Penyeberangan Lokal yang Gile Benerrrr

Ini kali kedua sekaligus kali ketiga saya melintasi lautan naik kapal non-roro. Kapal jenis jukung yang harus dikocok-kocok luar dalem. Bikin basah dan bikin aroma minyak kayu putih beredar yang akhirnya pada jackpot hoek hoeeekkk. Goyangannya ngalahin naek roller coaster ato ontang anting. Tiap melakukan penyebrangan beginian, saya ga pernah bilang babe. Bisa spot jantung and ga tidur sampe saya pulang…qiqiqi…
Kali pertama saya nyebrang ke Nusa Penida (silahkan mampir disini๐Ÿ™‚ ). Minggu lalu saya nyebrang ke Pulau Pari di Kepulauan Seribu. Sama-sama 2 jam dan sama-sama ga karu-karuan asyiknya. Lupakan tentang perjalanannya karena rasanya tergantung cuaca dan angin. Dan sungguh tidak beruntung, angin kemarin bikin goyangan kapal makin ngeborr dan memabukkan. Jadi tidak perlu dibayangkan dan diceritakan lagi gimana rasanya naik perahu atau jukung melintasi lautan, karena rasanya….yaaa begitulah (sambil mijit mijit kepala..).

Yang bikin perjalanan ga menyenangkan adalah fasilitas dermaga. Waktu mau ke Penida, penumpang harus berbasah-basah sebelum naik perahu karena perahu buang sauh jauh dari bibir pantai dan ga ada dermaga. Kali ini harusย  berbau-bau dan bermual-mual dulu liat dermaga yang joroknya ga ketulungan. Untuk ke gugusan Kepulauan Seribu, bisa diakses melalui pelabuhan Muara Angke.

Muara Angke

Pelabuhan Muara Angke memang satu lokasi dengan pasar ikan dan TPI tapi bukan jadi alasan untuk terlihat kumuh dan minim fasilitas. Saya ga habis pikir kenapa pemerintah Jakarta membiarkan kondisi ini. Padahal banyak turis entah lokal ato asing yang datang dan pastinya menambah pemasukan daerah dari sektor wisata. Apa ga malu ya. Kalo jalan menuju TPI dan dermaga itu di-paving ato sekalian dibeton mungkin akan lebih nyaman buat pengguna terutama pejalan kaki. Ga perlu berbecek becek ria. Pasarnya ditata, dibuat saluran pembuangan supaya ga bau amis dan menurunkan kualitas ikan. Kalau tertata dengan baik mungkin banyak yang berwisata belanja hasil laut. Ditambah saung saung pengolahan ikan segar akan jadi lebih menarik.
Oke oke…saya cuma ngomong doang. Mungkin implementasinya ribet buktinya masih….yaaa gitu deh. Sayang rasanya. Denger-denger mo pilkada Jakarta yah? Mudah-mudahan Muara Angke diperhatiin ya. Keknya ada calon yang berkemauan keras tuh. Pasar-pasar di Solo jadi ciamik diatur sana sini. Saya ga mo kampanye dia ah, coz saya masih pingin dipimpin beliau…. Jangan kemana mana ya pak, jateng aja deh…hehehe.

Kenapa ya, fasilitas penyeberangan lokal sungguh tidak nyaman. Tidak nyaman buat pengunjung dan juga buat pemilik kapal/perahu. Saya yakin, pemilik kapal lumayan ketar ketir lihat atap perahunya diinjak-injak penumpang yang mau beralih dari satu kapal ke kapal lain karena ga ada dermaga. Atap kapal bisa-bisa ambrolll…. Belum lagi serempet serempet dengan kapal lain tiap kali mau bersandar. ย Ada ban sih di tiap sisi kapal, tapi tidak menjamin bebas luka lecet di body kapal. ย Dan cara parkir kapal-kapal ย sungguh tidak efisien. Berbaris berbanjar dan bershaf. Bayangin kalo kapal paling pojok belakang mau keluar, harus ngeluarin berapa kapal dulu tuh supaya bisa berlabuh. Berharap suatu saat kapal-kapal bisa bersandar di tiap dermaga. Kapan yaaaa….

3 thoughts on “Penyeberangan Lokal yang Gile Benerrrr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s