Tag Archives: bali

Menyesap Hitam Pekat Kopi Gianyar

Hari menjelang siang ketika mobil kami berbelok ke sebuah halaman tak berbangunan. Dimana ini? “Kita ngopi-ngopi sebentar ya Saya belum ngopi tadi pagi”. Senyum manis bli Tude , supir mobil sewaan sekaligus guide dadakan, menjawab kegusaran kami. Pagi, sebelum bergerak, kami sudah wanti-wanti untuk dibawa keliling ke daerah utara. Tempat eksotik yang jarang dikunjungi wisatawan lokal dan gratis!!! Hahaha….nasib jadi traveller kere yang cuman sanggup sewa kendaraan dan makan ala kadarnya. IMG_2168-edited Menurut Aeki-Aice.org, kopi pertam kali masuk ke Indonesia di tahun 1696 oleh Komandan Adrian van Ommen dari Malabar-India. Jenis kopi yang dikembangkan saat itu adalah kopi Arabika dan ditanam di Pondok Kopi-Jakarta Timur. Sayangnya, Pondok Kopi dilanda banjir yang menyebabkan tidak hanya gagal panen tapi…gagal total!! Mati semua. Akhirnya didatangkan lagi bibit kopi di tahun 1699 dan disebarkan ke Jawa Barat, Sumatera, Bali, Sulawesi, dan Timor. Ternyata, di daerah ini bibit kopi tumbuh dengan subur dan menghasilkan panen yang melonjak. Sehingga, di tahun 1711, Indonesia melalui VOC melakukan ekspor kopi pertamanya. Saat ini, jenis kopi yang dibudidayakan di Indonesia adalah jenis Arabika dan Robusta. Kopi Gayo, Mandailing, Sidikalang, Toraja, dan Kintamani adalah sebagian kopi Indonesia yang terkenal…..mahal :D. Saya bukan penggemar fanatik kopi. Tapi, tidak pernah menolak suguhan kopi panas, yang hitam pekat dan berampas, atau yang telah dipermanis dengan krimer dan segala rupa rasa-rasa :D. Favorit saya tetap….kopi hitam dengan ampas. Rasanya nikmat tatkala bibir dan lidah bersentuhan dengan sensasi pahit dan manis kopi hitam. Tetiba langsung bersemangat :D. Tambah semangat jika disuguhkan 12 gelas aneka rasa kopi dan minuman lainnya. Gratis!!! Hah??? Yang bener???? IMG_2198-edited Di sepanjang jalan menuju Danau Batur atau jalan antara Tampaksiring-Kintamani banyak bermunculan agrowisata dengan kopi sebagai andalannya. Salah satunya adalah Satria Agrowisata. Agrowisata ini memberikan informasi yang menarik tentang kopi dan minuman khas Bali yang berkhasiat bagi tubuh. Informasi ini disajikan secara interaktif, langsung cicip di tempat :D. Lokasinya tidak terlihat dari jalan besar. Kita perlu melewati kebun kecil dengan beragam tanaman bahan baku minuman dan kandang luwak. Sebelum duduk manis menikmati indahnya suasana desa dan aroma kopi, pengunjung bisa melihat aneka biji kopi di sebuah gubuk kecil. Disini kita bisa belajar jenis-jenis kopi dilihat dari ukuran dan warnanya yang berbeda-beda. Saya pikir, kemana pergi biji kopi ya begitu-begitu aja…hahaha….ternyata warnanya bisa beda-beda. Di gubuk ini, bisa dilihat juga proses roasting yang masih sederhana. Kopi dipanggang dalam wajan tembikar di atas bara dari kayu. Kalau melihat hasilnya, dipanggang sampai tingkat kematangan “dark roast”. Hitam pekat. IMG_2173-edited IMG_2176-edited Dari gubuk kecil, lanjut ke gubuk kecil lainnya :D. Nah, di sini sudah disiapkan 12 gelas minuman olahan produksi Satria Agrowisata. Sebenarnya ini tester untuk memperkenalkan produk mereka. Setelah minum kepingin beli, merea seneng dong ya :D. Kalau tidak beli juga rapopo :D. Ada apa aja? Lihat langsung deh. IMG_2187-editedSilahkan dicicipi kopi moka, kopi gingseng, kopi kelapa, kopi vanilla, bali cocoa/coklat, kopi bali, sari manggis, lemon grass tea, rice tea, rossela tea, apa lagi ya….lupa…hahaha. Yang jelas enak-enak. Saya paling suka kopi Bali, rice tea, dan bali cocoa. Bali cocoa rasanya persis dengan choco drink-nya Cadburry :D. Ada lagi yang spesial….kopi luwak. Dari yang penampilannya bikin jijay…. IMG_2166-edited Jadi segelas kenikmatan tiada tara…..hahahaha

IMG_2195-edited

Lihat….busa kopinya masih ada, pinter yang buat 😀

Jadi, Satria Agrowisata juga menyediakan Kopi Luwak produksi sendiri yang sudah diekspor ke Russia. Di flyer mereka, pilihan bahasanya hanya 2, Indonesia dan Russia…hahaha. Kalau yang lain gratis, kopi luwak ini tidak gratis. Secangkir 50.000. Termasuk murah dibandingkan kalau sudah masuk ke kafe-kafe. Dan ternyata…..menikmati kopi tanpa gula lebih nikmat. Beneran :P. Jadi ya, kopi luwak ini saya cicipi dengan 2 metode. Dengan gula dan tanpa gula. Sungguh lebih nikmat tanpa gula. Rasanya lebih asam dibanding kopi biasa tapi lebih ringan. Dan sama sekali tidak meninggalkan rasa perih di lambung.  Menurut guide dari Satria, kandungan kafein di kopi luwak lebih sedikit dibanding kopi biasa. Dan menikmati kopi tanpa gula jauh lebih sehat dibanding dengan gula. Selepas dari sini, kalau buat kopi, takaran gulanya selalu saya kurangi. Beneran enak. Mmmmm…tapi tidak berlaku untuk JJ Royal Coffee…masih berasa pahitnya :D.

Jadi, ngopi-ngopi yuk sambil ngobrol-ngobrol 😀

Advertisements

Short Trip (Part 2): Ngobaran, Pantai Rasa Jogja Bali

Udah cerita dong ya short trip yang cuman setengah hari di part 1. Kalau belum dibaca, monggo dibaca dulu :D.

Walaupun sudah direncanakan jauh-jauh hari, saya tetap lupa bawa kamera…sigh. Akhirnya selama trip kemarin cuman poto-poto pakai kamera henpun Gal-ACE.  Dan ternyata poto pakai kamera henpun di tengah hari bolong itu susaaaahh banget. Ga kelihatan layarnya sama sekali. Jadi ga tahu obyek yang mau dipoto sudah pas belum posisinya. Blur ga. Dan ga bisa setting macem-macem. Hanya bisa setting normal. Mau buat poto panorama pun ribet. Ga kepikiran deh mau di setting yang lain. Begitu lihat hasilnya…lah kok begini begono. Tapi lumayan lah…hehehe. Daripada saiyah manyun aja :D. Malah ada objek yang baru kelihatan pas lihat hasil jepretan. Keknya pas mau bidik ga lihat objek ini…hihi. Kurang tahu ya, yang buat layar henpun tidak terlihat di bawah matahari langsung itu apa. Apa memang kelemahan Gal-ACE seperti itu atau karena saya pakai anti spy. Ga ngerti deh…

Jadiiii…kelar makan dan sudah pada kenyang. Ga ngomel-ngomel lagi karna kelaparan. Kita lanjut ke Ngobaran. Pantainya dekat, sebelah-sebelahan. Hanya dipisahkan tebing saja. Tidak sampai 1 km rasanya. Pantai Ngobaran ini ternyata ada dua sisi. Begitu masuk, serasa bukan di Jogja. Tapi di Bali !!! Sisi pertama ini bentuknya tebing tinggi. Kita berada persis di atas tebing. Nah, di pinggir tebing ini ada pura yang masih digunakan umat Hindu. Dimana coba bisa ketemu pantai yang ada puranya kecuali di Bali :).

Puranya bukan yang ini, ada di sebelahnya tapi ga di poto :)

Puranya bukan yang ini, ada di sebelahnya tapi ga di poto 🙂

Ga lupa deretan patung-patung yang saya tidak tahu apa saja kecuali Ganesha. Di bawah patung-patung tidak ada keterangan nama kecuali tulisan seperti “bakti”, “satya”, dan lainnya. Lupa :D.

Deretan patung-patung. Masih ada lagi di sekitarnya

Deretan patung-patung. Masih ada lagi di sekitarnya

Agak ke pinggir tebing, kita bisa lihat ombak yang menghantam tebing. Cukup aman karena ada pagar pembatas tapi di beberapa sisi tidak ada. Buat saya yang orangnya kikuk harus ekstra hati-hati. Sebenarnya ada tangga batu menuju ke bawah, ke sisi tersembunyi tebing. Pengunjung bisa kesini tapi ya itu..hati hati yaa kalau ga mau disambut batu batu besar.
Nah dipinggir tebing ada patung seperti Garuda Wisnu Kencana yang menghadap lautan lepas. Mungkin GWK yang di Bali kalau sudah jadi bentuknya seperti ini ya. Versi mininya. Pas mau bidik saya pikir hanya patung Garuda biasa saja. Pas lihat hasilnya..kok ada kaki dan kepala. Ternyata oh ternyata. Yang agak bikin bingung, ni statue Hindu kok ada stupa stupa mini ya. Bukannya identik dengan Budha. Saya yang salah kali ya. Tetap terlihat indah kok.

Hati-hati kalau mau turun ya

Hati-hati kalau mau turun ya

Patung ular di kanan kiri

Patung ular di kanan kiri

Garuda Wisnu Kencana. Baru kelihatan ada kepala dan kaki pas edit :D

Garuda Wisnu Kencana. Baru kelihatan ada kepala dan kaki pas edit 😀

Stupa??

Stupa??

Disisi ini ga bisa main main pasir. Harus naik ke atas terus turun. Dan taraaaaaa….beautiful isn’t??

Cantiiikkkk...subhanallah. Pingin langsung kipik kipik di air :D

Cantiiikkkk…subhanallah. Pingin langsung kipik kipik di air 😀

2013-03-19 15.08.08

Damai ya kelihatannya 😀

Pantaiiii….Pasirnya hasil pecahan batu karang dan karst jadi enak diinjak. Ga bikin susah ngeersihin. Ombaknya ga besar dan sudah pecah duluan. Asyik buat berenang.
Jalan jalan di era digital ini meurut saya kurang asyik. Di tambah waktu perjalanan yang singkat. Tidak bisa menikmatiiii…huaaa… Lebih banyak jeprat jepret sana sini. Pingin hening sesaat disana. Mendengarkan deburan ombak. Merasakan hembusan angin. Membaui laut. Ahh…tidak bisa. Balik lagi apa ya :D. Satu yang bikin heran, kenapa tiap kali ke pantai di daerah Gunung Kidul ini pasti hujan rintik rintik. Pas di Ngrenehan ya gerimis. Pulangnya hujan deras yang horor banget. Mungkin karena pas masih musim hujan aja ya.

Tuhan Pun Bersabar

Tuhan bersabar? Bagaimana mungkin Dia bersabar, sedangkan Dia yang meminta kita untuk bersabar. Karena kita memang makhluk yang ga sabaran. Cepat mengeluh. Cepat pula putus asa. Cepat-cepat ingin dikabulkan.  Kita adalah makhluk instan, yang ogah berlama-lama menunggu. Enggan berusaha, apalagi kalau butuh usaha berkali-kali lipat. Kita ingin……zebbbbbb…..semua keinginan terwujud saat itu juga.

 

 

Tapi Tuhan bersabar mengajarkan kita bersabar. Kesabaran adalah sebuah proses pembentukan diri tanpa henti, bahkan sampai hari akhir pun.

Jejak-jejak kesabaran Tuhan terlihat jelas di alam. Tanpa sadar, kita sering melewatkannya. Dinding tebing setinggi 5 m di sepanjang Pantai Padang-Padang, hanyalah satu dari jutaan jejak kesabaran yang Tuhan tinggalkan. Perkara kecil bagiNya, untuk membuat relief indah di tebing, memunculkan gradasi warna yang menawan, meninggalkan ceruk yang dalam, menyisakan sebongkah karang untuk dinikmati.  Tapi Tuhan tidak ….zebbb…menciptkan itu seketika. Butuh waktu jutaan tahun untuk memerintahkan air laut menggerus karang sedikit demi sedikit. Butuh jutaan tahun untuk mengikis kerasnya karang.

Dan ketika kita sudah bisa menikmati alam yang begitu menakjubkan, Tuhan tidak berhenti menyuruh air laut menghempas karang. Tuhan tidak berhenti melukis pesonaNya di alam. Tuhan bersabar mencipta. Ketika kita datang 2 tahun lagi, 10 tahun lagi, 50 tahun lagi, atau keturunan kita datang. Akan tampak lukisan yang berbeda, semakin indah, sepanjang kita sabar menunggu. Sepanjang kita sabar memelihara. Lukisan alam yang akan kita lihat, akan semakin indah.

 

Tuhan mengajarkan kita bersabar, karena Ia pun bersabar. Karena sabar bukan sifat yang melekat, tapi proses tiada henti.

Tak Gendong, Kemana-Mana

Uji nyali menyeberangi lautan

Saya tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Terbersit pun tidak. Di Bali lagi. Kalau di kota lain mungkin, tapi ini di Bali !! Tempat semua penduduk dunia menuju.

Perjalanan kali ini bertujuan ke Nusa Penida. Saya dan rombongan transit di Sanur. Saya tidak punya ekspektasi apa pun pada perjalanan kali ini. Pasrah dibawa kemana saja sama leader-nya. Dan leader-nya pun tidak memberikan gambaran yang jelas, sama-sama tidak punya informasi tentang lokasi yang dituju.

Lagian mau cari kemana, mbah google tidak memberikan informasi yang mencerahkan. Tiap search Nusa Penida, yang muncul Lembongan lagi Lembongan lagi (jadi 4L yah…hehehehe). Karena tidak punya pandangan apa pun, saya pilih pergi ala backpacker. Beruntungnya saya…ternyata kondisi perjalanan lebih menguntungkan bagi “penggendong” daripada “penggeret”.

Sebenarnya banyak pilihan ke Nusa Penida. Bisa melalui Pelabuhan Padang Bai di Klungkung, Tanjung Benoa, atau Sanur. Tidak ada cruise-cruise­-an karena Nusa Penida memang belum menjadi tujuan wisata utama. Mungkin karena fasilitas dasar disana belum mencukupi kebutuhan pelancong seperti air, listrik, dan telepon. Kalau ada investor yang berani, hasilnya akan jauh lebih maju dibanding Nusa Lembongan.


Tenang ya yam...jangan ampe mabuk laut ya yamm

Akhirnya kami nurut aja sama leader-nya, berangkatlah kami melalui Sanur. Ternyata dari penginapan ke pelabuhan, nau’zubillah jauhnya. Ada kali 1 kilo. Berasa makhluk aneh, pagi-pagi “gendong” dan “geret” di tengah turis yang lari pagi. Beruntung pemandangannya bagus, pas matahari terbit. Baru ketahuan kenapa pasir di depan hotel/cottage cantik-cantik. Ternyata memang dibuat garis-garis, lengkung-lengkung, bulat-bulat, sama petugasnya. Jadi ga enak nginjeknya…hehehe..
Tiap lihat dermaga, saya jingkrak “Itu yaaaa???”. “BUKAN!!”. Berkali-kali liat dermaga dijawab bukan. Sampai kemudian lihat loket tiket. “NIIII…DISINI”. Trus, mana kapalnya??? Alamakkkkk…bukan kapal, tapi perahu. Dan tidak bersandar di dermaga, tapi di lepas pantaiiii…OH NOOOO. Saya bengong lihat penumpang naik. Aduh…basah-basahan sampai pinggang (itu yang tingginya kira-kira 160cm). Tiba-tiba ada yang menghampiri. “Gendong, gendong….5000 saja”, Jadi ingat pengalaman Trinity. Siapa sangka saya juga bakal ngalamin, tapi di negeri sendiri…hadohhh. Saya pilih digendong aja daripada basah-basahan dan tidak tahu apa yang akan saya temui di tempat tujuan nantinya. Pilihan gaya gendongnya ada di pundak dan ala penganten baru.

Perahu ini lebih mirip jukung untuk menyeberang di sungai. Atapnya sangat rendah. Bangkunya dari papan-papan yang dijejer. Penumpang boleh duduk dimana saja mereka suka. Didalam, ga panas tapi agak pengap dan bau muntah (yekkkkk….). Di belakang, ga panas tapi berisik dengar motor perahu dan bercampur sama karung, koper, tas, bahkan ayam. Atau di atas, panas dan berangin, bisa langsung nyebur kalau ada apa-apa. Sebagian besar pilih di atas. Menyeberang lautan luas dengan perahu yang minim fasilitas penyelamatan ini benar-benar uji nyali. Terasa sekali ombak menghantam perahu, bahkan sampai nyiprat-nyiprat ke dalam. Iri rasanya lihat cruise hilir mudik mengantar bule-bule dan wisatawan berkantong tebal. Sedangkan penduduk lokal hanya bisa menikmati fasilitas ala kadarnya. Mana sanggup mereka mengeluarkan ongkos cruise yang mahal sedangkan profesinya hanya pedagang, peternak, petani, dan buruh kasar. Mungkin baru kali ini mereka lihat ada yang mau naik perahu. Kelihatan dari pandangan aneh. Beruntung sesama Indonesia, jadi enak ngobrolnya :). Kalau disuruh pilih, tidak ada yang mau naik perahu ini. Tapi ya emang ga ada pilihan lain. Alhmadulillah sekarang di Nusa Penida ada pelabuhan yang bisa bersandar kapal roro. Sayangnya, kapal ini baru melayani trayek Nusa Penida-Padang Bai. Lha dari Klungkung ke kota Bali kan perlu biaya lagi. Susah lho cari transportasi darat di Bali, angkutan umumnya sedikiiiitttt. Taksi dan persewaan mobil/motor lebih laris. Pulangnya kami coba naik kapal roro. Lebih nyaman, hantaman ombak tidak terlalu berasa. Tidak pakai basah-basahan. Penumpangnya sedikit. Tapi ya pengeluarannya jadi banyak buat sewa mobil ke kota Bali.

Mudah-mudahan pemerintah pusat dan daerah termasuk juga investor mau lebih memikirkan fasilitas transportasi untuk penduduk lokal. Tidak hanya memanjakan wisatawan. Rasanya kita tidak ingin terjadi musibah di tengah laut. Dan saya tidak mau basah-basahan lagi kalau mau ke Nusa Penida (turun dari perahu saya terpaksa basah-basahan, beruntung tidak sedalam di Sanur).

For your information:
* Trayek Sanur-Nusa Penida ada di jam-jam tertentu, Saya naik yang jam 07.00 waktu Bali. Harga tiket Rp.30.000 waktu tempuh 2 jam.
* Trayek Nusa Penida-Padang Bai jam 12.00 waktu Bali. Harga tiket Rp. 14.000, waktu tempuh 1,5 jam.

Mutiara Terpendam di Bali

Pantai Suana, Nusa Penida. Hamparan ladang rumput laut

Bayangan saya tentang Bali adalah keindahan, setetes nirwana yang turun ke bumi. Kilau emas surgawi yang terpancar di horizon pantai saat matahari turun ke peraduan. Terlalu puitis ya, tapi itulah gambaran kemolekan Bali yang saya bayangkan. Dua tahun berturut-turut berkunjung ke Bali, gambaran itu lenyap sudah.
Saya baru dua kali ke Bali, itu pun atas perintah atasan menjalankan tugas sambil curi-curi waktu hang out. Saya tidak habis pikir kenapa kantor menugaskan saya ke dua wilayah yang melenyapkan gambaran keindahan tentang Bali. Tidak…tidak…kata-kata saya salah. Apa yang saya lihat tetap indah, sangat indah malah. Akan tetapi keindahan yang miris. Kok bisa ya begitu berbedanya. Kenapa saya ngomong begitu. Saya ceritakan saja deh.

Kali pertama datang, saya bertugas di Pulau Serangan, Bali. Sebelum berangkat saya gugling dulu, Pulau Serangan itu dimana, ada apa disana, bagaimana masyarakatnya, tradisi dan kebudayaannya seperti apa, serta menyempatkan ke Google Earth, lihat bentuknya seperti apa. Tidak banyak informasi yang saya peroleh selain Pulau Serangan merupakan tempat penakaran penyu terbaik se-Bali dan rumah ternyaman bagi terumbu karang. Ditambah foto-foto dari Picassa dan Photobucket, saya mendapat kesan pulau ini masih perawan. Begitu menginjakkan kaki, informasi yang saya peroleh langsung amblas.

Ya ampun, itu informasi dan foto tahun berapa yaaaa….kok beda banget dengan aslinya. Tanahnya gersang, tandus, tidak bisa ditanami karena lebih banyak batuan kapur yang bukan berasal dari Pulau Serangan. Penyu-penyu tidak mau lagi bertelur di Serangan, yang tersisa hanya tempat penakaran dengan sedikit penyu. Penduduk yang menetap mayoritas paruh baya, kemana pemuda-pemudanya ya. Ditemani dengan penduduk setempat (sekarang tinggal di Denpasar) saya mendapat informasi yang cukup menyesakkan. Ketika masih terpisah dengan Pulau Bali, Serangan menjadi surga penyu, terumbu karang, dan hutan mangrove yang luas. Pura Sekenan yang dihormati masyarakat Bali sangat kental nuansa religi dan magisnya. Pulau Serangan diyakini sebagai pulau terapung dan sangat bersahabat dengan laut atau segara. Tiap kali air pasang, masyarakat cukup memukul kentongan untuk mengusir air dari daratan. Tradisi ini disebut sebagai pasang maling karena air laut yang naik ke daratan mengambil tanaman warga. Tapi masa itu telah berlalu. Reklamasi dengan dalih pengembangan wahana pariwisata menghancurkan ekosistem alami Pulau Serangan. Investor lokal dibawah naungan Bali Turtle Island Development (BTID) milik Tommy S, mereklamasi pulau serangan sehingga menambah luas pulau hingga 3x lipat. Menghilangkan berhektar-hektar pasir nyaman untuk penyu bertelur. Hingga saat ini, proyek BTID berhenti total, menyisakan kerusakan dimana-mana. Tidak ada yang bisa diharapkan dari pulau menyebabkan pemuda pindah ke kota mencari penghidupan yang lebih baik. Turis sedikit demi sedikt menetap. Sayangnya, diantara mereka bertindak sebagai phedophila. Kearifan lokal akhirnya berangsur lenyap.  Namun, setidaknya infrastruktur mulai dibangun di pulau ini. Listrik mulai dialirkan ke rumah-rumah (sejak 2002) dan dibangun jalan bypass ke pulau.

Lain lagi di Nusa Penida. Di antara tiga nusa, Penida, Ceningan, dan Lembongan, nusa terakhirlah yang paling mapan infrastrukturnya. Mungkin karena menjadi rujukan investor lokal dan asing untuk memanjakan turis asing dan domestik. Hotel hingga resort berharga jutaan /nett berjamuran di Lembongan. Sedangkan di Nusa Penida…hmm….tidak banyak hotel, paling home stay milik penduduk setempat dan bungalow milik Pemda. Nusa Penida memang belum terjamah infrastruktur dengan baik. Listrik masih kembang kempis. Meski ada AC di bungalow, kami tidak berani menghidupkan. Dijamin njegleg!!! Lebih baik tidur kepanasan dari pada bolak-balik naikin saklar di ujung pekarangan di tengah kegelapan. PLN belum bisa memasok listrik secara maksimal. Generator listrik masih minimalis. Untungnya ada Solar Home System yang dikembangkan Kementerian ESDM. SHS digunakan untuk menerangi jalan dan dialirkan ke beberapa rumah. Tapi tetap belum bisa maksimal. Sedangkan wind turbine di Bukit Mindi tidak bekerja dengan baik. Listrik yang dihasilkan hanya cukup untuk menghidupi turbi itu sendiri. Air juga masih jadi masalah. Penyulingannya tidak sempurna. Berasa payau, ga enak buat mandi dan gosok gigi. Sebenarnya di Nusa Penida banyak mata air tapi sulit mompanya ke permukaan. Airnya langsung jatuh ke laut. Sekolahnya masih jarang. Jumlah dan lokasinya tidak sepadan dengan pemukiman penduduk. Anak-anak harus jalan kaki jauh, naik turun bukit. Biasanya SD SMP dijadikan satu, namanya Sekolah Satu Atap. Nah, kalau mau ngelanjutin ke SMA harus turun ke kota kecamatan. Bedanya dengan P.Serangan, Nusa Penida belum dirusak tangan-tangan jahil. Masih murni.

Meski terpinggirkan dari gempita nama besar Bali, Serangan dan Nusa Penida punya daya tarik yang elok. Banyak spot-spot cantik. Pantainya, Pura-puranya, masyarakatnya, kulinernya. Meski miris, masih ada mutiara yang bersinar disana.