4 Jam Di Rembang

Kedua pria beda usia itu saling dorong. Siapa yang akan memencet bel pintu. Sebelumnya mereka beruntung. Menemukan alamat yang tepat hanya dalam satu belokan asal tanpa perlu perlu bertanya kanan kiri. Satu kali. Tidak ada respon. Dua kali. Sama saja. Tiga kali. Siap berbalik. Dan tiba-tiba terdengar suara grendel pintu dibuka. Selarik raut wajah wanita paruh baya muncul. Sedikit saja. Hanya separuh wajah. Tapi bisa ku lihat rumah berarsitektur Cina dengan ornamen kuno di belakangnya.ย 

“Maaf, bapak baru saja pergi ke luar kota.”

Sayang, empunya tidak di rumah :(

Sayang, empunya tidak di rumah๐Ÿ˜ฆ

……

Sebagai rombongan “kisruh” yang ogah rugi, perjalanan ke Cepu harus lebih dari sekedar menghadiri acara pernikahan. Jadilah kami, berenam -dengan komposisi yang sangat tidak menarik, 4 pria/wanita paruh baya siap pensiun, 1 pria muda cupu, dan 1 wanita muda centil :D- mendedikasikan diri travelling with no age matter๐Ÿ˜€. Tujuan utamanya singkat, Lasem!! Sisanya pelengkap perjalanan alias berhenti dan menikmati sejenak spot-spot menarik sepanjang rute perjalanan. Mengambil rute Yogya-Solo-Purwodadi-Pati-Rembang-Cepu ternyata bukan pilihan yang salah. Ada saja yang bisa dilihat di sepanjang jalan melalui kaca jendela mobil. Sekumpulan penjaja burung dan deretan pohon jati di lintas jalan Purwodadi. Bukit-bukit bau karst sejauh mata memandang menuju Pati. Dan yang paling superb menurut saya, ladang garam di sepanjang jalan pantura Pati-Rembang.

Ladang garam...sepanjang jalan pantura

Ladang garam…sepanjang jalan pantura

Sungainya ga lebar, tapi yang parkir....ondeeeee

Sungainya ga lebar, tapi yang parkir….ondeeeee

Ladang garamnya….luas banget. Kebetulan sedang musim panen garam. Banyak tumpukan-tumpukan putih dan petani yang mengumpulkan garam dengan alat khusus. Bentuknya persis seperti serokan air. Lihat petani-petani itu rasanya antara kagum, iba, dan nyeriiiii. Kagum dengan semangatnya. Iba dengan harga garam yang dihargai tak seberapa, tak sebanding dengan kerja kerasnya. Dan yang penting…nyeriiii…nyebayangin harus berpanas-panas, tanpa alas kaki nginjak-nginjak garam. Ugh…ngebayangin ada luka sedikit aja di kaki langsung berdiri bulu kuduk. Konon, garam tradisional seperti ini lebih mantap dibandingkan garam rafinasi karena masih murni belum dicampur bahan lain. Kalau tidak salah namanya garam grosok. Bentuknya serpihan-serpihan kasar. Konon untuk mendinginkan es krim abang-abang es dong dong pakainya garam grosok. Lebih lama daya dinginnya. Tapi nantinya garam-garam dari petani ini akan diolah lagi, jadi garam dapur lah, garam mandi, macem-macem.

Setelah melewati jembatan kecil tapi isinya perahu semua, akhirnya sampai juga di Rembang. Yeayyyy….Lasem di depan mata๐Ÿ˜€. Lasem ini terkenal sebagai kota tua pecinaan dan batik tulisnya. Ada banyak sentra batik Lasem tapi tujuan kami sudah pasti, ke rumah Pak Sigit Witjaksono. Hasil berburu di gugel. Pak Sigit ini tempat paling tepat mendengarkan kisah kota Lasem. Sayangnya beliau tidak di tempat. Baruuuuu aja keluar kota. Aduuuuhhh pakkk…mbok ya perginya ntar aja tunggu kita dateng gituu๐Ÿ˜›.ย 

Kawasan disini seperti kampung batik Laweyan Solo, tapi lebih tertutup dengan pagar tinggi menjulang dan rapat alias tidak terbuka. Kalau di Laweyan, hampir semua rumah punya showroom jadi bisa keluar masuk sampe pegel. Untungnya ada satu rumah yang tidak terlalu tertutup, Batik Sriti. Oke masukkkkk…. Untungnya yang punya usaha ramah dan mau menjelaskan batik-batik Lasem. Menurut si ibu, batik Lasem beda dengan batik daerah lainnya karena motifnya menggunakan motif Lotoh. Lotoh itu semacam sayuran yang berasal dari laut, masih sejenis dengan rumput laut. Bentuknya panjang bercabang-cabang dengan bulatan-bulatan kecil. Nah, bulatan-bulatan ini yang jadi ciri khas batik Lasem. Semakin banyak dan kecil motif bulatan, semakin mahal. Harga dari 200an sampai jutaan. Menurut empunya, sayur lotoh ini bisa dimakan. Dicampur dengan parutan kelapa. Saya jadi membayangkan rujak rumput laut di Pulau Serangan Bali yang enak itu. Langsung deh ambil setangkai, masukin mulut, dan…….MELOTOTTTT…asyinnnnnnnnnnnnnn!!!! Ga tahu deh emang beneran gini rasanya atau si ibu lagi berantem sama suaminya trus kasih garem banyak beneurrrr. Ada rasa amis-amis juga yang tertinggal di lidah.

Sayur lotoh, motif batik Lasem mengikuti pola lotoh ini.

Sayur lotoh, motif batik Lasem mengikuti pola lotoh ini.

Tapi kata referensi di banyak tempat, motif batik Lasem tidak cuma Lotoh. Motifnya kental dengan nuansa etnis keturunan. Mungkin karena penduduknya banyak etnis keturunan ya. Terlihat ada klenteng di ujung pintu masuk sentra. Lupa nama klentengnya apa. Yang jelas penjaganya baik banget, mbak-mbak muda dan oma-oma sepuh. Kata oma, dia udah di klenteng ini selama 39 tahun. Dan sepertinya klenteng ini terkenal. Ada potongan artikel koran yang ditempel di dinding tentang penampakan naga api saat upaca apaaa gituu…lupa…hehehe.Ini kali kedua saya masuk klenteng yang ternyata beda-beda ya ornamennya. Yang ini dindingnya penuh sketsa orang berpakaian tradisional Cina. Dewa-dewanya kali ya. Dan banyak burung merpatinyaaaaa….tsakeppppp

09rembang

kagum deh ama dedikasinya

08rembang

interior dalam, wallpaper sketsa cina. sepertinya cerita tentan apa gituuu…ga ngeti๐Ÿ˜ฆ

Merpatiii...lempar-lempar roti

Merpatiii…lempar-lempar roti

Selain batik lasem dan klenteng ada satu lagi yang tidak boleh dilewatkan. Mampir beli sirup kawisssss…. Sirup kawis ini dari buah kawis yang katanya hanya tumbuh di Rembang. Bentuk buahnya seperti delima tapi kulitnya lebih keras. Kebetulan kita mampir di toko yang persis bersebelahan dengan pabrik kawis Dewa Burung. Rasanya gimana?? Bedaaa ama sirup di pasaran. Ada rasa getir, manis, dan rasa asing di ujung lidah. Cobain deh.

Di pabrik sirup kawis pas jam bubaran

Di pabrik sirup kawis pas jam bubaran

Walaupun ada drama di sana sini selama perjalanan, maklum komposisi usianya jomplang banget…qiqiqi. Tapi tetap asyik kok. Dan inilah rombongan ciamiknyaaaaa……๐Ÿ˜€

Komposisi ciamikkk :D

Komposisi ciamikkk๐Ÿ˜€

makannnnnn

makannnnnn

ps: foto by novian ๐Ÿ˜€

7 thoughts on “4 Jam Di Rembang

    1. mebigina Post author

      wah, blm tau sayur lotoh ya. mungkin terkenal di etnis tertentu aja. soalnya pas saya makan, asistennya si ibu ngeliatin sambil bergidik…qiqiqi… makasi ya udah berkunjung, salam kenal jugaa๐Ÿ˜€

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s