Pendidikan Kita ….

Tidak tahu ketiban sampur apa, siang-siang di kantor dapat pesan dari Dhidot. Minta tolong ambil raport . Ayah bundanya tidak bisa. Olaaa… Sampai rumah saya bilang ke eyangnya. Biar eyangnya saja yang ambil. Agak grogi juga secara belum pernah mengambilkan raport sekali pun. Mana ini sudah kelas 7. Kalau ada yang perlu dikonsultasikan ke gurunya,saya kudu ngomong apa coba?? Tapi, takdir sudah ditentukan *isssshhhh…kumat deh :D*. Mau tidak mau harus ke sekolah Dhidot. Kasihan eyangnya kalau harus jalan kaki atau naik sepeda lumayan jauh. Siang-siang panas pun.

Malamnya, dan malam-malam sebelumnya, Dhidot sering cerita gurunya begini begono begitu. Oke baiklah, sudah punya gambaran tipikal guru seperti apa. Tinggal konfirmasi, cocok tidak yang disampaikan Dhidot. Saya dan ponakan satu ini dekat banget. Apa-apa sering cerita. Seneng, karena dia memposisikan saya sebagai teman dekat bukan sebagai tante yang notabene orang tua yang cuwiwit…hehehe. Yaa…pernah ngomel-ngomel juga sih ke dia. Dan pastinya sering suruh ini itu…hahaha

Sabtu, saya ke sekolahan yang ternyata kecepatan dari jadwal bagi raport. Kalau tidak mau repot-repot, datangnya disesuaikan dengan nomor urut absen anak. Jadi, duduk manis sebentar langsung ambil raport terus pulang. Efektif juga untuk konsultasi dengan gurunya. Pelajaran buat saya karena datang terlalu cepat dan ternyata si Dhidot ini nomor urut absen paling buncit. Sungguh lama penantian itu😦. Tapi positifnya, saya bisa sedikit observasi tentang sekolah, para orang tua, guru, dan pendidikan sekolah negeri.

Karena masih banyak waktu sebelum acara, saya keliling sekolah yang ternyata tidak terlalu luas tapi padat bangunan. Ruang luas cuman lapangan sekolah. Ada masjid yang benar-benar difungsikan tidak hanya untuk praktek sholat. Shalat dhuhur, jumatan, dan dhuha pun disarankan bahkan diwajibkan. SMP saya dulu mushalanya hanya untuk praktek dan ganti baju selesai pelajaran olah raga😀. Ada aula yang berfungsi sebagai gedung serba guna. Kecil sih, tapi lumayan. Ruang prakteknya juga banyak, ada studi musik, laboratorium, ruang komputer, sampai ruang masak-masak😀. Tiap minggu Si Dhidot masak-masak lho, pelajaran tata boga katanya. Masak bolu kukus, cake, puding, bajigur. Kalah nih tantenya😀. Yang jadi pusat perhatian saya adalah toilet dan kantin. Toiletnya banyak (lebih dari 10 kalau tidak salah), bersih, airnya banyak, dan tidak bau. Hanya kurang penerangan saja. Good😀. Kantinnya bersih dan tidak dijaga alias kantin kejujuran. Kesimpulan saya, makin kesini makin bagus fasilitas pendidikan kita.

Masuk ke ruang kelas. Sudah banyak orang tua murid yang usianya sepantaran abang saya. Mayoritas di atas 40an bahkan ada yang sepuh. Mendengarkan penjelasan guru (konfirmasi, cerita Dhidot benar adanya …hehehe). Mendengarkan keluh kesah orang tua. Mendengarkan urutan peringkat kelas dan paralel. Dan saya pun jadi sedih😦.Ingin rasanya ambil suara betapa saya tidak setuju. Jadi ingat, dulu saya pernah menyampaikan ketidaksetujuan pada sekelompok ibu-ibu yang dilanjutkan dengan pandangan mencibir. “Kamu belum merasakan jadi orangtua, kok protes!!”. Iya betul, tapi saya pernah mengalami jadi anak dan murid.

Kok malah marah…hahaha.Tidak marah, cuman tidak setuju saja dengan cara berpikir beberapa orang tua dan sistem pendidikan kita. Ini hanya pendapat pribadi. Boleh tidak setuju. Saya melihat, anak dipaksa untuk baik di semua mata pelajaran. Tanpa terkecuali. Tidak peduli mereka senang atau tidak. Sekolah, guru, orang tua tidak peduli anak suka atau tidak yang penting mereka bagus di semua pelajaran. Syarat nilai minimal hanya berlaku untuk sekolah dan guru, tidak pada orang tua. Orang tua menginginkan raport anak bertabur nilai 9. Angka 8 patut diwaspadai. Angka 7 adalah aib. Angka 6 awal bencana. Angka 5 ke bawah adalah murka. Dan matematika adalah pusat perhatian. Tidak peduli nilai bagus untuk mata pelajaran lain. Peringkat atau ranking kelas benar-benar ditanyakan semua orang tua. Sungguh saya tidak mengerti pengaruhnya terhadap kehidupan anak.

Sejak SD, saya perhatikan, ponakan saya ini otak kirinya lebih dominan. Pelajaran sosial dan kesenian selalu bagus meski tidak belajar. Pernah saya tanyakan, pelajaran apa yang dia sukai, jawabnya pelajaran-pelajaran sosial. Dan terlihat di keseharian, betapa ia anak yang sangat komunikatif dan bercita-cita jadi penyiar radio. Hahaha…geli sekaligus senang saya. Sehingga kita sarankan untuk les tambahan bahasa inggris dan nanti dilanjutkan ke bahasa lain yang dia sukai. Sayangnya, itu hanya angan saya dan eyangnya. Karena orang tuanya tipikal orang tua pada umumnya (alhamdulillah, yang satu agak pengertian ama bakat anaknya).

Flashback ke jaman sekolahan dulu. Alhamdulillah orang tua tidak pernah memaksa saya belajar dan harus bagus nilai mata pelajaran ini itu. Keinginan belajar diupayakan datang dari diri sendiri agar kitanya senang. Alhamdulillah juga, sepanjang sekolah tidak jauh-jauh dari 3 besar. Saya suka matematika dan fisika. Saya benci biologi dan kimia. Saya senang tapi tidak suka mendalami sejarah dan geografi. Meski suka matematika dan fisika, tidak semua materi saya sukai. Favorit saya bangun ruang. Saya bisa mengimajinasikan garis-garis maya. Integral dan diferensiasi bikin saya mules😀. Di pelajaran biologi saya hanya suka menggambar sel-sel tanpa tahu nama dan fungsi bagian-bagiannya😀. Bisa ditebak kan ya saya itu seperti apa🙂.

Tidak semua pelajaran anak sukai. Dan tidak semua materi di pelajaran itu anak kuasai dan sukai. Saya pikir dengan memperhatikan kecenderungan anak, akan mudah bagi kita untuk mengarahkan mereka. Tanpa perlu tes ini itu yang mahal biayanya hanya untuk tahu bakat anak. Memang perlu waktu. Tapi saya rasa akan lebih bijak dan baik untuk anak. Sepertinya, bukan jaman lagi memaksa anak untuk menjadi ini itu hanya karena orang tua dulu ingin jadi ini itu tapi tidak kesampaian😀.

Alhamdulillah pernah jadi guru di sekolah inklusif, walau hanya 1 tahun…hehehe. Saya jadi belajar menghargai anak. Selain melihat dari orang tua mendidik ya. Di sana, kami melihat semua anak cerdas, dengan bidang kecerdasan yang berbeda-beda. Tidak bisa memperingkatkan anak karena perbedaan itu. Si A hebat di Matematika tapi tidak di IPS. Yang hebat di IPS adalah si B. Dan si B tidak hebat di kesenian karena ada Si C. Tapi tidak tertutup kemungkinan ada si D yang multitalent😀. Dan proses menuliskan laporan (raport) adalah proses yang panjaaaaaaangggg dan meletihkan. Karena isi raportnya bukan nilai, tapi komentar. Bayangkan, mengkomentari 20 anak per mata pelajaran. Tinggal di kali aja. Fuiiihhhh… Sepertinya bagus, di sekolah anak bebas memilih pelajaran yang mereka sukai. Dan ada bimbingan bagi mereka (anak dan orang tua) yang masih bingung.

Berharap, ketika tiba masanya, pola dan sistem pendidikan kita sudah berubah. Kalau pun belum, semoga punya dana lebih dari cukup untuk menyekolahkan anak ke sekolah baik yang pasti muahalll biayanya😀.

2 thoughts on “Pendidikan Kita ….

  1. Mr.Fzx

    setuju. pendiikan kita mmg trlalu fokus pada kcerdasan logis dan mngabaikan kreatifitas.
    orientasi lbih pd nilai bukan ilmu. trims sharenya sist ^^

    Reply
    1. mebigina Post author

      sama-sama. iya nih, sedih lihat sistem pendidikan kita. terutama yang di sekolah negeri. ummm…lebih bagus di sekolah internasional, tapi kok ya muahalll😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s