Tag Archives: jakarta

Penyeberangan Lokal yang Gile Benerrrr

Ini kali kedua sekaligus kali ketiga saya melintasi lautan naik kapal non-roro. Kapal jenis jukung yang harus dikocok-kocok luar dalem. Bikin basah dan bikin aroma minyak kayu putih beredar yang akhirnya pada jackpot hoek hoeeekkk. Goyangannya ngalahin naek roller coaster ato ontang anting. Tiap melakukan penyebrangan beginian, saya ga pernah bilang babe. Bisa spot jantung and ga tidur sampe saya pulang…qiqiqi…
Kali pertama saya nyebrang ke Nusa Penida (silahkan mampir disini ๐Ÿ™‚ ). Minggu lalu saya nyebrang ke Pulau Pari di Kepulauan Seribu. Sama-sama 2 jam dan sama-sama ga karu-karuan asyiknya. Lupakan tentang perjalanannya karena rasanya tergantung cuaca dan angin. Dan sungguh tidak beruntung, angin kemarin bikin goyangan kapal makin ngeborr dan memabukkan. Jadi tidak perlu dibayangkan dan diceritakan lagi gimana rasanya naik perahu atau jukung melintasi lautan, karena rasanya….yaaa begitulah (sambil mijit mijit kepala..). Continue reading

Left? Right? Who Knows??

Bajaj, satu-satunya yang bikin saya terkesan sekaligus ngangeni. Jakarta tanpa bajaj, seperti Jakarta tanpa Monas.

Semakin sering ke Jakarta, semakin sering pula saya bercinta dengan bajaj. Taksi di Jakarta bagi saya terlalu luxurious. Terpaksa naik kalau tidak tahu jalan. Saya sangat menikmati naik bajaj. Walau berisiknya ga karu-karuan. Jalannya yang bikin spot jantung. Asap kendaran lain selalu masuk. Dan serba ketidaknyamanan lainnya, bajaj tetap bikin saya cinta.

Tawar menawar

Setiap naik bajaj, rasanya ga afdhal kalau ga nawar meski kita tahu tarif “biasanya”. Kadang saya suka geli lihat teman yang nawar sampai ogah rugi. Seorang teman yang hapal bajaj, hampir selalu tahu tarif bajaj dari dan ke titik tertentu. Meski sudah ditawar, tarif yang berlaku nyaris serupa, 10.000. Pembukaan pertama 15.000. Walau ngotot nawar di bawah 10ribu tetep sepakatnya di titik aman 10. lama-lama jauh dekat bisa-bisa 10ribu nih.

Left? Right? Who knows?

Kita tidak pernah tahu kapan belok kiri, belok kanan, bahkan berbalik arah. Spot jantung ga hanya untuk pengendara lain tapi juga penumpang di dalam. Only driver and God who know when it turn!!! Tiba-tiba belok kanan. Tiba-tiba belok kiri. Sekalinya belok, tiba-tiba dari arah berlawanan muncul mobil. Huaaaaโ€ฆgimana ga kaget. Tapi si abang cuek aja. Heran. Sekali waktu, saya pernah naik bajaj yang supirnya dah tua. Di perempatan kena lampu merah. Si bapak langsung belok kiri.ย  Tanpa aba-aba langsung balik arah lanjut belok kanan. Padahal di depan ada mobil kenceng. Wuihhhhโ€ฆ.untung selamat.

Miring kanan

Lama-lama saya perhatikan. Hampir semua abang bajaj selalu duduk miring ke kanan. Kenapa ya???

miring kanan baaannnngggg!!!!

Abang-abang hingga Kakek-kakek

Semakin tua semakin lihai. Saya pikir pengemudi yang sudah sepuh akan lebih berhati-hati. Ternyata jauh lebih parah. Saking berpengalamannya. So, age isn’t guarantee your safety.

Bagaimanapunโ€ฆlebih enak naek becakโ€ฆhehehehehe

Nginap Murah Di Tengah Kota Jakarta

Pekan lalu saya menyempatkan diri ke Jakarta. Saya jarang ke Jakarta kecuali tugas kantor. Bagi saya, ke Jakarta berarti kesempatan ketemu teman-teman kuliah. Sebenarnya beberapa Saudara ada di Jakarta, tapi saya tidak menginap di sana. Karena niatnya emang mau reunian,kumpul-kumpul, ngerumpi sampai malam yang pasti akan mengganggu tuan rumah. Jadilah saya cari penginapan yang murah-murah dan strategis.

Jalan Jaksa, diambil dari w3.indonesiamatters.com

Sejak awal saya ngincar hostel di Jl.Jaksa, Kebon Sirih. Sekarang namanya Jl. Wahid Hasyim. Tapi turis internasional lebih kenal dengan nama Jalan Jaksa. Awalnya, jalan ini jalan biasa pada umumnya. Jalan kecil yang muat satu mobil dan cukup padat dengan perumahan. Jalan Jaksa mulai dikenal tahun 1960 melalui International Youth Hostel federation (IYHF).ย  Kemudian Nathaniel Lawalata,menjadikan rumahnya sebagai penginapan bagi turis asing. Namanya Wisma Delima. Sejak itu, Jalan Jaksa ramai dikunjungi turis asing berbujet rendah sebagai lokasi transit sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lain. Dimana ada hostel, berarti lokasi itu strategis, mudah diakses, dan pastinya murah.

Mulailah saya brosing. Dari Yellowpages sampai Jaksaย  Information Guide. Sampai akhirnya nemu situs bagus yang memberikan review hostel, mulai dari harga sampai kebersihan. Saya catat semua, terutama yang harganya murah dan bersih. Forward ke temen untuk cek langsung. Ternyataaaโ€ฆ.harga di situs ga up2date. Harganya mahal euy. Sempet hopless. Alhamdulillah, temen nemu penginapan di jalan jaksa yang oke. Murah,bersih, dan “aman”. Namanya Wisma Hajiโ€ฆ.weeeeโ€ฆ..begitu denger kata “Haji”, hati langsung nyaman niiiโ€ฆhehheheheโ€ฆ Coz, saya membayangkan jalan Jaksa seperti Legian.Ramai turis. Banyak bar. Berisik musik tarantung tung. Makanya takjub banget ada wisma haji disanaโ€ฆheheheโ€ฆ

Walau tua, wismanya cukup terawat. Saya ambil kamar standar double bed seharga 180.000/malam. Kamarnya luas, kiran 5x5m. Ada AC yang beneran dinginnya. TV 14″ dengan saluran TV nasional, bukan TV berlangganan. Toiletries : sikat gigi, odol, dan sabun. Aqua 2 botol. Kamar mandinya bersih. Toilet model jongkok. Dan ada showernya. Airnya ngalir deras. Untuk kelas wisma, saya menilainya bagus bangeeeettt. Cuman tidak dibersihkan tiap hari aja. Jadi kalau menginap dalam jangka waktu yang cukup lama, jangan lupa meletakkan tempat sampah di luar kamar. Kalau tidak, kamar bisa bau sampah. Mayoritas yang nginap orang lokal. Entahkah transit atau ada workshop.

kamar di wisma haji...bersih

Tentang jalan jaksa di malam hari, ternyata beda dengan Legian. Ramai tapi ga berisik musik tarantuntung. Pada sibuk makanโ€ฆhehehehe… Jumlah rumah makan tidak terlalu banyak. Ada warung makan padang dan beberapa kios dengan menu western. Hanya satu dua yang penuh dengan pengunjung seperti KL, sisanya sepiiii….

Menikmati Jakarta

Satu-satunya kota yang agak malas saya datangi adalah Jakarta. Kalau bukan karena urusan penting atau ditugaskan kantor, saya anti ke sana. Satu hal yang bisa membangkitkan semangat saya ke Jakarta adalah teman-teman. Kebanyakan teman jaman saya kuliah berdomisili di sana. Sekalian reunian…. :D.
Kenapa ya….rasanya tidak ada yang menarik di Jakarta. Bukan karena macetnya yang bikin saya malas. Biasalah. Di Yogya juga sering macet, apalagi pas peak season liburan dan Ramadhan. Juga bukan karena saya harus bangun pagi-pagi berangkat ke lokasi tugas dan pulang larut malam. Ada hal lain yang bikin saya tidak nyaman di sana.
Setiap kali ke Jakarta, saya selalu menggunakan moda transportasi nyaman dan berada di gedung kantoran atau hotel. Dan kalau diajak jalan sama sodara, pasti ke mall dan restoran fine dining. Kemana-mana naik taksi atau mobil pribadi. Keluar masuk hotel. Window shopping ke mall besar, yang saya cuman berani liat-liat doang. Kelihatannya asyik ya, padahal bagi saya sama sekali ga asyik. Apa enaknya dengan fasilitas tersebut tanpa merasakan keramahan yang sesungguhnya. Bertemu dengan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Liat kanan kiri ketemunya tembok. Senyum dan sapaan sesuai standar operasional prosedur. Ga humanis. Atau mungkin karena saya belum menemukan sisi humanis tersebut ya…
Tapi, perjalanan saya minggu lalu sedikit melunturkan image tentang Jakarta. Dua hari saya di Jakarta, dan saya benar-benar menikmati Jakarta di hari terakhir walau hanya 2 jam. Selesai acara, saya main ke rumah teman. Saya jemput dulu dia di kantornya di daerah Gambir. Atas saran teman, saya naik bajaj dari hotel. Weeee…begitu dengar kata bajaj saya langsung kegirangan…hehehehe…. Sudah lama saya ga naik bajaj. Terakhir kali waktu masih SD…..hahaha…tuanya saya. Kebiasaan naik becak di Solo kebawa, saya ga tanya harga langsung naik. Baru deh dalam bajaj sadar, bingung ngasih berapa. Serunya naik bajaj, liat si abang bergaya ala pembalap Moto GP kawin ama F1. Gruummmmm…ngenggggg…brtbrt…brrrrrrrrrrttttttt….hahaha berisik banget. Beberapa teman yang saya jumpai tidak suka naik bajaj karena berisiknya itu. Tapi saya suka. Mungkin karena cuman sekali dua kali….kalau terus-terusan males juga… :P. Sama teman, saya dibawa ke rumahnya di daerah Sabang. Ahhhh….baru sekali ini saya jalan di gang-gang kecil di Jakarta. Ternyata cukup bersih juga ya. Hebat euy warga Jakarta. Biar kanan kirinya diapit tembok tinggi gedung-gedung ga berarti harus kumuh khan… Yang bikin saya excited lagi, saya diajak beli simping (baru denger namanya….dan langsung suka…hehehehe). Penjualnya kakek-kakek kempot-banget-pipinya-tapi-lucu. Saya diem aja lihat mereka transaksi, tiba-tiba si kakek ngeluarin plastik kacang goreng… trus kita dikasih satu-satu. Heh??? Geliii…. Kata temen, si kakek emang gitu, kalo liat kita diem aja bengong,ย  suka dikasih makanan. Mau deh berdiri bengong samping kakeknya biar dapat makanan gratis…qiqiqiqi. Saya diajak juga ke SoJong- Sogo Jongkok-. Pasar kaget barang-barang branded tapi harganya miring dan kalau transaksi sambil jongkok-jongkok. Pantesan disebut Sogo Jongkok. Barangnya memang bagus, tapi saya ga tertarik sama barang-barang yang dijual. Saya lebih tertarik sama suasana di sana. Pembeli pedagang uyel-uyelan, saya datang Jumat, pas rame-ramenya. Lapak-lapaknya kumuh. Masih bagusan pasar klithikan Bering Harjo. Seperti ini banyak diย  Solo-Yogya. Tapi saya surprise, masih ada ya yang beginian di Jakarta. Saya pikir budaya hedon menghapuskan hasrat warga Jakarta belanja ke pasar-pasar semacam ini. Lebih senang ke mall daripada pasar kaget begini.
Menjelang sore kami pisah, saya harus segera ke bandara. Di dalam bis Damri, saya masih dikasih kesempatan lihat keramaian di Passer Baru, Kemayoran. Sepertinya ada gerakan kaliย  bersih. Banyak umbul-umbul dan festival rakyat. Kalau saja masih ada waktu, pingin turun dan lihat. Seperti apa ya festival rakyat di Jakarta. Ternyata, julukan metropolitan tidak menjadikan Jakarta (terlalu) berbeda dengan daerah lainnya. Media perlu harus lebih sering meng-ekspos titik-titik tidak menjadikan Jakarta beda. Jangan hanya gedung pencakar dan mall-mall-nya saja. Kita yang di daerah perlu tahu Jakarta sebenarnya seperti apa. Nikmat juga… :D.