Tak Gendong, Kemana-Mana

Uji nyali menyeberangi lautan

Saya tidak pernah membayangkan akan seperti ini. Terbersit pun tidak. Di Bali lagi. Kalau di kota lain mungkin, tapi ini di Bali !! Tempat semua penduduk dunia menuju.

Perjalanan kali ini bertujuan ke Nusa Penida. Saya dan rombongan transit di Sanur. Saya tidak punya ekspektasi apa pun pada perjalanan kali ini. Pasrah dibawa kemana saja sama leader-nya. Dan leader-nya pun tidak memberikan gambaran yang jelas, sama-sama tidak punya informasi tentang lokasi yang dituju.

Lagian mau cari kemana, mbah google tidak memberikan informasi yang mencerahkan. Tiap search Nusa Penida, yang muncul Lembongan lagi Lembongan lagi (jadi 4L yah…hehehehe). Karena tidak punya pandangan apa pun, saya pilih pergi ala backpacker. Beruntungnya saya…ternyata kondisi perjalanan lebih menguntungkan bagi “penggendong” daripada “penggeret”.

Sebenarnya banyak pilihan ke Nusa Penida. Bisa melalui Pelabuhan Padang Bai di Klungkung, Tanjung Benoa, atau Sanur. Tidak ada cruise-cruiseยญ-an karena Nusa Penida memang belum menjadi tujuan wisata utama. Mungkin karena fasilitas dasar disana belum mencukupi kebutuhan pelancong seperti air, listrik, dan telepon. Kalau ada investor yang berani, hasilnya akan jauh lebih maju dibanding Nusa Lembongan.


Tenang ya yam...jangan ampe mabuk laut ya yamm

Akhirnya kami nurut aja sama leader-nya, berangkatlah kami melalui Sanur. Ternyata dari penginapan ke pelabuhan, nau’zubillah jauhnya. Ada kali 1 kilo. Berasa makhluk aneh, pagi-pagi “gendong” dan “geret” di tengah turis yang lari pagi. Beruntung pemandangannya bagus, pas matahari terbit. Baru ketahuan kenapa pasir di depan hotel/cottage cantik-cantik. Ternyata memang dibuat garis-garis, lengkung-lengkung, bulat-bulat, sama petugasnya. Jadi ga enak nginjeknya…hehehe..
Tiap lihat dermaga, saya jingkrak “Itu yaaaa???”. “BUKAN!!”. Berkali-kali liat dermaga dijawab bukan. Sampai kemudian lihat loket tiket. “NIIII…DISINI”. Trus, mana kapalnya??? Alamakkkkk…bukan kapal, tapi perahu. Dan tidak bersandar di dermaga, tapi di lepas pantaiiii…OH NOOOO. Saya bengong lihat penumpang naik. Aduh…basah-basahan sampai pinggang (itu yang tingginya kira-kira 160cm). Tiba-tiba ada yang menghampiri. “Gendong, gendong….5000 saja”, Jadi ingat pengalaman Trinity. Siapa sangka saya juga bakal ngalamin, tapi di negeri sendiri…hadohhh. Saya pilih digendong aja daripada basah-basahan dan tidak tahu apa yang akan saya temui di tempat tujuan nantinya. Pilihan gaya gendongnya ada di pundak dan ala penganten baru.

Perahu ini lebih mirip jukung untuk menyeberang di sungai. Atapnya sangat rendah. Bangkunya dari papan-papan yang dijejer. Penumpang boleh duduk dimana saja mereka suka. Didalam, ga panas tapi agak pengap dan bau muntah (yekkkkk….). Di belakang, ga panas tapi berisik dengar motor perahu dan bercampur sama karung, koper, tas, bahkan ayam. Atau di atas, panas dan berangin, bisa langsung nyebur kalau ada apa-apa. Sebagian besar pilih di atas. Menyeberang lautan luas dengan perahu yang minim fasilitas penyelamatan ini benar-benar uji nyali. Terasa sekali ombak menghantam perahu, bahkan sampai nyiprat-nyiprat ke dalam. Iri rasanya lihat cruise hilir mudik mengantar bule-bule dan wisatawan berkantong tebal. Sedangkan penduduk lokal hanya bisa menikmati fasilitas ala kadarnya. Mana sanggup mereka mengeluarkan ongkos cruise yang mahal sedangkan profesinya hanya pedagang, peternak, petani, dan buruh kasar. Mungkin baru kali ini mereka lihat ada yang mau naik perahu. Kelihatan dari pandangan aneh. Beruntung sesama Indonesia, jadi enak ngobrolnya๐Ÿ™‚. Kalau disuruh pilih, tidak ada yang mau naik perahu ini. Tapi ya emang ga ada pilihan lain. Alhmadulillah sekarang di Nusa Penida ada pelabuhan yang bisa bersandar kapal roro. Sayangnya, kapal ini baru melayani trayek Nusa Penida-Padang Bai. Lha dari Klungkung ke kota Bali kan perlu biaya lagi. Susah lho cari transportasi darat di Bali, angkutan umumnya sedikiiiitttt. Taksi dan persewaan mobil/motor lebih laris. Pulangnya kami coba naik kapal roro. Lebih nyaman, hantaman ombak tidak terlalu berasa. Tidak pakai basah-basahan. Penumpangnya sedikit. Tapi ya pengeluarannya jadi banyak buat sewa mobil ke kota Bali.

Mudah-mudahan pemerintah pusat dan daerah termasuk juga investor mau lebih memikirkan fasilitas transportasi untuk penduduk lokal. Tidak hanya memanjakan wisatawan. Rasanya kita tidak ingin terjadi musibah di tengah laut. Dan saya tidak mau basah-basahan lagi kalau mau ke Nusa Penida (turun dari perahu saya terpaksa basah-basahan, beruntung tidak sedalam di Sanur).

For your information:
* Trayek Sanur-Nusa Penida ada di jam-jam tertentu, Saya naik yang jam 07.00 waktu Bali. Harga tiket Rp.30.000 waktu tempuh 2 jam.
* Trayek Nusa Penida-Padang Bai jam 12.00 waktu Bali. Harga tiket Rp. 14.000, waktu tempuh 1,5 jam.

One thought on “Tak Gendong, Kemana-Mana

  1. Pingback: Penyeberangan Lokal yang Gile Benerrrr | inalicious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s