Menikmati Jakarta

Satu-satunya kota yang agak malas saya datangi adalah Jakarta. Kalau bukan karena urusan penting atau ditugaskan kantor, saya anti ke sana. Satu hal yang bisa membangkitkan semangat saya ke Jakarta adalah teman-teman. Kebanyakan teman jaman saya kuliah berdomisili di sana. Sekalian reunian….๐Ÿ˜€.
Kenapa ya….rasanya tidak ada yang menarik di Jakarta. Bukan karena macetnya yang bikin saya malas. Biasalah. Di Yogya juga sering macet, apalagi pas peak season liburan dan Ramadhan. Juga bukan karena saya harus bangun pagi-pagi berangkat ke lokasi tugas dan pulang larut malam. Ada hal lain yang bikin saya tidak nyaman di sana.
Setiap kali ke Jakarta, saya selalu menggunakan moda transportasi nyaman dan berada di gedung kantoran atau hotel. Dan kalau diajak jalan sama sodara, pasti ke mall dan restoran fine dining. Kemana-mana naik taksi atau mobil pribadi. Keluar masuk hotel. Window shopping ke mall besar, yang saya cuman berani liat-liat doang. Kelihatannya asyik ya, padahal bagi saya sama sekali ga asyik. Apa enaknya dengan fasilitas tersebut tanpa merasakan keramahan yang sesungguhnya. Bertemu dengan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Liat kanan kiri ketemunya tembok. Senyum dan sapaan sesuai standar operasional prosedur. Ga humanis. Atau mungkin karena saya belum menemukan sisi humanis tersebut ya…
Tapi, perjalanan saya minggu lalu sedikit melunturkan image tentang Jakarta. Dua hari saya di Jakarta, dan saya benar-benar menikmati Jakarta di hari terakhir walau hanya 2 jam. Selesai acara, saya main ke rumah teman. Saya jemput dulu dia di kantornya di daerah Gambir. Atas saran teman, saya naik bajaj dari hotel. Weeee…begitu dengar kata bajaj saya langsung kegirangan…hehehehe…. Sudah lama saya ga naik bajaj. Terakhir kali waktu masih SD…..hahaha…tuanya saya. Kebiasaan naik becak di Solo kebawa, saya ga tanya harga langsung naik. Baru deh dalam bajaj sadar, bingung ngasih berapa. Serunya naik bajaj, liat si abang bergaya ala pembalap Moto GP kawin ama F1. Gruummmmm…ngenggggg…brtbrt…brrrrrrrrrrttttttt….hahaha berisik banget. Beberapa teman yang saya jumpai tidak suka naik bajaj karena berisiknya itu. Tapi saya suka. Mungkin karena cuman sekali dua kali….kalau terus-terusan males juga…๐Ÿ˜›. Sama teman, saya dibawa ke rumahnya di daerah Sabang. Ahhhh….baru sekali ini saya jalan di gang-gang kecil di Jakarta. Ternyata cukup bersih juga ya. Hebat euy warga Jakarta. Biar kanan kirinya diapit tembok tinggi gedung-gedung ga berarti harus kumuh khan… Yang bikin saya excited lagi, saya diajak beli simping (baru denger namanya….dan langsung suka…hehehehe). Penjualnya kakek-kakek kempot-banget-pipinya-tapi-lucu. Saya diem aja lihat mereka transaksi, tiba-tiba si kakek ngeluarin plastik kacang goreng… trus kita dikasih satu-satu. Heh??? Geliii…. Kata temen, si kakek emang gitu, kalo liat kita diem aja bengong,ย  suka dikasih makanan. Mau deh berdiri bengong samping kakeknya biar dapat makanan gratis…qiqiqiqi. Saya diajak juga ke SoJong- Sogo Jongkok-. Pasar kaget barang-barang branded tapi harganya miring dan kalau transaksi sambil jongkok-jongkok. Pantesan disebut Sogo Jongkok. Barangnya memang bagus, tapi saya ga tertarik sama barang-barang yang dijual. Saya lebih tertarik sama suasana di sana. Pembeli pedagang uyel-uyelan, saya datang Jumat, pas rame-ramenya. Lapak-lapaknya kumuh. Masih bagusan pasar klithikan Bering Harjo. Seperti ini banyak diย  Solo-Yogya. Tapi saya surprise, masih ada ya yang beginian di Jakarta. Saya pikir budaya hedon menghapuskan hasrat warga Jakarta belanja ke pasar-pasar semacam ini. Lebih senang ke mall daripada pasar kaget begini.
Menjelang sore kami pisah, saya harus segera ke bandara. Di dalam bis Damri, saya masih dikasih kesempatan lihat keramaian di Passer Baru, Kemayoran. Sepertinya ada gerakan kaliย  bersih. Banyak umbul-umbul dan festival rakyat. Kalau saja masih ada waktu, pingin turun dan lihat. Seperti apa ya festival rakyat di Jakarta. Ternyata, julukan metropolitan tidak menjadikan Jakarta (terlalu) berbeda dengan daerah lainnya. Media perlu harus lebih sering meng-ekspos titik-titik tidak menjadikan Jakarta beda. Jangan hanya gedung pencakar dan mall-mall-nya saja. Kita yang di daerah perlu tahu Jakarta sebenarnya seperti apa. Nikmat juga…๐Ÿ˜€.

3 thoughts on “Menikmati Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s