… Makasi Ani, jadi bisa sharing anggaran jalan-jalan ni…qiqiqi..

Temen jalan ajaib kita...dan sukses bikin anak SD ngeliatin...hahaha

Temen jalan ajaib kita…dan sukses bikin anak SD ngeliatin…hahaha

 

Dan Segalanya Luruh Bersamamu

Aristoteles mungkin sedang menggigau ketika mengatakan sahabat adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Dia mungkin rada rada sinting kali ya. Bukannya one soul in two bodies itu para suami istri. Para pejalin cinta. Yang setiap getar getar pada kekasihny juga ia rasakan. Saya pikir begitu. Dan kata-kata Aristoteles hanyalah sekedar quote, kata-kata mutiara.

Ternyata tidak.

Nasib menjadi nomaden. Tidak pernah bisa punya sahabat yang bisa langsung kamu tatap matanya. Kamu pegang tangannya. Atau kamu rangkul. Kamu peluk. Kamu kecup pipinya. Semuanya jauh. Saya di Solo. Mereka di kota lain. Konsekuensi logis yang harus dihadapi saat kehidupan berkembang. Sahabat sahabat saya bukanlah makhluk statis. Mereka dinamis. Bergerak mengikuti irama kehidupan yang Tuhan takdirkan. Bukan yang kita rencanakan.
Sejauh apa pun mereka berada, entah mengapa saya merasa seperti terjalin secaa batin. Tiba tiba merasakan ada sesuatu yang tidak beres nih dengannya. Atau sebaliknya, mereka merasakan sesuatu yang ga bener dengan saya. Acapkali feeling itu benar. Teramat sering terjadi. Entah mengapa.

Tatkala sahabat memutuskan hal terbesar dalam hidupnya. Merencanakan sesuatu dan menjalaninya. Kerap merasakan, it will gonna be not good. Ingin melarang tapi rasanya tak bijak. Dan ketika kekhawatiran benar benar terjadi. Ingin rasanya ngomong, aku bilang juga apa kamu g mo denger sih. Itu ga hanya ga bijak. Tapi juga tolol bin dungu. Dinamika persahabatan mengharapkan kita menghormati keputusannya. Mendukung ia kala keputusannya membawa angin buruk. Menyemangatinya kapan pun. Jangan pernah mengatakan siap jadi tempat bersandar. Percayalah saya itu sulitttt. Tapi…ya harus berusaha untuk siap.

Malam ini, seorang sahabat akan meninggalkan tanah air. Berkumpul dengan suaminya. Ia mengucapkan selamat tinggal tapi saya menolak ucapan perpisahannya. Karena dari dulu kita sudah berpisah jarak. Hanya sekarang lebih jauuuuhh. Saya yakin suatu saat akan menatap matanya lagi. Langsung. Hingga masanya tiba, cukup bersyukur dengan kemudahan komunikasiSungguh saya bersyukur Tuhan mempertemukan saya dengannya, 13 tahun yang lalu, dalam lingkaran iman. Walau selepasnya kita banyak berbuat konyol dibandingkan teman-teman lain…qiqiqi. Ia tahu bagaimana saya, ga seperti yang orang lain duga. Saya menikmati obrolan ngalor-ngidulnya. Obsesi kita menjadi kurus langsing nan aduhai…qiqiqi. Yang semuanya gagal total…hahaha… Lah, dari pagi sampai malam yang diobrolin makanan terus. Gimana mau langsing coba…qiqiqi. Berbagi impian. Sungguh ia tidak tertawa dengan impian saya yang ajaib-ajaib..:D. Yang lebih berarti, ia dan seorang sahabat lainnya menemani saya di saat-saat sulit. Itu semua dilakukan hanya melalui sms, chat, dan jarang sekali telpon :D.

Mereka, sahabat yang luar biasa. Betapa anugerah terindah dari Tuhan. Semoga rasa ini tidak hilang. Bahkan semakin kuat. Bukan rasa untuk memiliki, tetapi rasa untuk saling berbagi. Thanks to be my soulmate :).

2013-03-09 09.50.03