Medan ohhh Medan (part 2)

Jalan-jalannya sudah bulan kapannnn… Part #1-nya sudah diposting lama beuds. Kok ya part#2-nya tidak muncul-muncul *sigh*. Kenapa ya, di otak sudah berencana mau posting ini itu. Alurnya sudah dirancang. Mulai dari prolog sampe epilog. Begitu depan layar….baybay. Musnah sudah rancangannya. Sebenarnya penyakit lama dan diidap hampir semua blogger (saya aja kali ya :D). Tapi kenapa saya jadi pengidap akut?? Oh Tuhan, kenapa? Apakah saya sedang labil blogisasi yang menyebabkan statusisasi alam maya sehingga mempersudutkan kemampuan komunikasi dan mengkudeta keinginan blogging. This is my bahasaisasi dan kosakataisme menguap. Puyeng %#$*!O#! Tidak bisa mengikuti bahasanya Vicky, jenius deh tuh orang.

Udah ah. Lanjut ngemeng-ngemeng family trip sesi Medan kemarin saja ya. Yang sebelumnya ada disini๐Ÿ˜€. Ummm… jadi, setelah menghabiskan malam horor di Danau Toba. Paginya kita bisa sightseeing sekitar hotel. Hamdalah, cuaca cerahhh…yeayyy… Dan ternyata oh ternyata, pulau Samosir tuh segaris lurus aja sama hotel kita. Jadi semalaman berdebat mana yang pulau Samosir tiada guna. Sudah tahu gelap gulita masih pada eyel-eyelan…hahaha. Dan kenapa kita sepakat itu pulaunya, karena ada tulisan Samosir gedeeee di lereng bukit๐Ÿ˜€.

Selesai sarapan, lanjut jalan-jalan yang ternyata pagi-pagi sudah ramai orang berjualan. Jamak di obyek wisata, ada kios berjejer jual souvenir khas setempat. Dari ujung ke ujung. Isinya sama. Memang rejeki ga kemana ya, biar pun jualannya sama dan tetanggaan๐Ÿ˜€. Kita coba masukin satu-satu…dan horraaaayyyyy….tidak beli apa pun!!! Souvenirnya tidak ada yang khas Batak. Sama plek-plek dengan dagangan Malioboro tinggal ganti nama aja, Danau Toba/Toba Lake, udah. Dan yang bikin keki, kaos-kaosnya kenapa corak batik jawa?? Si ibu pun ngomong

“Ituh kan yang dibuat ama tetangga kita. Tuh..tuh..apalagi kaos lukisnya”
“Ah masak sih??”
” Ih benerrr…kan kemarin liat buatnya. tulisannya toba lek”
“…”

Sayang aja ya. Mungkin ke depannya bisa buat dan jual souvenir khas Toba/Batak. Bukan souvenir “kebanyakan” dan diimpor dari pulau Jawa. Saya yakin penduduk setempat kreatip-kreatip๐Ÿ˜€

IMG_0382

Dari Danau Toba kita lanjut perjalanan pulang tapi lewat rute yang berbeda. Niatnya mau mampir ke Brastagi, main-main ke Taman Lumbini atau Simalem atau HillPark. Sayang, baru masuk kota Brastagi sudah macet sampaiiiiii ke luar kota T_T. Lihat antrian ke taman Simalem sudah jiper duluan. Babay babay dah semuanya. Daripada kemalaman sampai Medan, tidak bisa putar-putar kota, dan pricils si anak batak jadi crancky. Yasud.

Oya, sepanjang perjalanan menuju Brastagi yang ada cuman takjub, takjub, dan takjub. Subhanallah, pemandangannya keren-keren. Ternyata danau Toba itu ular naga panjangnya. Panjang bangetttt. Menyusuri pinggir danau tidak ada habisnya-habisnya. Tiba-tiba danau ada di sisi kiri. Tiba-tiba di sisi kanan. Tiba-tiba di depan. Tiba-tiba di belakang. Tiba-tiba melihat dari atas. Cantiknyaaaa…onde mande. Banyak juga spot yang bisa dilihat dan belum terjamah. Ada teluk yang tersembunyi di antara dua bukit, cakepppp…seperti pantai tersembunyi. Atau ada teluk yang mirip punuk unta (ceki-ceki, ternyata memang ada spot teluk unta). Kalau ke danau Toba perlu berhari-hari dan di-eksplore satu-satu. Kayak main hidden object ga sih, cari-cari spot misterius nan ciamik. Allah kok niat banget ya menciptakan Danau Toba dan sekitarnya begitu keterlaluan indahnya. Sapuannya begitu detil. Komposisi warnanya…aduuuhhh…benar-benar manjain mata.

Sayang, dari Prapat ke Brastagi tidak bisa mampir leyeh-leyeh dan makan-makan. Banyak warung makan. Berjejer pinggir jalan. Apalagi di daerah Karo. Warung makan ga ada yang sepi. Penuh pengunjung. Mana nama-namanya bikin penasaran. Lomok lomok…makanan kek apa coba itu. Tapi ga bisa cicip, totally 100% containing pork!! Yang namanya babi panggang kecap atau babi guling betebaran dan dipajang aja gitu depan warung. Kita yang dari Jawa tidak pernah lihat begituan, takjub. Beda daerah beda tradisi, beda makanan juga. Kalau bisa dimakan, dimakannnn…. Cicip citarasanya gimana. Kalau tidak bisa, ya cukup dipandang-pandang aja๐Ÿ˜€. Ummm…satu hal yang patut dicatat, kalau makan di daerah Brastagi/Medan suka disuguhin cemilan-cemilan dalam piring kecil. Kirain suguhan selamat datang, tidak tahunya disuruh bayar. Hahaha…gagal makan gratisan.

Berantem rebutan permen. Siapa meniru siapa ya T_T

Berantem rebutan permen. Siapa meniru siapa ya T_T

Oke lanjutttt.. Dari Brastagi ke Medan masih macet aja. Plus hujan. Tidak ย deras, gerimis kecil tapi awet. Kanan kiri hutan lebat. Berbukit-bukit. Belum lagi di pinggir jalan suka ada sekelompok monyet, dari yang malu-malu monyet sampai yang galak. Jadinya ga bosen, banyak yang dilihat dan cakep-cakep. Sampai di Medan menjelang sore langsung capcus ke istana Maimun. Yang ternyata lagi ada festival apaan gitu yang suka tayang di SCTV. Mirip-mirip Dahsyat, Inbox. Rame!!!!! Dan begitu sampai di tangga istana, tutup!!! Jiaaahhh….huwaaa…huwaaaa. Akhirnya bengong lesehan di lapangan. Ngeliatin orang hilir mudik. Ngeliatin panggung-panggung yang sudah ditinggal artis (katanya sih Jupe ama Sm*sh yang manggung). Ngeliatin cara anak muda Medan hang outs (sama aja ternyata dimana-mana). Ngeliatin sampah dimana-mana (ampun dah, kasihan hulubalang istananya bersihin satu-satu). Ngeliatin jendela istana, pangeran kok ga muncul-muncul sih…aku disini lhoooo. Ngeliatin jalan raya yang ruwet. Capek juga ngeliatin (dan ngomentarin :D). Berdiri, lanjut ke kampung keling buat makan malam.

Tutup??? Antiklimaks banget sihhhh

Tutup??? Antiklimaks banget sihhhh

Rapunzel versi Medan???

Rapunzel versi Medan???

Martabak India...kari kambingnya...ondeeee, lumerr di lidah

Martabak India…kari kambingnya…ondeeee, lumerr di lidah

Di kampung keling atau kampung Madras ini ada pusat kuliner, namanya Pusat Kuliner Pagaruyung (PKP). Lokasinya persis di sebelah Kuil Srimariamman. Sepintas PKP ini mirip dengan Galabo di Solo, cuman versi lebih kecil jalannya dan versi makanan serba India-Arab dan sedikit menu Cina. Kalaupun ada menu lokal, cita rasanya agak ke-India-India-an. Kedai makannya berjejer di sisi kiri kanan jalan dengan beberapa kursi di depannya. Jalannya tidak ditutup, kendaraan roda 2 masih bisa lewat. Bentor pun suka hilir mudik. Jadi kurang nyaman. Rasa makanannya?? Tidak tahu kedai mana yang enak, jadiiii….okelah rasanya๐Ÿ˜€.

Tentang Medan ini, ada satu yang benar-benar bikin dag dig dug di jalan. Segala rupa rambu lalu lintas tidak berlaku!!! Di persimpangan jalan, kamu tidak akan tahu sisi mana yang hijau sisi mana yang merah walau lampu lalin berfungsi dengan baik. Banyak yang berhenti melewati marka garis zebra dan tiba-tiba….wuzzzzz….bablas. Belum lagi bentor yang belakbelok tiba-tiba. Hanya Tuhan yang tahu maunya abang bentor *Bajaj ada temannya nih…:D*. Saya acungin jempol buat mereka yang tahan dengan lalin di Medan, pastinya tuh orang sabar banget๐Ÿ˜€.

Anyway, ingin balik lagi ke Medan. Segala keunikannya, angkutan umumnnya yang warna warni ngejreng, makannannya, aaaa….bawa aku terbang kembali padamu๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s