Solo, 266 Tahun

 

Kamis, 17 Februari 2011, Solo tepat berusia 266 tahun. Saya baru sadar, kota yang saya cintai ini sudah  tua-tua keladi. Makin tua, makin uzur, malah makin menjadi. Makin sexy. Yang sexy-sexy  itu bukannya enak dilihat.Tidak cukup dilirik. Tapi dilihatin terus sampai ngiler….Yeah, for me Solo is the sexy city. Tertata, terencana, dan njawani. Memang sih, di beberapa sudut masih mengkhawatirkan. Perlu dibenahi biar makin sexy.

Puncak ultahnya Solo ini dilaksanain hari Minggu. Pas banget. Kesan perayaan sudah terasa sejak pagi hari di car free day  Slamet Riyadi. Beberapa komnitas menggelar perfomance art. Tema besar yang saya lihat cuman dua, Solo dari masa ke masa dan Go Green. Bagus tapi annoying karena posisinya persis di tengah jalan. Praktis yang mau nonton memenuhi badan jalan dan kita-kita yang olahraga ga bisa lewat (olahraga??? Beneran lu olahraga??….qiqiqiqi). Untungnya ada satu komunitas yang sadar diri, pindah ke pinggir jalan.

Nah bener-bener puncak perayaan ada di Carnaval sore harinya. Hebat, tepat waktu. Persis jam 3 sudah jalan. Dibuka dengan The mayor, Jokowi, naik kereta kencana. Putra putri Solo yang memang cakep-cakep (kalo ga cakep ga bakal kepilih dah…). Urutan selanjutnya yang ngecewain….rombongan binaraga topless. Adu duu duhhh….apa coba kaitan mereka ama tema besarnya “Bersih kotanya, Santun masyarakatnya”. Mungkin maksudnya, biar dikata badan gede tetep santun…hihihi… Apa pun, saya kurang suka dengan penampilan mereka. Selanjutnya satu-satu dari sekolah mana, kelurahan mana, sampai kelompok mana bermunculan. Sebagian besar berciri lingkungan, entah pakaiannya, atributnya, atau slogan-slogan yang dibawa. Rombongan dari komunitas desa budaya keren juga, sepanjang jalan diem aja sambil bawa bagor sampah di kepala. Pas saya tanya dari mana diem aja. Tanya boleh liat pinnya juga diem aja. Tapi sambil nyodorin dadanya (nah lhooo…qiqiqiqi). Ada pin identitas komunitas di dada mereka. Pesannya singkat tapi sarat makna, orang Solo tuh santun-santun, peduli lingkungan, dan ga buang sembarangan. Sayangnya pesan itu jadi hilang maknanya oleh peserta karnaval sendiri. Cuek buang gelas bekas mineral, bungkus permen, tisu, dan sampah lainnya. Diingetin malah cengar cengir ga jelas. Jiaaaahhhh…sekedar numpang mejeng aja oi??

Anyhow, saya paling suka rombongan penari Itreng dari Boyolali. Dinamis. Gerakkkkk teruuussss. Lonceng di kakinya bikin suasana semarak. Biar basah kuyup dan sedikit kecewa dengan penampilan peserta, saya masih tetap cinta Solo…😀

 

 

Antusias!!!

 

 

Performance...

2 thoughts on “Solo, 266 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s