Tag Archives: bandung

Menikmati Bandung Dari Menara Kembar

Lanjut postingan tentang flazz trip ke Bandung ya. Umm…ralat, seputaran alun-alun Bandung…hehehe. Ternyata jalan sendirian itu ada asyik dan ada ga asyiknya juga. Luntang lantung sendirian, ga ada temen ngobrol, ga bisa foto-foto cantik :D, dan dilihatin terus…#ah_perasaan_dek_ina_aja #holang_beken :D. Kalau jalan bareng harus bisa menyesuaikan satu dengan lainnya. Tidak bisa memaksa harus kesana harus kesini.

Lepas dari Gedung Asia Afrika, saya melipir ke Masjid Raya Bandung. Sebenernya waktu dzuhur masih agak lama tapi kaki sudah pegel. Mau istirahat sambil makan-makan juga belum laper. Lihat menara di masjid….*cling cling* ke atas aja yuuuk :D. Ini solusi ampuh buat yang pingin lihat Jawa Barat (ga cuman Bandung) tapi ga punya waktu banyak dan udah pegel banget :D.

Oya, buat kamu yang lagi jalan di Bandung dan bawa bawaan yang lumayan berat dan merepotkan tapi masih pingin jalan-jalan. Bisa deh tasnya dititipkan di masjid :D. Sebenarnya tempat penitipan sandal dan sepatu tetapi mereka tidak keberatan dititipi tas. Mungkin sudah maklum ya, pengunjung masjid rata-rata bawa belanjaan banyak…hehehe. Ada 3 tempat penitipan, di sisi timur (depan pintu masuk utama), sisi selatan (depan Yogya mall), dan sisi utara (depan kantor pos). Karena masuk dari arah utara saya menitipkan tas di sisi utara. Gratissss…tapi tidak ada salahnya masukin lembaran ribuan ke kotak infak sebagai rasa syukur tas kita dijagain dengan baik. Nah, kalau naik kereta api, tas bisa dititipkan di mushola stasiun (sisi utara). Dulu ada loker khusus di sisi selatan. Sayang kemarin sudah tidak ada lagi. Penitipan di mushola juga saya baru tahunya setelah jalan-jalan *tahu gitu kan nitip disini…:(. Sama seperti di masjid raya, ini hanya penitipan sandal/sepatu. Untungnya bapak-bapak penjaga baik-baik. Jangan khawatir, tas dijaga dengan baik dan dikasih nomor. Penjaganya juga pegawai KAI kok karena mereka pakai ID Card KAI :D.

Di antara masjid raya yang pernah saya kunjungi, Masjid Raya Bandung ini yang paling rame. Ramai orang pengajian, ramai orang diskusi, ramai orang leyeh-leyeh, ramai juga yang jualan makanan :D. Tidak di halaman, tidak di teras, penuh sama penjual makanan. Mulai dari mie kocok, pecel, batagor, gorengan, nasi padang pun ada, minuman pun komplit :D. Itu yang mangkal di emperan ya, belum lagi yang mobile. Huwaa….rame!!! Walaupun ramai penjual, teras masjid tetap bersih. Tidak tahu ya yang di halaman/lapangan. Piring makan dialasi daun pisang/kertas makan jadi tidak perlu cuci-cuci piring. Minum pun disediakan dalam wadah sekali buang. Harganya….errrrr…saya tidak tahu karena cuman beli minum air mineral gelas seharga 1000 perak dan tahu sumedang seharga 500/biji…hehehe.

IMG_1467-edited

Sekedar duduk-duduk di teras sambil selonjoran dan lihat tingkah laku kanan kiri yang sebagian besar warga Bandung seru juga. Beneran menghibur. Dari cara penjual memanggil dan melayani, ketahuan deh ramahnya beneran ramah. Walau ada selipan SKSD kayak “Bu hajiiii!!!!…eta saha yak. Oya bu haji Johaaaannnnn, sini buuuu!!!”…hihihi. Terus tidak ada cerita maksa-maksa beli. Lumayan lama saya duduk di antara penjual tanpa berniat beli dan mereka sama sekali tidak menawarkan :D.

IMG_1465-edited

Hari itu sedang ramai pengajian ibu-ibu. Oh my….baru sekali itu saya lihat secara langsung ibu-ibu pengajian dengan model hijab, aksesoris, dan pakaian seperti di tipi-tipi…hahaha Biasanya cuman lihat ibu-ibu pengajian kampung yang modal jarik sama abaya dan jilbab standar aja. Biarpun style beda, semangat ikut pengajiannya itu doooonnggg…acungin jempol banyak-banyak :D.

Masjid Raya Bandung ini punya 2 menara kembar, di sisi utara dan selatan. Tapi kemarin yang dibuka hanya menara sisi selatan. Mau naik??? Buat kamu yang mukanya masih mut-imut kek pelajar, 2000 aja. Yang sudah agak “matang” dan kelewat “matang” 3000 deh. Yang bawa-bawa dan ngaku-ngaku turis (sebenernya agak ga jelas juga yang dimaksud turis inih. :)) 5000 fix ga boleh nawar. Murah kannnn… Mana bisa sesuka hati mau seberapa lama di atas :D. Sayangnya di atas menara tidak ada kafe seperti di MAJT dan bisa muter-muter. Lebih mirip ke gardu pandang . Kalau diisi orang 15 aja sudah berasa sumpek. Untungnya kemarin cuman ada saya dan 2 orang anak sekolahan. Katanya tinggi menara dihitung dari fondasi mencapai 99 meter tapi yang kelihatan di permukaan hanya 81 meter. Kalau tinggi-tinggi bisa mengganggu lalu lintas penerbangan. Dari menara kelihatan lintasan pesawatnya yang kalau ditarik garis lurus sekitar 2 km. Tapi kalau dihitung dari nomor lift ada 19 tingkat. Si Aa penjaga lift bilang tingginya 19 meter…hihihi….ga salah, tergantung dari perspektifnya siapa :D. Di seputaran alun-alun ini hanya ada 2 bangunan tinggi, menara masjid dan gedung BRI.

IMG_1459-edited

Bisa lihat apa aja dari menara….wah…..sepertinya nyaris semua. Berhubung pengetahuan saya tentang Bandung cetek banget, jadinya mepet-mepet si anak sekolahan yang sibuk tebak-tebakan gedung. Dari hasil nguping dan tanya-tanya, bisa kelihatan Gasibu dan Gedung Sate. Di garis horizon bisa lihat deretan pegunungan sisi selatan (kampus dulu dooongg….hahaha) dan sisi utara. Seharusnya kelihatan juga Tangkuban Perahu tapi tidak tahu yang mana :D.

IMG_1455-edited

Yang jelas…..Bandung padat bangettttttt. Rumah, toko, mall, perkantoran mepet-mepet deh. Dan ternyata Bandung tidak seperti Jakarta yang penuh gedung pencakar langit. Dari menara ini, saya belajar peta Bandung radius 1 km….ooo kalau mau kesana , bisa lewat sana sana sana. Jalan kaki ternyata deket aja :D.

collage bandung

Trus, dari atas menara juga kelihatan bagian masjid yang lama dan bagian masjid yang baru. Dulu waktu jaman kuliah belum ada menara dan alun-alun belum dipagari. Sekarang sudah ada penambahan selasar karena ruang utama masjid tidak cukup untuk menampung jemaah. Bagian yang ditambah itu, kalau dari atas ditandai dengan ada lengkungan warna biru. Kalau dari dalam, kalau tidak salah ditandai dengan ruang pengurus masjid.

IMG_1457-edited

Puas di atas dan kebetulan mau masuk waktu dzuhur, turun deh. Ruang wudhu dan toilet lumayan bersih.  Ada penjaga perempuan, yang saya ga habis pikir kok bisa ya makan depan toilet…:D. Dan baru kali ini saya ke masjid dengernya lagu Katty Perry bukan muratal…hihihihi. Dibandingkan masjid agung lain, interior Masjid Raya Bandung ini sangat sangat sederhana. Tidak banyak ornamen. Kecuali mozaik di sisi atas. Mungkin masjid ini lebih diutamakan fungsinya sebagai tempat ibadah apa pun bentuknya dari pada tempat wisata yang cuman dikunjungi sesekali *lirik masjid yang penuh emas-emas :D*

IMG_1472-edited

IMG_1469-edited

IMG_1431-edited

The World Goes to Bandung…Aku jugaaa !!!

Apa yang membuatmu kembali ke bandung??? Kulinernya yang special? Suasananya? Distro, FO, apa pun namanya yang penting puas bela-beli the latest fashion :D? Kenangan manis yang tertinggal disana *euwwwww?? Kalau untuk saya, yang bisa membuat saya kembali ke bandung adalah ditugaskan!! Hahaha…memang ogah rugi banget. Sejak lulus kuliah, baru 3 kali saya kembali ke Bandung. Itu pun setelah 6 tahun hengkang :D. Dan ketiganya diakomodasi pihak lain, hehehe…. Yang pertama bareng rombongan kantor kakak yang rutenya sudah default. Yang kedua ditugaskan kantor dan sempat melipir bertiga sama teman kantor. Dan yang ketiga (semoga bukan yang terakhir :D), minggu lalu. Sebenarnya acara berlangsung di Lembang selama 3 hari. Hari terakhir saya bela-belain pulang naik kereta terakhir, pisah dengan rombongan karena mau jalan-jalan dulu. Sayang, sudah jauh-jauh jadi sekalian dicapekkin :D.

Sebelum berangkat sudah melist tempat-tempat yang akan dikunjungi. Apa daya, ternyata Bandung masih macet ya…hikss…langsung jiper. Bisa-bisa terlambat sampai stasiun. Dan lagiiii….astagadragon…kenapa ini backpack tiba-tiba jadi berat *arggghhhh*?? Kombinasi usia dan jarang olahraga bikin acara hang out agak keluar dari rencana. Ya sudahlah, ikuti kaki sanggupnya melangkah kemana *buang jauh-jauh list destinasi*. Rencananya kemarin mau ke Taman Hutan Raya Juanda di daerah Dago, Museum Geologi (punya kenangan manis disana, jadi pingin balik lagi…ihirrrrr), Museum Pos Indonesia, Palasari, Kantor Pos Besar, dan Museum Asia-Afrika. Lihat-lihat situasi akhirnya jalan di sekitaran stasiun hingga alun-alun aja (bilang aja mau ke Pasar Baru…hehehehe). Saya hanya punya waktu 7 jam sebelum kereta berangkat.

Tetep yaaaa....di Bandung itu, konferensi jadi konperensi!! Pake "P" ceunah....qiqiqi...Untungnya Afrika-nya bener :D

Tetep yaaaa….di Bandung itu, konferensi jadi konperensi!! Pake “P” ceunah….qiqiqi…Untungnya Afrika-nya bener 😀

Cerita tentang Museum Asia-Afrika dulu yaaa. Dua tahun yang lalu sempat kesini tapi tidak masuk karena sudah tutup. Sengaja datang pagi-pagi pas jam buka museum, jam 09.00 am. Yang ternyata saya barengan rombongan anak SD *phewwww* Untungnya mereka briefing lumayan lama di ruang konferensi jadi bisa keliling tanpa suara berisik… :D. Apa yang bisa dilihat disini??? Sebenarnya tidak terlalu banyak produk yang dipajang, lebih banyak foto dan poster. Tapiiii….it hides many story behind :). Setidaknya saya lebih memahami arti Konferensi Asia Afrika di sini, dibandingkan dari text book :D. Dari sini saya bisa lihat, ternyata Soekarno sangat visioner, membenci imperialisme, dan menyukai networking dengan negara-negara yang mayoritas senasib sepenanggungan dengan Indonesia. Pidatonya….weiitzzzz…bacanya saja sudah bikin merinding apalagi kalau dengar langsung. Ia memiliki kemampuan mengajak tanpa memaksa. Membuka mata siapa pun yang mendengarkan bahwa apa yang ia katakan itu benar dan nyata. Kalau ingin berubah maka kita harus bergerak. Jika kita tidak bisa berjuang sendirian, ajaklah kawan. Dan ternyata, Indonesia itu berperan besar bagi kemerdekaan negara-negara lain.

Sebelum tahun 50-an hanya sedikit bangsa yang merdeka dan lepas dari kolonialisme. Indonesia, Filipina, Vietnam, Pakistan, Birma, India, Tiongkok, dan Ceylon (ceylon itu dimana ya???). Nah selepas KAA, semakin banyak negara yang merdeka. Sebagian besar di kawasan Afrika. Juga termasuk Malaysia dan Singapura. Hebat ga tuh Indonesia. Sepertinya yang cocok jadi duta (polisi) perdamaian dunia adalah Indonesia karena sudah terbukti dan teruji puluhan tahun. Bukan negara yang sekarang kali ya…hehehehe… Dan lagi, semua ketua komite berasal dari Indonesia. Ada 3 komite saat pertemuan KAA, politik, ekonomi, dan kebudayaan. See….bagaimana kemerdekaan itu dicapai dengan cara-cara damai. Bukan dengan pertumpahan darah. Jepang yang dulu pernah menjajah kita aja ikutan dalam pertemuan perdana KAA. Sudah insyaf :D. Negara peserta KAA yang cukup bikin mata zoom in zoom out selain Pakistan adalah Afghanistan dan Ethiopia. Oh my…ternyata kita punya relasi yang sangat lama dengan mereka. Jadi ingat di salah satu bukunya, Agustinus pernah bilang, teh terbaik yang digemari di Afganistan adalah teh dari Indonesia. Dan di sana ada daerah bernama Soekarno meski penduduk sekitar tidak tahu siapa ia. Ah…ternyata mereka sahabat lama kita :).

Saat pertama masuk, kita diminta mengisi buku tamu. Freeeeee….alias gratis. Syukur-syukur kita dipandu dengan petugas yang ramah bangetttt. Saya dipandunya setelah keliling sendirian karena saat itu hanya ada 2 petugas yang lagi on duty. Tidak perlu memberikan tips karena memang dilarang :D. Si ibu yang jaga sempat bengong lihat saya datang sendirian. Hahaha…jadi inget waktu jalan sendirian malam-malam di Kuta. Responnya sama, “Ga takut mba???”. Dengan pede-nya bilang orang Bandung baik-baik jadi ga ada yang perlu dikhawatirkan (kenyataan memang begitu kan yaaa :D). Hasilnya…saya bisa nitip backpack yang berathhh ituhhh di kolong meja :D.

Ruang pertama yang wajib kunjung adalah ruang konferensi. Isinya masih asli, kecuali beberapa ubin yang sudah mengalami pergantian. Kursi-kursinya masih yang sama, masih empuk, dan boleh diduduki :D. Membayangkan, dulu yang duduk di kursi ini delegasi dari negara mana ya :D. Di bagian depan selain bendera-bendera delegasi juga ada gong perdamaian. Bentuk gong ini persis banget dengan yang di Taman Pintar Jogja. Ruang konferensi terbagi dua lantai. Lantai pertama khusus delegasi dan lantai kedua khusus wartawan. Sayang tidak diijinkan naik ke lantai 2.

Ruang konferensi, bayangim mereka dulu duduk di sini dan membicarakan tentang perdamaian dunia :D

Ruang konferensi, bayangim mereka dulu duduk di sini dan membicarakan tentang perdamaian dunia 😀

Kursi milik MPRS....masih inget ga sapa MPRS :D

Kursi milik MPRS….masih inget ga sapa MPRS 😀

Dari ruang konferensi bisa pilih mau keluar masuk ruangan di gedung atau langsung ke ruang pamer tetap. Gedung KAA ini dikelola oleh Pemerintah Provinsi Jabar (sisi barat) dan Kementerian Luar Negeri (sisi timur). Selain ada pameran tetap tentang KAA juga ada pameran tematik, tergantung siapa penyelenggaranya. Saat saya datang kemarin tidak ada pameran tematik.

IMG_1401 edited

Indonesia di tengah-tengah nasib bangsa lain 😀

IMG_1343-edited

Sebagian besar kemerdakaan negara-negara di Afrika karena peran Indonesia 😀

IMG_1356-edited

Default-nya museum di Indonesia, pasti deh ada furniturenya 😀

IMG_1384-edited

Yeayyyy….wilujeng sumpinnnggg…mangga mangga 😀

IMG_1379-edited

Sebagian besar eksebisinya berupa foto dan poster. Di ujung kanan ituuuu…alat cetak foto. Ga kebayang gimana dulu cetaknya

Ada sisi yang menarik juga lho dari perhelatan KAA tahun 1955 itu. Sebagian besar gedung di sekitar gedung KAA turut andil, mulai dari hotel Preanger yang sekarang masih beroperasi sampai Hotel Swarha yang sekarang sudah spooky banget. Menjelang acara ternyata ada delegasi yang mengalami kecelakaan. Pesawatnya jatuh di Kepulauan Natuna, so sad:(. Yang unik lagi, sebagian besar negara-negara yang muncul saat KAA tidak pernah kedengaran lagi. Ada yang pernah dengar negara Tuvalu?? Dimana coba tuh negara. Mana benderanya aneh-aneh warna dan motifnya. Sempat diceritain, sebelumnya foto Soekarno tidak ada di gedung ini padahal beliaulah pencetus ide konferensi. Baru dipasang setelah ditegur Nelson Mandela…qiqiqi

Hotel Swarha yang udah spooky...sayang banget

Hotel Swarha yang udah spooky…sayang banget

IMG_1393-edited

Toiletnyaaaa….masih seperti yang dulu…errr…kecuali ubinnya 😀

Dannnn….pemandu saya kali ini adalah Pak Kudrat, pegawai Kemenlu yang ternyata orang Banyumasan. Jadilah dia ber-Jawa ria dan saya ber-Indonesia ria :D.

IMG_1416-edited

Pak Kudrat…maturnuwun ya paaakkk

A smile from the sky :)

Buka-buka album foto, ketemu foto ini pas lagi ke Bandung. Agak pecah karena ambilnya di zoom pakai kamera saku. Selintas biasa aja. Pas diperhatiin, waaaa…..langsung senyum lebarrr…

 

Ga tahu nama alat ini apa. Tapi kelihatan seperti robot imut. Ada mata kecil, hidung panjang ramping merah, dan tentunyaaa….mulut lebar seperti senyum lebarrrrr…. Suka saya… **kecup kecup si alat imut**

 

Did it smile to us?? 😀

 

 

Travelling to The Past

Welcome Novemberrrrrr….. Just give me a lil spirit ok :). Parade foto pertama di bulan November. Bandung Rendezvous :). Banyak cerita…tapi ceritanya nanti saja (^,^)

 

Alun-alun Bandung, latarbelakang menara masjid agung

 

Old and New 🙂

 

Gedung Asia Afrika

 

Gedung Asia Afrika

 

Ga tahu apa nama bangunan ini….seneng aja ngeliatnya

 

Teringat tuan dan nyonya di gedongan 😀

 

the book store…..lay outnya masih jadullll banget

 

Partner in crime :D…minus bule ^=^

Sensasi Masjid

Tiap masjid berfungsi sama. Tapi ada sensasi berbeda di tiap masjid.

Kalau ada waktu, saya suka mampir ke masjid (mushala) tiap berkunjung ke daerah. Baru-baru ini saya mampir ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Hehehe…malu mengakui agak kampungan ni. Teman dan keluarga yang sudah pernah ke sana mempromosikan menaranya yang bisa berputar dan payung otomatisnya.

Sebenarnya saya kesana pas hari Jumat. Hari dimana payung dikembangkan. Tapi saya datangnya kepagian, payung belum dikembangkan dan perjalanan masih jauh sehingga tidak bisa menunggu sampai jam 11. Ternyata masjidnya tidak terlalu luas, terasnya yang luas. Halamannya lebih luas lagi. Payung dikembangkan di teras masjid untuk menampung jemaah yang tidak tertampung di dalam masjid. Saya membayangkan, apa di payung tersebut ada kipas anginnya ya. Secara panas banget di luar. Begitu sujud bisa-bisa langsung dapat cap di jidat….hehehehe… Kalau mau jalan di teras, harus lepas alas kaki. Panassss….

Interior di dalam masjid menurut saya biasa saja. Malah mengingatkan saya pada masjid Akbar At Taqwa di Bengkulu. Ada kubah di atas dengan lampu. Di dinding mimbar ada lengkungan yang memantulkan sinar dari luar. Lengkungan ini terefleksi di lantai. Jadi seperti oval bersinar. Ada bedug besar juga di dalam. Disebut bedug ijo karena warnanya memang ijo. Sayangnya, mukena tidak tertata rapi di lemari. Bau apek dan bintik-bintik item. Saya berpikiran positif aja, jamaah wanitanya banyak dan suka shalat di masjid makanya bau apek dan bintik-bintik :).

Oya tentang masjid Akbar At Taqwa, ini masjid terbesar di Bengkulu. Di bangun sekitar tahun 1994, saya tidak tahu persis. Yang jelas, saya suka main di sana sejak TK…(duh, tuwirnya saya…). Masjidnya dekat dengan pantai panjang. Jadi lantainya beraroma pantai dan agak lengket. Warna masjid putih…putihhh semua. Kubahnya besar. Saya suka berbaring di lantai dan melihat ke atas kubah. Tiba-tiba ada burung keluar masuk dan buat sarang di lubang ventilasi kubah. Kubahnya dan langit-langitnya tinggi jadi tidak sumpek, malah ada semilir angin laut. Waktu dulu, jamaahnya sedikiiiiiiiitt. Masjid sebesar itu, jamaahnya bisa diitung 2 tangan. Kecuali kalau Ramadhan. Saking besar dan sepinya, saya takut ke tempat wudhu sendirian. Bagi kami anak-anak, ada lokasi favorit tempat bermain lompat tali. Di bawah kubah kecil bagian belakang, berhadapan langsung dengan pantai. Lagi asyik-asyik main diusir dan dimarahin marbot masjid. Ya iyalah, main lompat tali sampai roknya diangkat tinggi-tinggi. Di masjid gitu lhoo….hehehe…

Masjid Pusdai (Pusat Dakwah Islam), Bandung, menurut saya interiornya bagus dan selalu ramai. Banyak ventilasi segi enam imut-imut. Jadi banyak jamaah pun tidak sumpek malah duingiiiinnn. Biasanya ada anak-anak kecil di teras masjid sambil bawa kresek tempat taruh sendal. Mereka menawarkan jasa penitipan sandal dengan imbalan beberapa receh. Kebanyakan yang menggunakan jasa karena kasihan saja. Soalnya masjid sudah punya penitipan sendiri. Yang kurang menyenangkan di masjid ini adalah tempat wudhu dan toilet yang tidak sebanding dengan jumlah jemaah. Apalagi kalau ada even mabit. Wuihhhhh…. ngantri toilet dan wudhunya bisa satu jam lebih. Mengular naga panjangnya sampai ke dalam masjid. Kalau dijadwalkan shalat tahajud dimulai jam 3, jam 1 sudah harus bangun dan siap-siap ngantri. Kalau jam 2 mulai ngantri dijamin masbuk. Gimana ya kalau wudhunya batal, trus harus ngantri lagi…duh.

Sampai saat ini, masjid favorit masih Syamsul ‘Ulum, Bandung :).