Short Trip (part-1): Berburu Lobster di Ngrenehan

Jadi, mana lobsternya?? Ga adaaa…hehe

Niatnya mau melipir sebentar cari spot-spot cantik di seputaran Jogja. Minggu kemarin pada sepakat mau main ke Pantai Indriyani. Tapi apa di kata, yang dinanti tak kunjung terlihat batang hidungnya. Padahal dia tumpuan harapan satu-satunya tim kisruh…hihi. Bubar jalan deh rencana kita. Satu-satu anggota mulai gelisah. Hilir mudik sana sini. Saya yang awalnya anteng- kalau datang yuk jalan, kalau ga datang ya sudah- jadi ikut-ikutan resah. Memang benaran tim bikin kisruh deh. Menjelang siang pun ga nongol-nongol, sampai ada yang usul ke Pantai Depok aja yang dekat buat “tombo loro”. Dari pada beneran bubar. Begitu mau siap-siap, yang dinanti datang juga. Yeayyyy….alhamdulillah, mashadi datang juga

Jadi main ke Indrayani dong?? Gaaaa…hihihi

Sudah terlalu siang, kasian emak-emak kalau pulangnya kemalaman. Mana pun tim kisruh ini isinya dari lanjut usia sampai yang imut-imut kek saya  muda. Kalau kita yang muda-muda sih ayuh ayuh aja. Akhirnya pun, masahadi mengusulkan ke Ngrenehan dan Ngobaran. Mulai dong ya dia promo ini itu. Ga lupa promo lobster yang katanya segar-segar dan terjangkau. Kita yang dengerin cuman plonga plongo sambil ngences langsung teriak YAAAA!!!

Jadinya ke Ngrenehan dan Ngobaran nih? IYAAAAA… Pasti?? PASTIIII!!!!

Dua pantai ini letaknya berdampingan hanya dibatasi tebing tinggi nan curam. Lokasinya sebelum Baron, Krakal, Kukup, dan kawan-kawan. Pantai-pantai di pesisir Gunung Kidul ini memang sejalur dengan karakter hampir-hampir mirip. Ombak tidak terlalu tinggi/besar dan dikelilingi bukit karst. Sedaaappp semua. Saya tidak cerita bagaimana jalan kesini ya. Petunjuk di sepanjang jalan jelas dan banyak kok. Yang penting sabar aja. Karena objek yang bagus itu biasanya tersembunyi dan penuh perjuangan😀. Pemandangan sepanjang jalan tidak cuman cakeppp tapi juga unik. Mulai dari penjaja belalang -itu belalang gendut-gendut, jadi ingat nyonya rumah suka belalang goreng :D- deretan pohon jati, sampai perkebunan penduduk. Gunung Kidul memang susah air ya. Itu pipa air gede banget dan panjannggg. Ga tau di mana awal dan akhirnya. Ukuran pipanya seperti pipa minyak. Tekstur tanahnya batuan kapur jadi hanya bisa untuk tanaman yang tidak boros air. Singkong dan kacang jadi pilihan utama. Sepanjang jalan banyak pohon singkong yang sudah kebayang enaknya kalau dibikin tiwul, direbus, atau digoreng sambil minum teh gula batu. Cessss…nom nom😀

Berhubung sepanjang jalan bayangin makanan terus. Semua kelaparan. Kita putuskan ke Ngrenehan dulu. Di sini ada pelelangan ikan dan los pasar ikan segar. Losnya sedikit aja tapi cukup komplit. Bawal putih, layur, cakalang, tongkol, kakap, pari, dan ikan-ikan lainnya yang ga saya kenal. Bisa beli mentah langsung atau minta mereka olah. Umumnya digoreng dan nanti bisa diolah lagi di warung makan. Sayang kemarin ga ada lobster. Udang pun tak ada. Susah kali ya dapetinnya. Pas lagi nunggu makanan matang ada nelayan yang lewat bawa gurita. Hmmm…langsung pingin ngebakar…qiqiqi… Sebenarnya pingin pari juga, digoreng tepung sepertinya enak. Tapi khawatir yang lain pada ga mau. Akhirnya beli bawal putih, cakalang, dan layur. Dibonusi ikan bulet merah, ga tahu apa namanya.

Look!! No wave at all. Pingin langsung nyemplung :D

Look!! No wave at all. Pingin langsung nyemplung😀

Karena konsepnya pelelangan ikan jadi lebih terkesan seperti desa nelayan tapi banyakan warung makannya😀. Pinggir pantai penuh kapal. Saya pikir bibir pantainya masih jauh jadi bisa main-main air sebentar. Ga tahunya, begitu jalan ke kapal terdepan udah langsung air dalam aja. Weee…. Ga landai ternyata pantainya. Ga bisa main pasir deh. Tapi airnya cukup tenang karena berada di cekungan. Jadi ombaknya sudah pecah duluan sebelum masuk pantai. Asyik😀. Kanan kirinya tebing tinggi dan hijau. Seperti pantai Parang Gesing cuman lebih sempit cekungannya.

Tebing di sisi kiri

Tebing di sisi kiri

Tebing di sisi kanan. Sedapppp

Tebing di sisi kanan. Sedapppp

Jangan bayangin warung makan disini seperti restoran ya. Seperti di Pantai Depok atau Parangtritis, Beneran warung. Kecil-kecil dan sempit. Tapi ibu-ibu yang jualan ramah-ramah.   Banyak kamar kecil juga yang cukup bersih. Jadi jangan khawatir kalau kebelet😀. Berhubung tiap kamar kecil tidak ada penjaga atau kotak amal, tapi ditulisin kamar mandi/toile umum. Saya sarankan kasih sedikit tips ya. Hitung-hitung ucapan terima kasih sudah bisa menyalurkan hajat dengan baik🙂. Dan kalau menawar ikan segar jangan sadis-sadis. Kasihan nelayannya. Pas kita datang, mereka ngelihatin dengan wajah…gimana yaa. Ga tega rasanya. Ya, ga bisa dipungkiri harga di daerah wisata kadang lebih mahal. Konsekuensi yang harus kita tanggung. Tapi kalau terpaksa menawar, tawarlah dengan bijak aja ya🙂.

Lihat perahu kek gini, masih berani nawar sadis?? Tega. Yang bijak yaa

Lihat perahu kek gini, masih berani nawar sadis?? Tega. Yang bijak yaa

Kelar makan. Yang mana ikannya enak semua walau cuman digoreng. Masih segar soalnya. Kecuali layurnya. Nyesel minta si ibu ngolah lagi jadi layur masak asam pedas. Rasa asli layurnya jadi hilang😦. Kita lanjut ke Ngobarannnn. (lanjut part 2 yaaa)

3 thoughts on “Short Trip (part-1): Berburu Lobster di Ngrenehan

  1. Pingback: Short Trip (Part 2): Ngobaran, Pantai Rasa Jogja Bali | inalicious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s