Nonton Wayang di TOILET FREE STATION

Kemana pergi saya selalu membawa air minum putih di dalam tas. Saya mudah sekali dehidrasi. Masih dalam batas wajar sih. Menurut dunia kesehatan, tubuh manusia membutuhkan asupan mineral minimal 1 jam sekali dalam kadar cukup. Kerongkongan terasa kering sudah menunjukkan kita dehidrasi tingkat sedang. Apalagi kalau air seni berwarna kuning pekat (mendekati oren tua), itu sudah menunjukkan dehidrasi tinggi.

Sebenarnya aktivitas saya tidak banyak mengeluarkan keringat, tapi karena banyak duduk di depan computer dan selalu bepergian, saya harus memperbanyak minum. Dalam ransel saya selalu tersedia botol mineral 600ml. Dalam sehari bisa habis 2 botol. Sekarang harga air mineral naik dan saya merasa kok jadi tidak bersahabat dengan bumi ya. Tiap hari beliiiiii mulu. Akhirnya saya beli botol minum isi 1 lt. Beban ransel langsung nambah. Ya sutralah, demi bumi tercinta.
Seringnya minum membuat saya jadi bolak balik ke toilet. Repotnya kalau dalam perjalanan. Toiletnya jorok, bau, airnya se-iprit, disuruh bayar lagi. Menyiksa. Kerapnya bepergian dengan kereta api membuat saya jadi pengunjung tetap toilet stasiun. Saya jadi suka memperhatikan toilet tiap stasiun. Bagi saya, bersih tidaknya toilet menunjukkan kemampuan manajemen dalam melayani konsumen. Toilet kan termasuk dalam Customer Responsibility Management..hehehe..
Sebelum diberlakukan kebijakan baru, tiap masuk toilet stasiun kita harus bayar. Ada yang 1500, ada yang 1000. Malah satu stasiun yang punya 2 toilet tarifnya bisa beda-beda. Masuk peron bayar, ke toilet juga bayar. Capeee deh. Mending toiletnya nyaman, ini bau kecoak dan kotor. Tidak heran, karena pengelolaan toilet diserahkan pihak ketiga, bukan dikelola oleh PT. KAI meski berada di lingkungan stasiun. Dan PT. KAI pun tidak menerapkan aturan standar pengelolaan toilet. Padahal kalau konsumen mengeluh kondisi toilet kan larinya ke PT.KAI bukan ke pihak ketiga.

Nah, sekarang kebijakan berubah. Toilet di stasiun tidak pungut bayaran. Mau pipis, BAB, mandi, atau numpang ngaca doang gratis.Horeee…. Jangan senang dulu, soalnya tarif peron naik. Strategi marketing yang ga OK. Sayangnya, kebijakan ini tidak berlaku untuk stasiun kecil. Kalau saya menyebutnya stasiun eselon 3 ke bawah. Mereka masih boleh menarik pungutan toilet asal kondisi toilet benar-benar diperhatikan.
Awal pemberlakuan, pengelola toilet stasiun Tugu masih menaruh kotak pungutan di depan pintu. Banyak pengunjung yang belum tahu. Sejak mengetahui kebijakan baru tersebut, saya tidak pernah masukin duit. Dilihatin melulu sama pengelolanya. Yeyyyy… Lama kelamaan posisi kotak di geser ke pinggir…ke pinggir…depan mushala… Sampai akhirnya lenyap. Nah gitu dong. Kondisi toilet stasiun Tugu sudah lebih baik. Tidak lagi bau kecoak, sampahnya rutin dibuang, airnya banyak, bak mandi juga ga lumutan, dan wangi karena si bapak stand by depan pintu sambil megangin semprotan….hehehehe…Pengunjungnya juga lebih beradab. Hasil “buangan” mereka benar-benar dibersihkan sampai hilang bau dan warnanya. Selain toilet dekat mushala, ternyata stasiun Tugu punya toilet baru dekat kursi tunggu. Masih baru, bertegel putih-hitam, toilet duduk, ada tisu, 5 bilik, wastafel dengan sabun. Terlihat bersih dan wangi di pagi hari. Siang dikit…yeksss…. Air yang mengalir icrit-icrit dan pengunjung yang tidak beradab bukan kombinasi yang manis. Air semprotan dan flushnya tidak mengalir deras. Harus bolak-balik nyemprot dan nge-flush untuk meyakinkan benar-benar bersih. Sangat tidak direkomendasikan BAB disini. Orang Indonesia memang tidak terbiasa pakai toilet duduk, jadinya canggung dan kurang paham menggunakannya. Saya pernah menemukan genangan air warna kuning-kuning di lantai. Hiiii…. Padahal lantai toiletnya datar. Bisa kemana-mana tuh air.
Beda lagi dengan stasiun Jebres, Solo. Stasiun ini masih eselon tiga ke bawah, jadi toiletnya masih berbayar. Ada dua toilet yang dikelola dua orang dengan tarif yang berbeda. Toilet-tarif-mahal kurang bersih. Toilet-tarif-murah bersih, airnya banyak, dan ga bau. Ternyata toilet-tarif-murah ini memiliki pojok gudang tempat penitipan barang. Wah, buat traveler yang keliling dulu tapi malas bawa berat-berat bisa menitipkan disini. Keamanan dijamin, tapi jangan marah kalau tas tiba-tiba bawa tokei ayam karena segala macam barang dan hewan jadi satu….hehehe… Bapak yang jaga baik, boleh tukar duit receh disini.
Saya paling senang toilet stasiun Tawang, Semarang. Bersih, wangi, airnya deras, toilet jongkok, wastafel ada sabunnya, dan penerangan cukup. Tapi hati-hati pilih bilik toilet di sini. Salah pilih malah jadi tontonan. Pintu toilet terbuat dari fiberglass yang agak menerawang. Dan akan sangat terlihat jelas jika mendapat sorotan sinar dari luar. Tiga bilik mempunyai jendela yang mendapat sinar matahari dari luar. Salah satunya menghadap ke pintu masuk toilet sehingga mendapat penerangan penuh dari dalam dan dari luar. Saat sedang membasuh di wastafel, ada yang buru-buru masuk ke bilik tersebut. Saya ga sempat mengingatkan. Saking kebeletnya kali ya. Dari kaca cermin bisa terlihat ritual di dalam bilik. Dari luar pun pasti terlihat. Berasa nonton siluet wayang kulit. Doh, merasa bersalah. Mau komplain ke pengelola, kereta keburu datang. Mudah-mudahan pintu toilet stasiun Tawang segera dipertebal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s