Dari “Merah Putih di Benua Biru”

Baca cerita perjalanan ke luar negeri awalnya bikin iri. Entah yang ikut agent atau bersolo travelling. Atau mahasiswa yang (sengaja) nyempetin jalan-jalan. Dan sepertinya memang agenda utamanya jalan-jalan, baru belajar, terutama yang beasiswa….hehehe…. Ga semua kok. Tapi jurus “aji mumpung” harus dilaksanakan dengan sangat baik. Cerita ke sana ke mari bikin cemburu. Buat saya yang (merasa) susah ke “luar”, sangat terhibur baca kisah mereka. Jadi tahu seperti apa sih di sana menurut opini mereka yang rata-rata..…bagos-bagosss aja. Lama kelamaan saya merasa biasa-biasa saja baca kisah mereka karena merasa “ah gitu-gitu aja”, ga ada yang spesial.

Setelah baca  “Naked Traveller”, koleksi bukunya dan ngikutin blognya, rasa iri yang sempet hilang muncul lagi. Iri karena Trinity bisa menampilkan sisi lain negara yang dia kunjungin sehingga ga berasa “ah gitu-gitu aja”. Seperti membaca ensklopedia travelling… Eh, ada ga sih ensiklopedia travelling??? Baca Naked Traveller, bikin iri saya naik ke level 2.

Tapiii…begitu baca pengalaman Erdith Arfah di Polandia, rasa iri saya langsung meroket ke level 7!!!!

Bukunya Erdith, Merah Putih di benua Biru,covernya cakep bangt

Ada banyak jalan menuju “Roma”. Dan ada banyak niat menuju “Roma”. Saya merasa, Erdith beda dengan yang lain dan pantas dapat outstanding. Berawal dari impian bisa jalan-jalan ke luar meski duit cekak, Erdith bisa mewujudkan impiannya.

Impian Erdith terwujud lewat program AIESEC  Program Exchange, semacam pertukaran pemuda. Program utamanya bukan jalan-jalan, tapi memperkenalkan budaya negara peserta di negara yang dituju, dalam hal ini Polandia. Begitu tahu program dan negara yang dituju, kaget!! Tidak bisa milih negara yang mau dituju dan ga tahu gimana memperkenalkan budaya Indonesia padahal Erdith bukan maestro seni apa pun.  Banyak seniman yang keluar negeri mempertontonkan budaya Indonesia. Mereka jago nari, jago nyanyi, jago dalang, jago-jago lainnya. Tapi Erdith bukan jagoan dimana pun. Ia harus tunjukin budaya Indonesia secara totalitas!! Totalitas!! Disinilah menariknya. Gimana cara Erdith mengenalkan budaya Indonesia dengan cara dia yang unik dan tak terduga.

  • @ apartment

Ada beberapa peserta dari berbagai negara yang ikut program. Mereka tinggal dalam satu apartment, cowok-cewek. Sekali tepuk, bisa ngenalin budaya ke banyak wakil negara. Gimana caranya? Makan pake tangan. Biasa aja kali ya makan pake tangan. Tapi seisi apartement dibuat heboh dengan kebiasaan makan orang Indonesia. Ketupat juga bikin heboh. Tahunya nasi ya begitu itu, butir-butir putih. Bayangin ketupat dikira cake…qiqi… Tapi ada yang bikin miris, karena masakan Indonesia belum dikenal luas seperti masakan Italia (salah satu housemate dari Itali dan suka masak). Karena memang masih sedikiiiiiiiit duta masakan Indonesia. Dan sedihnya, kita lebih suka masak masakan asing daripada masakan negeri sendiri. Para chef yang suka nongol di TV pun lebih suka demo masakan luar.

  • @ school

Ini tempat wajib ngenalin budaya Indonesia, dari tingkat semacam SD sampai SMA. Awalnya dicuekin, apalagi SD yang belum bisa bahasa Inggris dan susah diatur. Tapi semuanya tiba-tiba under controled dan sangaaaaaatttt antusias bermain angklung dan lihat Si Cepot. Ada gitu ya alat musik aneh bisa keluarin bunyi-bunyi merdu. Jadi ingat atraksi Udjo memecahkan rekor bermain angklung di AS atas prakarsa Kedubes Indonesia. Awalnya sedikit yang daftar. Begitu dimainkan, orang-orang langsung berdatangan sampai di luar perkiraan. Pada teriak….more…morrreeee…..morrrrrrrreeee….bangga ga tuh.

  • @ bus

Yang ini benar-benar aksi nekad Erdith. Beraksi seperti pengamen sekaligus tukang jualan obat di bis cuman buat mainin satu lagu pake angklung. Surprise!!! Pada suka

Senang lihatnya, seorang Erdith yang biasa-biasa aja bisa jadi duta bangsa tanpa disuruh-suruh, tanpa sponsor (pakai sponsor juga nodong-nodong… :D). Dan apa yang diberikan Tuhan untuk dia? Bonus jalan-jalan keliling Eropa!! Bener-bener bikin iri. Kisah Erdith bisa dibaca di buku yang dia tulis sendiri, Merah Putih di Benua Biru. Goodread. Full recommended.

Erdith bikin iri saya ke level 7. Tapi ada yang lebih bikin iriiiii….sampai level  mentok!!! Kisah perjalanan haji via darat-nya jurnalis Jawa Pos, Bahari!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s