Tag Archives: bebacaan

Dari “Merah Putih di Benua Biru”

Baca cerita perjalanan ke luar negeri awalnya bikin iri. Entah yang ikut agent atau bersolo travelling. Atau mahasiswa yang (sengaja) nyempetin jalan-jalan. Dan sepertinya memang agenda utamanya jalan-jalan, baru belajar, terutama yang beasiswa….hehehe…. Ga semua kok. Tapi jurus “aji mumpung” harus dilaksanakan dengan sangat baik. Cerita ke sana ke mari bikin cemburu. Buat saya yang (merasa) susah ke “luar”, sangat terhibur baca kisah mereka. Jadi tahu seperti apa sih di sana menurut opini mereka yang rata-rata..…bagos-bagosss aja. Lama kelamaan saya merasa biasa-biasa saja baca kisah mereka karena merasa “ah gitu-gitu aja”, ga ada yang spesial.

Setelah baca  “Naked Traveller”, koleksi bukunya dan ngikutin blognya, rasa iri yang sempet hilang muncul lagi. Iri karena Trinity bisa menampilkan sisi lain negara yang dia kunjungin sehingga ga berasa “ah gitu-gitu aja”. Seperti membaca ensklopedia travelling… Eh, ada ga sih ensiklopedia travelling??? Baca Naked Traveller, bikin iri saya naik ke level 2.

Tapiii…begitu baca pengalaman Erdith Arfah di Polandia, rasa iri saya langsung meroket ke level 7!!!! Continue reading

Pippi Si Kaus Kaki Panjang

Buku cerita apa sih yang paling berkesan waktu kita masih kecil?

Beruntung saya dibesarkan di keluarga yang mendukung anak-anaknya hobi membaca. Merayu untuk membelikan buku lebih mudah dari pada beli yang lain.  Buku apa aja yang dibaca jaman SD? Saya suka semua seri Trio Detektif-nya Alfred Hitcock, tulisan Enid Blyton, dan pastiny Astrid Lindgren. Karya mereka bagus. Cocok untuk pembaca anak usia 8 – 14 tahun walo yang dah besar pun masih pantes ngebacanya. Ga kekanak-kanakan, ga dewasa, dan sesuai kehidupan sehari-hari. Ada pesan moral yang disampaikan dengan gaya anak-anak. Terutama untuk tulisan Enid dan Astrid. Lebih bagus dari dongeng-dongeng yang lebih sering menceritakan hal yang jauh dari kenyataan.

Koleksi Seri Pippi

Favorit saya adalah serial Pippi si Kaus Kaki Panjang yang ditulis Astrid Lindgren. Saya punya 3 serinya dari 4 seri. Pippi si Kaus Kaki Panjang, which is the 1st  book, Pippi Di Negeri Taka Tuka, dan Pippi Hendak Berlayar. Ketiga buku itu masih ada sampai sekarang. Masih mulus walau dalamnya udah kuning-kuning dan beberapa halaman saling melekat. Kebiasaan, kalau baca sambil makan. Jadi suka nempel-nempel tuh nasi, coklat, krupuk, atau iler…hehehehe… Saya bertekad ga akan mewariskan ke d’pricils, biar dikata enyak-enyak pada ngembat  kan ku embat kembali…:D

Balik ke Pippi. Pippi tuh yaa…ngegemesin banget. Cuek, kuat, riang, ramah, murah hati, mandiri, dan polos banget. Anak usia 8 tahun, hidup sendiri di Pondok Serbaneka….sebenarnya bertiga sama Tuan Nelson (monyet) dan kuda poni. Dibekali satu koper koin emas dan mutiara oleh bapaknya, Kapten Langstrup. Dan ga khawatir bakal dicuri. Malah dalam buku #1, pencurinya dikasih koin emas sambil dinasehati ala anak-anak. Sobat kentalnya dua kakak adik, Thomas dan Annika, yang sebelum ada Pippi ngebosenin banget kehidupan anak-anaknya. Main kriket, ikut jamuan minum the, harus nurut aturan ini itu yang ribet banget. Adanya Pippi, mereka bisa ngalamin hidup ala anak-anak, berpetualangan, coba hal-hal yang baru, sampai inventing something new. Di buku #2, Pippi menemukan kata “selepung” tapi dia ga tahu “selepung” itu apa. Bertiga mereka keliling kota cari benda yang namanya selepung. Masuk toko bahan bangunan, apotik – sampai bikin dokternya marah-marah-, toko kue, bahkan nyari di got…qiqiqiqi… Akhirnya nemu serangga sejenis kumbang kelapa (kalo lihat ilustrasinya dan saya yakin ilustratornya ga bisa menangkap daya imajinasi Pippi tentang kumbang). Nah kumbang itu mereka kasih nama “selepung” dan betapa girangnya mereka bisa menemukan sesuatu. Kalo orang dewasa mikir, kurang kerjaan banget sih. Tapi saya jadi ingat salah satu bagian dari buku Dunia Sophie, betapa anak-anak lebih appreciate terhadap hal yang baru dan menyukai riset kecil-kecilan dibanding orang dewasa. Apa yang dilakukan  Pippi dkk kan riset tuh.

Efraim Putri Langstrump (Pippi Longstocking)

 

Bagian lain yang saya suka tentang bagaimana Pippi menghibur anak-anak yang gagal menjawab pertanyaan Ibu-Yang-Tiap-Tahun-Kasih-Kuis-Dan-Hadiah-Menjijikan. Jadi, anak sekolah disuruh baris, 1  1 maju jawab pertanyaan. Yang bisa jawab dapat hadiah permen sejumlah jumlah adik di rumah dan kaos singlet (ihhh…hadiah ga mutu). Yang ga bisa jawab, dibariskan 1 kelompok, dikasih bubur gandum dan ga dapat apa pun. Naaa…Pippi ikutan kuis, menjawab ngawur tiap pertanyaan sampai bikin si ibu jengkel dan menempatkannya di barisan anak-yang-ga-bisa-jawab. Disini Pippi memberikan pertanyaan ngawur dan memberikan hadiah labih banyak dan lebih bagus buat semua anak. Moralnya, pendidikan ala ibu itu tidak menjamin kesuksesan seorang anak. Daripada menghukum mereka lebih baik membuat mereka merasa lebih berarti dengan segala potensi yang dimiliki. Pendidikan seperti itu masih ada ga ya di Indonesia….

Tentang kekuatan Pippi jangan ditanya deh. Ajaib ada anak bisa kuat gitu dan  sadar diri kalau lagi berbohong…qiqiqi… Oya, Pippi tuh bangga banget dengan bintik-bintik di mukanya. Malah pingin bertambah banyak. Yakin, produk kecantikan apa pun bakal ditolak Pippi kecuali yang bisa nambahin bintik-bintiknya…qiqiqi…