Sebuah Safarnama Milik Agustinus

Whoaaaa…sudah berganti tahun ternyata ya. How time flies so fast. Sudah dapat report tahunan juga dari WordPress. Dan hasilnya….postingan tahun 2013 tidak banyak. Jadi apa gunanya kemarin pasang banner “I’m Part of Post a Week”??? Hehhh??? Baiklah, supaya tahun ini lebih bersemangat, bagaimana jika saya ulas sebuah buku favorit tahun 2013 yang dibeli di penghujung akhir tahun๐Ÿ˜€. Selain sebagai posting awal tahun juga untuk mengingatkan, blog ini miskin tulisan tentang buku-buku. Percuma aja tuh ada kategori booklicious….qiqiqi.

Diantara buku kisah perjalanan yang pernah saya baca, mungkin ini yang terberat. Karena ia sama sekali tidak mengajak pembacanya menikmati keindahan tempat-tempat tujuan wisata. Indahnya Annapura yang berselimut salju. Warna warni India. Nikmatnya cita rasa Pakistan. Atau bagaimana cara menuju tempat-tempat turistik. Menemukan hal-hal semacam itu sama sulitnya menemukan jarum di tumpukan jerami. Tapi, sungguh saya suka cerita perjalanan seperti ini. Beberapa buku perjalanan yang saya punya tidak spesifik menceritakan urut-urutan perjalanan tetapi lebih berkisah makna di balik perjalanan. Sebut saja Trinity dengan Naked Travelernya (belakangan tidak lagi beli bukunya, lebih suka baca blognya :D), perjalanan Merah Putih di Benua Biru yang mengusung misi kebudayaan, atau 99 Cahaya di Langit Eropa yang kental sejarah peradaban Islam. Dan sekarang, membaca safarnama Agustinus seperti menjelajah negara dunia ketiga yang berupaya bangkit di tengah konflik, ironi, dan krisis identitas.

titik nol 1

Ini adalah buku ketiga Agustinus setelah Selimut Debu dan Garis Batas. Mengisahkan tentang ambisi Grand Overland Voyage-nya menyusuri dunia dari Beijing hingga Afrika melalui jalur darat. Sampai saat ini ia belum sampai ke Afrika. Mungkin baru separuh perjalanan. Tapi kisahnya tak habis sepanjang jalan. Membaca Titik Nol ini, seperti berjalan di atas kerikil tajam di bawah terik matahari menyusuri pegunungan berselimut salju yang menawarkan warna berbeda dari pagi hingga malam. Perih. Tapi keindahannya amatlah membius. Dan engkau tidak pernah tahu ada apa di balik pegunungan itu. Sebuah misteri, sebuah petualangan telah menantimu. Melihat covernya saya sudah bertanya-tanya, kenapa bergambar anak kecil terjun bebas tanpa kita tahu di terjun ke mana atau apa. Ke sungai kah, ke tanah kah, ke laut kah, ke kasur kah? Mungkin itu refleksi perjalanan Agustinus, menerjunkan diri ke sesuatu yang entah apa๐Ÿ™‚

Buku ini dibagi dalam beberapa episode perjalanan mulai dari Tibet, Nepal, India, Pakistan, dan berakhir di Afghanistan. Semua tempat yang ia datangi adalah daerah konflik, tingkat kriminalitas tinggi, kantong-kantong kemiskinan, kawasan bencana alam, sumber penyakit. Intinya, kawasan yang seharusnya dihindari bagi warga asing. Tapi kalau tidak dengan sengaja mengantarkan nyali, bukan Agustinus namanya๐Ÿ˜€. Seperti saat di India, ia terserang hepatitis dan terpaksa opname. Merasakan layanan kesehatan gratis bagi semua penduduk termasuk warga asing yang sayangnya….kamu terpaksa melihat seseorang sekarat di parit depan rumah sakit tanpa satu pun yang peduli. Hepatitis jadi momok perjalanan mulai dari India hingga Pakistan. Mata menguning. Bagi kita orang Indonesia mungkin penyakit yang menakutkan tapi disana….hepatitis dianggap penyakit biasa. Ragam pengobatan dari yang ilmiah sampai aneh tersedia.ย Perjalanannya di Pakistan pun punya kisah tersendiri yang luar biasa. Masuk kesana bukan perkara mudah. Hingga kemudian Agustinus berinisiatif masuk sebagai relawan pasca bencana (gempa bumi). Selama berbulan-bulan di pengungsian. Membantu yang bisa dibantu. Menyelami kehidupan warga setempat. Menjadi akrab. Sungguh pengalaman yang tidak akan bisa dibeli. Atau saat terjebak di lokalisasi di penduduk mayoritas Islam (sungguh saya baru tahu ada lokalisasi di sana, kirain…). Nasib apes perjalanan Agustinus tidak jauh-jauh dari “rob” dan…. “rape”!!

titik nol 2

Sesi pertama, perjalanan titik nol menyusuri Gunung Kailash (Tibet) dengan cara….merayap!!!

Hal yang menyenangkan dari buku Agustinus ini adalah deretan foto-foto yang luar biasa. Obyek yang dia ambil mempunyai cerita. Bukan asal jepret. Tidak banyak foto tentang obyek wisata. Lebih banyak foto orang-orang lokal yang menguatkan kisah yang ia tuturkan. Coba saja lihat websitenya, hasil bidikannya menunjukkan pengamatan tingkat dewa๐Ÿ˜€. Pantas jika dalam satu sesi perjalanannya ia melamar jadi wartawan foto supaya bisa melanjutkan perjalanan. Dan urusan foto-memfoto di kalangan wartawan ini juga sebuah ironi.

 

titik nol 3

Foto-foto ini sama sekali tidak indah๐Ÿ˜ฆ

Buku ini berat buat si pembaca. Tetapi lebih berat lagi untuk si penulis.ย Membaca buku ini, seperti menyelami perasaan si penulis. Ringan dan penuh kisah di awal. Menunjuk puncak semakin berat. Dan terjun bebas di akhir. Banyak kisah yang dituturkan antara Beijing-Tibet-Nepal. Komposisinya semakin berkurang ketika memasuki India dan Pakistan. Dan nyaris tidak ada yang dituturkan di Afganistan. Buku ini bukan kisah perjalanan Agustinus. Tetapi kisah perjalanan mengantarkan orang yang ia cintai. Energinya untuk berkisah semakin menurun. Perlu kekuatan dan keberanian maha dahsyat untuk menuliskan dan merampungkan buku ini. Dan ia berhasil. Inilah perjalanan titik nol Agustinus. Perjalanan titik nol bagi kita semua. Karena sejauh dan selama apa pun kita pergi, tetaplah kembali ke titik mula perjalanan. Titik Nol. Thanks Agustinus for sharing this beautiful moment๐Ÿ™‚

*jadi pingin baca Selimut Debu dan Garis Batas๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s