Pantai Alam Indah, Tegal

Gamang di Jembatan

( practice make perfect…minimal terbiasa…)

3/4 bumi isinya air…air…dan air… Hebatnya, Indonesia dikelilingi air karena termasuk negara kepulauan yang termashyur. Banyak pantai indah untuk direnangi, di-snorkling-i, atau di-diving-i. Sungai-sungainya pun nikmat untuk direnangi dan di-rafting-i. Air di Indonesia tidak hanya ada di lautan, sungai, danau, ataupun, waduk, tapi bisa ada di tengah kota, di tengah sawah, dan di tengah pemukiman. Kalau ini sih namanya banjir….hehehehe

Jembatan menuju anjungan

Sebagai negara yang dikepung air, seharusnya kita sudah bisa dan terbiasa berenang. Tidak takut dan tidak panik berada di air. So enjoying melakukan perjalanan naik kapal ferry, perahu, atau pun sampan yang muat sebadan doang.Tapi banyak dari kita yang tidak bisa berenang dan teriak-teriak gelisah tiap kali naik kapal. Banyak sih orang yang main ke taman air semacam waterboom. Tapi disana kan tidak berenang, main air doang. Pakai ban yang gede-gede lagi. Mana orang di kolam banyak banget, berasa berenang di cendol. Padahal skill berenang seharusnya dimiliki oleh mayoritas penduduk Indonesia. Bukan semata milik penduduk pesisir pantai. Dengan skill renang, bisa survive kalau ada kejadian apa-apa. Pas banjir bisa survive dan tidak mudah terbawa arus. Pas naik kapal yang overload, bisa survive kalau kapalnya kenapa-kenapa (ih, jangan sampai kejadian bener ya).

Pertama kali punya hasrat renang ketika saya tinggal di Bengkulu. Waktu itu saya masih 5 tahun. Baru pindah ke Bengkulu. Senangya, rumah hanya berjarak 500 m dari Pantai Panjang. Uhhh…pagi-pagi saya diajak bapak ke pantai. Di pagi hari masih surut pantainya, bisa ke karang-karang sampai ke tengah laut. Lihat ikan warna-warni, keong-keong, ngumpulin remis. Sampai di rumah remis yang cuman segenggam direbus. Sore-sore datang lagi, main air, ngejar ombak, lihat nelayan di tengah pantai, lihat orang berenang, dan lihat orang tenggalam… Saat itu saya langsung jatuh cinta sama pantai. Ke pantai mana pun saya pasti excited… Oleh tetangga, saya diajak berenang di kolam. Wewww…pengalaman pertama pergi berenang sama anak tetangga tanpa didampingin. Sok-sok jago aja berenang, tangannya naik turun ala gaya bebas, tapi kaki jejak di lantai…hehehehe… SD dan SMP ada kegiatan olahraga wajib berenang. Pelan-pelan saya mulai bisa berenang. SMA mulai jarang. Kuliah kembali aktif.

Beberapa waktu yang lalu saya dinas ke Tegal. Saya paling senang dapat panggilan dinas luar kota. Kesempatan tidak masuk kantor tanpa mengurangi jatah cuti, dibayarin lagi…..hehehehe…. Ke kota mana pun saya suka, bahkan walau hanya ke Gunung Kidul. Biasanya sebelum berangkat, saya kerjakan dulu sebagian tugas, jadi bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Setelah tugas-tugas selesai dan masih ada waktu saya sempatkan main ke Pantai Alam Indah (PAI). Sebenarnya pingin ke Guci. Tapi ga tega maksa ibu-ibu yang mabok darat ke sana. Jalan naik turun, kelok-kelok. Belum sampai lokasi bisa-bisa pada teler. PAI tidak jauh dari pusat kota Tegal. Sayangnya tidak ada angkutan umum ke sana. Pilihannya naik becak, taksi, atau jalan kaki. Jangan rugi naik taksi karena trayeknya pendek. Menyewa per-jam juga tidak terlalu mahal, 35ribu/jam. Masuk PAI juga tidak terlalu mahal. Hanya ditarik retribusi satu mobil isi 5 orang sebesar 6000.

Ternyata di PAI ada jembatan panjang dengan anjungan di ujungnya yang menjorok ke tengah laut. Ada 3 jembatan yang jaraknya berdekatan. Dua jembatan pendek dan satu yang paling panjang. Satu dari dua jembatan pendek sangat dekat dengan muka air laut. Air laut bisa menyentuh dan membasahi lantai jembatan. Saya pilih jembatan yang paling panjang. Jarak lantai jembatan dan muka air laut tidak terlalu dekat. Panjangnya kurang lebih 150 meter. Setengah perjalanan saya masih enjoy. Di tengah perjalanan ada gazebo kecil dimana banyak penduduk mancing. Tiga perempat perjalanan saya mulai ketar ketir. Merasa gamang pas lihat air laut. Duh, ni kalau jembatan ambrol gimana. Bawa ibu-ibu lagi. Kalau berenang kira-kira dalam ga ya. Mana air lautnya butek lagi. Pikiran-pikiran jelek mulai meracuni. Jalan sudah mulai gemetar. Tinggal seperempat jalan menuju anjungan mata saya tertuju ke lantai ujung jembatan. Ya ampunnn…papan lantainya banyak yang copot. Mau tidak mau harus lompat. Air laut sudah membasahi beberapa bagian lantai. Waduh, di terusin ga ya. Saya mungkin bisa lompat. Lha ibu-ibunya gimana? Belum lagi cowok-cowok di ujung pada nyuit-nyuitin. Ih males banget. Belum pernah lihat cewek sampai ujung jembatan ya.

Akhirnya saya putuskan balik arah. Dah cukup bu, balik yuk. Dari pada kenapa-kenapa. Sampai di darat saya berpikir apa ya yang membuat saya khawatir dan gamang banget disana. Ternyata saya sudah lama tidak berenang. Lupa bagaimana rasanya berenang. Ga heran saya mengalami panic attack di jembatan. Ya ampun, baru jalan di jembatan aja saya sudah sempoyongan. Kayaknya memang harus membiasakan diri lagi berenang. Walaupun ngaku bisa berenang tapi kalau lama tidak bersentuhan tetap saja grogi.

Ternyata jembatan pendek kedua kondisinya lebih bagus. Lantai jembatan jauh dari muka laut dan papannya tidak bolong-bolong. Tapi saya malas ngelanjutin ke jembatan lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s