Shine of Lawang Sewu

Shine of Lawang Sewu

Meski sering ke Semarang baru sekali ini saya mengunjungi Lawang Sewu.  Sambil menunggu kereta selanjutnya, saya dan duo ibu-ibu sepakat ke Lawang Sewu. Dari pada bengong  5 jam di stasiun. Pergi bareng ibu-ibu berarti traveling ala koper…hehehe. Keuntungan buat saya, ga perlu capek-capek, dibayarin pula.

Semarang terkenal dengan kota tua-nya. Banyak bangunan tua di pinggir jalan yang dibiarkan apa adanya. Tidak menerima sentuhan renovasi.  Cat dinding terkelupas, kaca-kaca jendela pecah,  lumutan… spooky banget kalau lewat malam-malam. Bangunan lama yang terawat bisa dihitung jari. Gereja Bledug salah satunya. Dindingnya putih bersih. Dengan kubah jingga. Memikat dari kejauhan.

so many rooms...so many doors

Lawang Sewu termasuk bangunan yang sama sekali tidak terawat. Atau memang dibiarkan seperti itu ya karena imej-nya sebagai bangunan Casper dan kawan-kawannya. Berapa kali coba acara sejenis uji nyali syuting di sana. Sampai-sampai terekam di benak pengunjung keangkeran bangunan . Ibu-ibu pun ga brehenti-hentinya nyebut kata “uji nyali”. Saya yang awalnya biasa-biasa aja jadi jiper juga…😦.

Masuk ke Lawang Sewu sebaiknya dipandu sama guide. Secara pintu dan ruangannya banyak banget. Dari pada ke sasar dan lebih bisa meng-eksplor Lawang Sewu dengan baik plus sejarahnya. Katanya ada 1000 pintu di sini. Menurut saya sih kurang dari seribu. Terlalu hiperbolic. Tapi jelas buanyaaakkkk…ratusan kali ya. Dulunya bangunan ini dijadikan jawatan kereta apinya Belanda, Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun tahun 1094. Di lantai 1 ada loket tempat penjualan tiket kereta api yang melintas di tengah kota.  Lama tidak terpakai kemudian digunakan untuk kantor Kodam Diponegoro. Sampai sekarang mangkrak.

Tugu dari jendela loteng Lawang Sewu

Sebagai komoditas wisata, kita disuguhkan arsitektur bangunan yang baik. Bisa bertahan hingga saat ini. Tidak banyak yang dilihat di dalam bangunan. Kosong blong…sama sekali tidak ada furnitur.  Oleh pemandunya, kami dibawa sampai ke loteng yang dijadikan area logistik yang berdekatan dengan tangki penyimpanan air. Saya pikir disitu tempat menyimpan lonceng karena kalau dilihat dari luar terlihat menara. Ternyata didalamnya tangki. Asli di sini bau pup-nya kelelawar. Yang menarik, bisa melongok persimpangan tugu muda dari jendela loteng. Ada juga jalan pintas dari lantai 2 ke loteng. Tapi ya ampunnn…jalan pintasnya berupa tangga sempit melingkar-lingkar. Mending muter deh daripada lewat sana. O ya, bangunan ini terdiri dari 4 lantai, termasuk basement. Sama pemandu, kita tidak dibawa ke basement. Dia hanya kasih lihat jalan menuju tempat uji nyali. Ga tahu tempat uji nyali sama atau tidak dengan basement. Yang jelas tidak bisa disebut pintu masuk, karena seperti tingkap di tanah yang ditutupi seng. Dan kami sama sekali tidak berminat ke sana….hehehehe…

Hebohnya, bangunan segede ini minim toilet. Toiletnya ada di ujung-ujung bangunan. Bayangkan kalo kebelet….weeee…lari-lari ke toilet. Iya kalau hapal letaknya, kalau ga…bisa kesasar saking banyaknya ruang dan pintu.

Satu lagi, kami diperlihatkan ruang tempat syuting Ayat-Ayat Cinta. Yah begini doang… Ruangan 4×4 meter tanpa furnitur apa pun. Siapa sangka ini dulunya tempat syuting. Membayangkan, apa ya yang ada di benak sutradaranya kok milih tempat ini…hmmm….

3 thoughts on “Shine of Lawang Sewu

  1. noora

    Assalamualaikum Ina, pakabar ? sekarang aku pindah Semarang.
    aku lho na orang semarang belum pernah masuk2 Lawang sewu? …….
    Jogja minggu2 ini macet ya

    Reply
  2. Pingback: Photo of This Week: A Night in Thousand Doors | inalicious

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s