Pantai Suana, Nusa Penida

Mutiara Terpendam di Bali

Pantai Suana, Nusa Penida. Hamparan ladang rumput laut

Bayangan saya tentang Bali adalah keindahan, setetes nirwana yang turun ke bumi. Kilau emas surgawi yang terpancar di horizon pantai saat matahari turun ke peraduan. Terlalu puitis ya, tapi itulah gambaran kemolekan Bali yang saya bayangkan. Dua tahun berturut-turut berkunjung ke Bali, gambaran itu lenyap sudah.
Saya baru dua kali ke Bali, itu pun atas perintah atasan menjalankan tugas sambil curi-curi waktu hang out. Saya tidak habis pikir kenapa kantor menugaskan saya ke dua wilayah yang melenyapkan gambaran keindahan tentang Bali. Tidak…tidak…kata-kata saya salah. Apa yang saya lihat tetap indah, sangat indah malah. Akan tetapi keindahan yang miris. Kok bisa ya begitu berbedanya. Kenapa saya ngomong begitu. Saya ceritakan saja deh.

Kali pertama datang, saya bertugas di Pulau Serangan, Bali. Sebelum berangkat saya gugling dulu, Pulau Serangan itu dimana, ada apa disana, bagaimana masyarakatnya, tradisi dan kebudayaannya seperti apa, serta menyempatkan ke Google Earth, lihat bentuknya seperti apa. Tidak banyak informasi yang saya peroleh selain Pulau Serangan merupakan tempat penakaran penyu terbaik se-Bali dan rumah ternyaman bagi terumbu karang. Ditambah foto-foto dari Picassa dan Photobucket, saya mendapat kesan pulau ini masih perawan. Begitu menginjakkan kaki, informasi yang saya peroleh langsung amblas.

Ya ampun, itu informasi dan foto tahun berapa yaaaa….kok beda banget dengan aslinya. Tanahnya gersang, tandus, tidak bisa ditanami karena lebih banyak batuan kapur yang bukan berasal dari Pulau Serangan. Penyu-penyu tidak mau lagi bertelur di Serangan, yang tersisa hanya tempat penakaran dengan sedikit penyu. Penduduk yang menetap mayoritas paruh baya, kemana pemuda-pemudanya ya. Ditemani dengan penduduk setempat (sekarang tinggal di Denpasar) saya mendapat informasi yang cukup menyesakkan. Ketika masih terpisah dengan Pulau Bali, Serangan menjadi surga penyu, terumbu karang, dan hutan mangrove yang luas. Pura Sekenan yang dihormati masyarakat Bali sangat kental nuansa religi dan magisnya. Pulau Serangan diyakini sebagai pulau terapung dan sangat bersahabat dengan laut atau segara. Tiap kali air pasang, masyarakat cukup memukul kentongan untuk mengusir air dari daratan. Tradisi ini disebut sebagai pasang maling karena air laut yang naik ke daratan mengambil tanaman warga. Tapi masa itu telah berlalu. Reklamasi dengan dalih pengembangan wahana pariwisata menghancurkan ekosistem alami Pulau Serangan. Investor lokal dibawah naungan Bali Turtle Island Development (BTID) milik Tommy S, mereklamasi pulau serangan sehingga menambah luas pulau hingga 3x lipat. Menghilangkan berhektar-hektar pasir nyaman untuk penyu bertelur. Hingga saat ini, proyek BTID berhenti total, menyisakan kerusakan dimana-mana. Tidak ada yang bisa diharapkan dari pulau menyebabkan pemuda pindah ke kota mencari penghidupan yang lebih baik. Turis sedikit demi sedikt menetap. Sayangnya, diantara mereka bertindak sebagai phedophila. Kearifan lokal akhirnya berangsur lenyap.  Namun, setidaknya infrastruktur mulai dibangun di pulau ini. Listrik mulai dialirkan ke rumah-rumah (sejak 2002) dan dibangun jalan bypass ke pulau.

Lain lagi di Nusa Penida. Di antara tiga nusa, Penida, Ceningan, dan Lembongan, nusa terakhirlah yang paling mapan infrastrukturnya. Mungkin karena menjadi rujukan investor lokal dan asing untuk memanjakan turis asing dan domestik. Hotel hingga resort berharga jutaan /nett berjamuran di Lembongan. Sedangkan di Nusa Penida…hmm….tidak banyak hotel, paling home stay milik penduduk setempat dan bungalow milik Pemda. Nusa Penida memang belum terjamah infrastruktur dengan baik. Listrik masih kembang kempis. Meski ada AC di bungalow, kami tidak berani menghidupkan. Dijamin njegleg!!! Lebih baik tidur kepanasan dari pada bolak-balik naikin saklar di ujung pekarangan di tengah kegelapan. PLN belum bisa memasok listrik secara maksimal. Generator listrik masih minimalis. Untungnya ada Solar Home System yang dikembangkan Kementerian ESDM. SHS digunakan untuk menerangi jalan dan dialirkan ke beberapa rumah. Tapi tetap belum bisa maksimal. Sedangkan wind turbine di Bukit Mindi tidak bekerja dengan baik. Listrik yang dihasilkan hanya cukup untuk menghidupi turbi itu sendiri. Air juga masih jadi masalah. Penyulingannya tidak sempurna. Berasa payau, ga enak buat mandi dan gosok gigi. Sebenarnya di Nusa Penida banyak mata air tapi sulit mompanya ke permukaan. Airnya langsung jatuh ke laut. Sekolahnya masih jarang. Jumlah dan lokasinya tidak sepadan dengan pemukiman penduduk. Anak-anak harus jalan kaki jauh, naik turun bukit. Biasanya SD SMP dijadikan satu, namanya Sekolah Satu Atap. Nah, kalau mau ngelanjutin ke SMA harus turun ke kota kecamatan. Bedanya dengan P.Serangan, Nusa Penida belum dirusak tangan-tangan jahil. Masih murni.

Meski terpinggirkan dari gempita nama besar Bali, Serangan dan Nusa Penida punya daya tarik yang elok. Banyak spot-spot cantik. Pantainya, Pura-puranya, masyarakatnya, kulinernya. Meski miris, masih ada mutiara yang bersinar disana.

2 thoughts on “Mutiara Terpendam di Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s