Category Archives: familicious

Photo of This Week: A Night in Thousand Doors


IMG_0936edited

Terakhir kali ke Lawang Sewu 3 tahun yang lalu. Setelah 3 tahun, banyak yang berubah. Bangunan yang dulu tidak terurus. Diyakini jadi sarang jin, memedi, para kunti, dan geng sejenis. Yang bisa masuk sesuka hati tanpa perlu bayar tiket masuk. Yang kalau mau bayar tiket tidak ada tanda terimanya alias karcis. Yang kalau mau sewa guide bayarannya sukarela. Sekarang sudah berubah. Masuk pagar sudah langsung ketemu loket tiket (10.000 untuk dewasa, 5.000 untuk anak). Tidak bisa lenggang kangkung walau hanya di halaman. Tarif guide sudah jelas (30.000 untuk waktu tak terbatas). Sudah ada ruangan khusus, seperti museum, yang berisi galeri foto sejarah Lawang Sewu. Jelas, Lawang Sewu sudah dikelola dengan profesional. Jadi lebih baik :).

Bagaimana atmosfirnya? Hmmm….tur di malam hari (dengan anak kecil dan sesepuh) pasti beda dengan tur di siang hari. Dulu tiap ruangan saya jelajahi, sampai ke loteng, toilet, dan gorong-gorong lantai bawah. Kecuali lantai bawah, saya tidak tahan bau dan pengapnya. Sekarang….ala kadarnya aja…hehehe. Yang penting misi foto-foto narsisnya tercapai :D. Sungguh, Lawang Sewu di malam hari terlihat lebih cantik. Lebih bercahaya 😀

IMG_0941edited

Menuju bangunan sayap utara. Satu-satunya bangunan yang bisa dijelajahi untuk saat ini

IMG_0942edited

Mozaik itu, tetap cantik. Sayang sedang direnovasi. Tidak bisa dijelajahi

Advertisements

Medan ohhh Medan (part 2)

Jalan-jalannya sudah bulan kapannnn… Part #1-nya sudah diposting lama beuds. Kok ya part#2-nya tidak muncul-muncul *sigh*. Kenapa ya, di otak sudah berencana mau posting ini itu. Alurnya sudah dirancang. Mulai dari prolog sampe epilog. Begitu depan layar….baybay. Musnah sudah rancangannya. Sebenarnya penyakit lama dan diidap hampir semua blogger (saya aja kali ya :D). Tapi kenapa saya jadi pengidap akut?? Oh Tuhan, kenapa? Apakah saya sedang labil blogisasi yang menyebabkan statusisasi alam maya sehingga mempersudutkan kemampuan komunikasi dan mengkudeta keinginan blogging. This is my bahasaisasi dan kosakataisme menguap. Puyeng %#$*!O#! Tidak bisa mengikuti bahasanya Vicky, jenius deh tuh orang.

Udah ah. Lanjut ngemeng-ngemeng family trip sesi Medan kemarin saja ya. Yang sebelumnya ada disini :D. Ummm… jadi, setelah menghabiskan malam horor di Danau Toba. Paginya kita bisa sightseeing sekitar hotel. Hamdalah, cuaca cerahhh…yeayyy… Dan ternyata oh ternyata, pulau Samosir tuh segaris lurus aja sama hotel kita. Jadi semalaman berdebat mana yang pulau Samosir tiada guna. Sudah tahu gelap gulita masih pada eyel-eyelan…hahaha. Dan kenapa kita sepakat itu pulaunya, karena ada tulisan Samosir gedeeee di lereng bukit :D.

Selesai sarapan, lanjut jalan-jalan yang ternyata pagi-pagi sudah ramai orang berjualan. Jamak di obyek wisata, ada kios berjejer jual souvenir khas setempat. Dari ujung ke ujung. Isinya sama. Memang rejeki ga kemana ya, biar pun jualannya sama dan tetanggaan :D. Kita coba masukin satu-satu…dan horraaaayyyyy….tidak beli apa pun!!! Souvenirnya tidak ada yang khas Batak. Sama plek-plek dengan dagangan Malioboro tinggal ganti nama aja, Danau Toba/Toba Lake, udah. Dan yang bikin keki, kaos-kaosnya kenapa corak batik jawa?? Si ibu pun ngomong

“Ituh kan yang dibuat ama tetangga kita. Tuh..tuh..apalagi kaos lukisnya”
“Ah masak sih??”
” Ih benerrr…kan kemarin liat buatnya. tulisannya toba lek”
“…”

Sayang aja ya. Mungkin ke depannya bisa buat dan jual souvenir khas Toba/Batak. Bukan souvenir “kebanyakan” dan diimpor dari pulau Jawa. Saya yakin penduduk setempat kreatip-kreatip 😀

IMG_0382

Dari Danau Toba kita lanjut perjalanan pulang tapi lewat rute yang berbeda. Niatnya mau mampir ke Brastagi, main-main ke Taman Lumbini atau Simalem atau HillPark. Sayang, baru masuk kota Brastagi sudah macet sampaiiiiii ke luar kota T_T. Lihat antrian ke taman Simalem sudah jiper duluan. Babay babay dah semuanya. Daripada kemalaman sampai Medan, tidak bisa putar-putar kota, dan pricils si anak batak jadi crancky. Yasud.

Oya, sepanjang perjalanan menuju Brastagi yang ada cuman takjub, takjub, dan takjub. Subhanallah, pemandangannya keren-keren. Ternyata danau Toba itu ular naga panjangnya. Panjang bangetttt. Menyusuri pinggir danau tidak ada habisnya-habisnya. Tiba-tiba danau ada di sisi kiri. Tiba-tiba di sisi kanan. Tiba-tiba di depan. Tiba-tiba di belakang. Tiba-tiba melihat dari atas. Cantiknyaaaa…onde mande. Banyak juga spot yang bisa dilihat dan belum terjamah. Ada teluk yang tersembunyi di antara dua bukit, cakepppp…seperti pantai tersembunyi. Atau ada teluk yang mirip punuk unta (ceki-ceki, ternyata memang ada spot teluk unta). Kalau ke danau Toba perlu berhari-hari dan di-eksplore satu-satu. Kayak main hidden object ga sih, cari-cari spot misterius nan ciamik. Allah kok niat banget ya menciptakan Danau Toba dan sekitarnya begitu keterlaluan indahnya. Sapuannya begitu detil. Komposisi warnanya…aduuuhhh…benar-benar manjain mata.

Sayang, dari Prapat ke Brastagi tidak bisa mampir leyeh-leyeh dan makan-makan. Banyak warung makan. Berjejer pinggir jalan. Apalagi di daerah Karo. Warung makan ga ada yang sepi. Penuh pengunjung. Mana nama-namanya bikin penasaran. Lomok lomok…makanan kek apa coba itu. Tapi ga bisa cicip, totally 100% containing pork!! Yang namanya babi panggang kecap atau babi guling betebaran dan dipajang aja gitu depan warung. Kita yang dari Jawa tidak pernah lihat begituan, takjub. Beda daerah beda tradisi, beda makanan juga. Kalau bisa dimakan, dimakannnn…. Cicip citarasanya gimana. Kalau tidak bisa, ya cukup dipandang-pandang aja :D. Ummm…satu hal yang patut dicatat, kalau makan di daerah Brastagi/Medan suka disuguhin cemilan-cemilan dalam piring kecil. Kirain suguhan selamat datang, tidak tahunya disuruh bayar. Hahaha…gagal makan gratisan.

Berantem rebutan permen. Siapa meniru siapa ya T_T

Berantem rebutan permen. Siapa meniru siapa ya T_T

Oke lanjutttt.. Dari Brastagi ke Medan masih macet aja. Plus hujan. Tidak  deras, gerimis kecil tapi awet. Kanan kiri hutan lebat. Berbukit-bukit. Belum lagi di pinggir jalan suka ada sekelompok monyet, dari yang malu-malu monyet sampai yang galak. Jadinya ga bosen, banyak yang dilihat dan cakep-cakep. Sampai di Medan menjelang sore langsung capcus ke istana Maimun. Yang ternyata lagi ada festival apaan gitu yang suka tayang di SCTV. Mirip-mirip Dahsyat, Inbox. Rame!!!!! Dan begitu sampai di tangga istana, tutup!!! Jiaaahhh….huwaaa…huwaaaa. Akhirnya bengong lesehan di lapangan. Ngeliatin orang hilir mudik. Ngeliatin panggung-panggung yang sudah ditinggal artis (katanya sih Jupe ama Sm*sh yang manggung). Ngeliatin cara anak muda Medan hang outs (sama aja ternyata dimana-mana). Ngeliatin sampah dimana-mana (ampun dah, kasihan hulubalang istananya bersihin satu-satu). Ngeliatin jendela istana, pangeran kok ga muncul-muncul sih…aku disini lhoooo. Ngeliatin jalan raya yang ruwet. Capek juga ngeliatin (dan ngomentarin :D). Berdiri, lanjut ke kampung keling buat makan malam.

Tutup??? Antiklimaks banget sihhhh

Tutup??? Antiklimaks banget sihhhh

Rapunzel versi Medan???

Rapunzel versi Medan???

Martabak India...kari kambingnya...ondeeee, lumerr di lidah

Martabak India…kari kambingnya…ondeeee, lumerr di lidah

Di kampung keling atau kampung Madras ini ada pusat kuliner, namanya Pusat Kuliner Pagaruyung (PKP). Lokasinya persis di sebelah Kuil Srimariamman. Sepintas PKP ini mirip dengan Galabo di Solo, cuman versi lebih kecil jalannya dan versi makanan serba India-Arab dan sedikit menu Cina. Kalaupun ada menu lokal, cita rasanya agak ke-India-India-an. Kedai makannya berjejer di sisi kiri kanan jalan dengan beberapa kursi di depannya. Jalannya tidak ditutup, kendaraan roda 2 masih bisa lewat. Bentor pun suka hilir mudik. Jadi kurang nyaman. Rasa makanannya?? Tidak tahu kedai mana yang enak, jadiiii….okelah rasanya :D.

Tentang Medan ini, ada satu yang benar-benar bikin dag dig dug di jalan. Segala rupa rambu lalu lintas tidak berlaku!!! Di persimpangan jalan, kamu tidak akan tahu sisi mana yang hijau sisi mana yang merah walau lampu lalin berfungsi dengan baik. Banyak yang berhenti melewati marka garis zebra dan tiba-tiba….wuzzzzz….bablas. Belum lagi bentor yang belakbelok tiba-tiba. Hanya Tuhan yang tahu maunya abang bentor *Bajaj ada temannya nih…:D*. Saya acungin jempol buat mereka yang tahan dengan lalin di Medan, pastinya tuh orang sabar banget :D.

Anyway, ingin balik lagi ke Medan. Segala keunikannya, angkutan umumnnya yang warna warni ngejreng, makannannya, aaaa….bawa aku terbang kembali padamu 😀

Isn’t She Fabulous???

Rekorrrr. Jarang-jarang bisa posting berkali-kali dalam seminggu. Sungguh bulan Ramadhan membuat saya produktif. Produktif mengerjakan hal-hal yang ringan tapi menyenangkan dan bukan kerjaan kantoran :D. Cawe-cawe pekerjaan kantor biasanya hanya bertahan sampai jam 11, setelahnya redup….kemudian hilang. Call me pegawai bandel :P.

Masih ingat iklan blueband versi nasi goreng? Saya tulis nama produknya karena suka dengan iklan ini :D. Ada dua versi cerita, versi nasi goreng dan versi roti tawar. Inti ceritanya sama, beda makanannya aja :D. Berhubung nasi goreng lebih menggiurkan apalagi bertabur pete , udang cumi sosis bakso, peudeeesss, plus bergelimang bawang goreng…nom nommm…jadi saya cerita yang versi nasi goreng aja ya. Di iklan itu, seorang anak laki-laki *imut, ganteng* suka banget dibawakan bekal nasi goreng buatan ibunya. Kalau makan nasi goreng ala ibu, semangat deh belajarnya. Sayangnya, pagi itu dia buru-buru. Kelupaan deh nasi goreng pembangkit semangatnya :(. Naaaa…untungnya si ibu tanggap, buru-buru naik sepeda, mengayuh dengan sekuat tenaga, mengejar bis kota sekolah anaknya. Sebenarnya sounds impossible sepeda bisa ngejar bis tapi ternyata bisa!! Yah itukan iklan… :(, semua bisa didramatisir. Endingnya, si anak laki imut ganteng itu akhirnya bisa makan nasi goreng dan dibagi ke gurunya supaya dapat nilai seratusss.

Pernah mengalami hal serupa ga sih?? Waktu kecil mungkin sering mengalami ya. Tapi kalau sudah besar/dewasa masih mengalami juga?? Salut deh buat anak bandel yang masih suka ngerepotin ibunya…hihi..termasuk saya :D. Siapa sangka, di usia bangkotan ini saya masih mengalami :).

Waktu itu, fajar belum sempurna. Masih lumayan gelap. Saya asyik lihatin jalan sambil menanti bang toyyib bis yang tidak datang-datang. Tiba-tiba ada yang manggil

in, ini ketinggalan!!!”

…. Melongo, ngapain nyonya rumah ngos-ngosan cari saya??

ini lhoooo…dompetmu ketinggalan, ntar ga bisa bayar bis, trus kamu ga boleh turun keneknya trus ntar disuru jadi kenek, triak-triak, trus kena knalpot, tambah item…”#okecukup, she isn’t not worried like that 🙂

….Lihat tas. Oh iya, dompet kecil yang isinya recehan-recehan ketinggalan. Tapi dompet gede yang isinya kakaknya recehan terselip manis di tas.

“hehehe…masih ada dompet gede kok, ga papa ketinggalan” Lihat ke bawah “kok nyeker??? ga pake sandal???”

iya tadi buru-buru, kelupaan. takut kamunya keburu naik bis. lari-lari tadi kesini”

Fyi, jarak rumah ke halte bis jalan kaki nyantai lebih kurang 15menitan. Melewati bak sampah umum yang kamu tidak tahu terserak barang tajam dan menjijikan apa disana. Dan rel ganda kereta beserta kerikil yang cukup tajam. 

Kejadian yang bikin meleleh hati anak durhaka ini ga cuman sekali. Pernah cukup lama saya tidak pulang karena kegiatan kuliah cukup padat. Sekalinya ada kesempatan pulang, saya malah mampir dulu ke tempat kakak di Semarangk. Tiba-tiba, siang hari (subuh sampai di Semarang) nyonya rumah menyusul. Keburu kangen katanya. Huaaaa…waaa…waaa… 

Sentuhan tangannya menenangkan. Dekapannya menghangatkan. Dengkurannya meyakinkan, kalau she is still alive *pernah pegang tangan atau dekatkan jari ke hidung ortu saat mereka tidur ga sih?? saya masih suka…:P *. Masakannya bikin kangen. Kerokannya manteppp…hahaha. Kalau ditanya, kamu suka ia yang dulu atau yang sekarang?? Saya pasti menjawab, saya suka ia yang dulu…tapi jauuuuuuhhhhhh lebih suka ia yang sekarang :D. Saya tidak sangka nyonya rumah bisa seperti ini. Anugerah terindah buat saya.

Ini bukan mamah dedeh...tapi mamah sayah :D. Love you maaakkk. :*

Ini bukan mamah dedeh…tapi mamah sayah :D. Love you maaakkk. :*

Selamat ulang tahun ya maaaakkk…Mulai sekarang di blog panggilannya emak, bukan nyonya rumah :D. Sehat selalu, tetep ceria, istiqomah…dan tetap sabar yaaaa menghadapi kita-kita yang biar pun sudah besar-besar masih suka bikin rusuh…hihi… Semoga bisa mewariskan keawet-mudaannya….qiqiqi….kebaikan emak ya. I love youuuuuuu!!!

psssttt: Selamat ulang tahun juga buat emak-emak yang lain. Setiap ibu pasti luar biasa di mata anaknya :D. 

Medan ohhh Medan (part 1 yaaa)

“Nanti di jalan, jangan lupa shalawat ya. Sama baca ayat kursy”. Abah.

Dan kita semua lupa baca karena saking senangnya mau jalan-jalan

…..

Selepas menghabiskan sepiring lontong Medan komplit. Sepiring lupis berlumur gula merah kental, yang mana sepiring itu ada dua lupis dan belasan cenil. Beberapa tusuk sate kerang *penting ditulis beberapa tusuk untuk kamuflase 😀. Dan segelas the panas. Kami lanjut pulang. Jalan kaki untuk menghilangkan segala rupa karbohidrat. Sungguh tidak signifikan penghilangannya karena jarak rumah-kedai makan kurang dari 5 menit dan sesampainya di rumah lanjut gigit-gigit keripik. Mari salahkan krucils Azra yang lama tak kunjung tiba sehingga menyebabkan kerusakan parah menu sarapan :D.

Trip ke Medan diawali dengan jalan-jalan ke Danau Toba, Parapat. Standar banget ya…hahaha… Pokoknya, belum ke Medan kalau belum ke Danau Toba!! Kami baru berangkat jam 10 waktu jam tangan. Takjub dengan energi Azra. Selalu 100% tidak habis-habis. Bayangkan, dari Penyabungan jam 7 malam. Sampai Medan jam 9 pagi. Lanjut ke Parapat dengan perkiraan 4-5 jam perjalanan. Padahal Penyabungan – Parapat cuman 2 jam saja!!! Emang niat pingin jalan bareng ya, jadi kuat-kuat terus.

Awal perjalanan tidak banyak yang dilihat. Begitu memasuki Tebing Tinggi, mata langsung segerrrr… Kanan kiri perkebunan kelapa sawit dan karet berderet rapi. Dulu menanamnya pakai meteran apa ya, bisa pas gitu ukurannya. Tidak sedikit perkebunan yang agak menjorok ke dalam dan menyisakan ruang kosong berumput halus untuk leyeh-leyeh. Pelintas jalan bisa istirahat disini, gelar tikar, tidur-tidur, main-main. Asal jangan iseng metik atau merusak kebun orang :D. Nah, sepanjang jalan banyak yang jualan lemang. Aiiii….langsung netes-netes air liur. Sudah lama tidak makan lemang. Pulut atau ketan yang dibakar di dalam bambu. Berminyak karena santan yang berlimpah. Dicocol di tapai ketan hitam. Rasanyaaaa….nom..nommmm… Sayangnya kita tidak berhenti di pinggir jalan karena si abang supir menjanjikan lemang batok yang rasanya maknyosss. Janji dia, kalau sudah makan lemang batok lupa sama mamang-mamang lemang yang lain :D. Dan ternyata betulllll….. Lemang batok ini endusssmarendusss *percaya lidah saya deh :P. Pilihan cocolannya pun ada dua, tapai ketan dan srikaya. Sayangnya saya kurang suka selai srikayanya, terlalu manis saya kan udah manisss.  Bentuknya berbeda dengan srikaya umumnya. Warnanya lebih coklat karena ada campuran karamel gula dan sedikit lebih encer. Bungkus duaaaa!!!

Lemangnya gede-gede...bukan lengannya yang gede, apalagi lengan saya :D

Lemangnya gede-gede…bukan lengan yang jualan yang saya maksud, apalagi lengan saya 😀

Perjalanan lanjut menuju Pematang Siantar. Dan kanan-kiri tidak lagi kebun sawit atau karet. Tapi door smeer. Bertaburan doorsmeer, kanan-kiri, bahkan cuman berselang 100 m sudah ketemu doorsmer lagi. Bukan kebun daun pintu apalagi daun jendela. Bukan pula jasa semir pintu. Tidak ada jasa pengecatan warna pintu jadi coklat, burgundy, deep purple, apalagi deep blue sea. Tetapi jasa ini juga bikin penampilan cakep, bersih, kinclong :D. Yaaa…doorsmer adalah jasa cuci mobil/motor dan tidak sedikit plus jasa tambal ban. Qiqiqi..beda daerah beda istilah ya. Unik juga. Dan terlalu banyak melihat tulisan doorsmer bisa berujung masalah buat kami juga :(.

Setelah bercanda-canda di mobil. Membat kerusakan di piring-piring warung makan Top yang spesial menyuguhkan burung goreng *burung dara gorengnya enak, renyah dan gurih, tapi sayang kecil-kecil, disajikan cuman setengah badan :P. Akhirnya sampai juga di penginapan Darma Agung Beach Hotel. Hotel sederhana tapi nyaman di pinggir danau Toba yang sampai check out tak jua saya temukan dimana beach- nya. Rate hotelnya termasuk murah, tidak sampai 400 ribu plus sarapan nasi-mie goreng . Bersih, luas, ada TV imut *ga penting nonton kalau lagi jalan :D, kamar mandinya juga bersih. Tidak ada AC, sudah adem bangettt. Kalau mau menginap disini, pesan kamar yang menghadap danau ya. Ada balkon buat menikmati danau. Dan pilih kamar mandi pakai bak supaya bisa tampung air panas *yaa,,,kalau bisa pilih :D. Karena air panasnya disediakan jam tertentu dan agak lama panasnya. Tapi jika kamu tidak mau mandi atau pecinta mandi ala 2 jari atau nyaman-nyaman aja dengan bau badan, abaikan saran ini :D.

Sayangnya, sampai disana mendung. Berkabut pula. Tidak bisa melihat danau dengan jelas. Apalagi pulau Samosirnya. Jadilah kita semua tebak-tebakan dimana pulau Samosirnya. Apalagi malam harinya ada cahaya di kejauhan yang bergerak pasti dari atas ke bawah. Itukah Samosir?? Besar amat. Kalau Samosirnya aja besar, danaunya lebih besar dong yaa. Dan betapa Allah niatnya susah ditebak ya. Tiba-tiba kasih bencana super duper maha dahsyat. Tapi setelahnya ada tempat cantik yang tercipta. Jadi dana Toba terbentuk akibat gempa vulkano-tektonik.Adalah gunung Toba, gunung purba aktif, yang memancarkan isi perutnya secara hiperaktif sekitar 74.000 tahun lampau. Tidak cukup letusan gunung. Allah juga kasih gempa sesar akibat pergeseran lempeng Indo-Australira. Kombinasi dua bencana (vulkano-tektonik) yang nyaris menamatkan sejarah hidup manusia inilah yang membentuk Danau Toba. Makanya, bentuk danau tidak bulat seperti danau lainnya yang terbentuk karena gempa vulkanik. Tetapi memanjang (sesar) dengan sisi terpanjang 90 Km (asal usul ini saya dapat dari nationalgeographic.coid) Saya tidak mengukur panjangnya, tapi saya haqqul yaqqin panjangnya. Karena pulangnya kita melewati jalur berbeda melintasi tepian Danau seperti menyusuri tepian laut. Sayang, kami tidak ke Pulau Samosir karena (1) hari sudah terlalu sore, (2) angin kencang banget plus kabut mendung, (3) dingin menusuk tulang enakanya kemulan di ranjang, (4) dititah sang maharaja babe untuk tidak menyebrang!!!.

Perahu cantik ke Pulau Samosir. Ada hubungan apakah antara Tony Fernandes dengan pemilik perahu ini???

Perahu cantik ke Pulau Samosir. Ada hubungan apakah antara Tony Fernandes dengan pemilik perahu ini???

Malam... (iye tahuuu)...enaknya ngariung di gazebo sambil nggragasin jagung bakar

Malam… (iye tahuuu)…enaknya ngariung di gazebo sambil nggragasin jagung bakar

Apakah orang Medan lihat pohon seperti orang India di pilem-pilem???

Apakah orang Medan lihat pohon seperti orang India di pilem-pilem???

Ketika malam mulai genap beringsut. Saat perut mulai teriak-teriak kelaparan. Saat lemang tapai, roti, popmie, dan chitato tidak bisa lagi membungkam. Datanglah bencana.

Sebagian besar dari kami, para tuan rumah, ke luar cari makan untuk di makan bersama di hotel. Tak lama mereka keluar. Hujan deras mengguyur disertai petir sahut menyahut. Saat mengintip di balkon….blasssstttttt….baru sekali itu lihat “pedang” Allah menyambar dataran P.Samosir. Tebal, panjang, bersinar terang. Astagfirullahhh…subhanallahhh. Jam 8 rombongan belum juga datang *elus-elus perut. Jam 9 tak terdengar ketukan di pintu dari mereka apalagi dari Sadako..hiii… Tuninut, sms masuk “in sory, ban gembes, mau diganti ban serep, sabar ya”. Baiklaaa.. Jam 10, masuk sms lagi “in, ban serepnya juga gembes. mobil ga bisa jalan, kami stuck..ga tau dimana”  Nah loooo… Menjelang jam 11 baru datang. Mobil ditinggal karena ban gembes semua. Tidak ada bengkel. Tidak ada doorsmer. Tidak ada orang yang bisa dipinjamin bannya. Keputusannya, dua pria gagah berani balik lagi ke mobil setelah mengantar para wanita dan anak-anak. Tidur di mobil. Menunggu terang. Menunggu abang-abang ganteng tukang tambal ban.

Dan kami semua makan dalam diam. Walau ditemani ikan sipora-pora khas danau Toba. Membayangkan para pria. Menggigil kedinginan. Hujan belum juga reda. Terbaca running text Metro di TV kecil, dua wisatawan Jerman terjebak hujan saat mendaki Samosir. Satu tergelincir dan dipastikan tewas. Satu masih hilang. Tiba-tiba Dhidot ngomong…

“Bu, kita tadi kan ga shalawat dan baca ayat kursy yang disuruh abah, makanya celaka terus :(“

“….”

Familycation :D

Yeayyyy….akhirnya bisa trip bareng keluarga minus para pria…hihihi. Trip ini sudah lama saya angan-angankan. Bolak-balik diceletukin. Alhamdulillah ada yang respon dan langsung dieksekusi. Sebenarnya, ada 3 trip keluarga yang saya impikan. Satu sudah terpenuhi. Satu lagi tinggal tunggu waktunya, semoga sehat semua sampai waktunya tiba ya. Dan satunya lagi….entah kapan :(. Nah, trip yang satu ini ada temanya…hihi…”back to the past, hug and shake our family”. Alias rendezvous ke kota-kota masa kecil, menemui sodara-sodara yang sudah lamaaaaa banget ga ketemu.

Awalnya ada 5 kota yang ingin saya jejaki. Sayang, masa cutinya cuman sebentar. 7 hari saja jenderal!!! Tambah sabtu minggu lumayanlah dapat 10 hari. Dan tetap dong ya ga puasss. Mana pun telunjuk pada diarahin ke saya tiap ada yang tanya “Kok sebentar???” , “Kok cepet amat siiih??”. Yaaa…situ enak liburnya panjang. Malahan ada yang tiap hari libur. Masak sih saya ditinggal, kan saya pencetus idenya…ya kann..ya kannn…

 

Tentang apa?? Siapa aja??

Sudah sebut kan ya temanya “back to the past, hug and shake your familiy”. Yup, jadi tujuan utama trip kita adalah silaturrahmi. Terutama ke sodara-sodara, kenalan-kenalan babe dan nyonya rumah. Beberapa kali saya dengar, nyonya rumah cerita tentang si ini si itu yang sebagian saya lupa wujudnya apalagi namanya. Babe pun setali tiga uang sama nyonya rumah. Dari ceritanya itu, saya kok melihat binar rindu di matanya ya. Meski tidak diucapkan, getarannya terasa….halahhh…. Jadi, keinginan untuk trip bareng makin kenceng. Dan terbukti dong ya, yang paling heboh di awal keberangkatan si nyonya rumah. Bawaan oleh-olehnya kok banyak amat. Saya yang biasanya travel-light, pusing packing bawaan sebanyak itu. Akhirnya double bag deh…hahaha.

Tapi jalan berdua aja ga seru. Akhirnya ngajak dua pricils dan kipar (kakak ipar). Dari kecil sampai SMA, ortu selalu ngajak anak-anaknya trip ke luar kota. Dan saya pingin pricils juga merasakan hal yang sama. Berhubung ortunya pada ga bisa nemenin, tantenya yang imut dan baik hati ini dong yang nemenin. Dan yang dititipin ga cuman anaknya aja, tapi duit jajan anaknya juga…..hahaha…*siap-siap ambil komisi :D. Jadi, kita berlima, para perempuan perkasa traveling ke tiga kota dengan bawaan segambreng. Gimana kolaborasinya??? Hahaha….yang jelas, banyak bersyukur sepanjang dan akhir perjalanan.

 

Kemana aja???

Rencananya mau ke lima kota masa kecil. Tapi Bengkulu dan Padang terpaksa dicoret karena waktu duitnya ga cukup :D. Kita sempat 6 tahun tinggal di Bengkulu, jadi pasti banyak kenangan dan kenalan yang tertinggal di sana. Apalagi pricil Putput juga sempat tinggal di sana. Kalau Padang sih, hanya tempat transit saat perjalanan ke Pekanbaru-Bengkulu. Jaman dulu kan mainannya bis, ga kuat naik pesawat..:D. Bermabok ria di kelok sembilan dan kepahiang. Begitu sampai di Padang, langsung makan sate padang.  Kemepyar matanya, segerrrr. Mual-mual langsung hilang. Ni mabok apa lapar tho???

Akhirnya trip diputuskan ke Batam-Pekanbaru-Medan. Belum ada yang pernah ke Batam tapi di sana ada adik nyonya rumah yang sudah lama banget ga ketemu. Pekanbaru, jelas dong ya. Tempat kita, kakak-adik lahir. Alhamdulillah masih ada yang kenal saya…haha…tapi tetepppp yang terkenal ayahnya Dhidot :D. Nah, terakhir ke Medan. Silaturahim ke besan yang sudah bolak-balik ke rumah tapi belum pernah kita datangi. Terakhir….ya pas nikahan ayahnya Dhidot…qiqiqi.

Nah, disana kemana aja? Errrrrr…ke rumah-rumah…hahaha. Kan judulnya silaturahim. Disempatin juga jalan ke tempat wisata. Kasihan pricils kalau cuman jalan-jalan dari rumah ke rumah. Tapi hanya Medan saja yang kita jelajahi karena waktu di sana lebih lama dan banyak yang bisa dikunjungi. Sedangkan Pekanbaru dan Batam…ya begitulah :P.

 

Makan apa???

Lontong sayur, lontong medan, sate padang, roti canai plus kari, lupis, gule ikan sale, udang galah, ikan belibis, martabak telor, apalagi yaaaa… Yang jelas pulang-pulang telapak kaki berasa ditusuk-tusuk tanda  kolesterol naik :D. Lha makannya serba santan dan serba dedagingan. Tapi puassss…:D. Sebenarnya beberapa ada yang jual di Solo, tapi rasanya sungguh-sungguh beda. Rasa manis masih terasa di lidah. Beda kalau dibuat langsung penduduk asli di kota asalnya. Ada juga makanan baru yang sempat kita coba dan direkomendasikan banyak orang. Sup ikan Yongkee!!! Yang sukses bikin nyonya rumah mabok ga berhenti-berhenti dan berujung kapok nyobain lagi…qiqi *pukpuk mommy. Mungkin karena kecapekan, rasa amis masih terasa di lidah, perutnya langsung berontak. Kalau buat saya sendiri, rasanya biasa-biasa saja. Tidak seheboh yang diceritakan teman. Kecuali gonggong. Kerang atau siput laut ya, yang kulitnya suka terdampar di tepi pantai. Makannya pakai dicungkil-cungkil. Isinya tak sebesar badannya, sungguh menipuhhh :D.

Dan setelahnya adalah....naik berkilo-kilo dan langsung naik kolesterolnya...*pijit-pijit telapak kaki

Dan setelahnya adalah….naik berkilo-kilo dan langsung naik kolesterolnya…*pijit-pijit telapak kaki

Satu-satunya makanan yang bikin saya merem melek adalah….nanasssss!! Hahaha…nanas pekanbaru berhasil bikin ketagihan. Rasanya manis kecut, renyah, tidak terlalu berair. Ihhh..beda banget dengan nanas jawa yang imut-imut dan ga ada rasanya. Sempat coba nanas karo juga, rasanya masih kalah dengan nanas pekanbaru…slurrrrpppp

 

Cuman bisa ngeliatin foto sambil ngencess....puasa.

Cuman bisa ngeliatin foto sambil ngencess….puasa.

Endingnya gimana???

Seneng ngeliatnya :D

Seneng ngeliatnya 😀

Sampai di rumah dengan selamat dan disambut babe dengan geleng-geleng…kenapa bawaan kalian jadi beranak pinak bercucu bercicit???  Dan sempat kebingungan mencari pricils di bandara karena kita semua sibuk melototin conveyor belt. Ternyata mereka berdua sudah mojok, milih-milih donat di DD. “Aku laparrrrr…”

Yang jelas bersyukur banget. Bukan tentang apa yang kita datangi. Tapi apa yang kita lihat dan rasakan. Masih di kesempatan buat traveling bareng-bareng. Bisa melihat dua pricils akur dan makin akrab. Bisa melihat menantu-mertua curhat-curhatan, kompak lah :D. Nyonya rumah dan besan bisa ikrib banget :D. Bersyukur kehidupan kita lebih baik. Satu pelajaran yang saya petik. Harta dan jabatan tidak menjamin kehidupan di masa tua yang baik kalau anak-anak tidak bisa mengelola dengan baik dan menyayangi anaknya. Satu-satunya harta terbaik di masa tua dan kehidupan setelahnya adalah anak yang sholeh :D.

 

Cerita jalan-jalannya ntar aja ah 😀