Kartun Flash Dapat Pulitzer??? Wowwww…

Hierarchy Complicitus- Mark Fiore

Pagi-pagi baca Kompas.com, Mark Fiore -kartunis Amerika- baru aja memenangkan Pulitzer . Mark Fiore membuat kartun animasi satire tentang kondisi nasional Amerika. Kebanyakan kartun-kartunnya menyindir kebijakan Amerika yang ga Pro-Wong Cilik (begituh kata orang-orang “merah”) bahkan menyindir pejabat-pejabatnya. Hebatnya, kartun Mark Fiore dijadikan salah satu konten di iTunes milik Apple.…keren ga tuh.

Kartun-kartun Mark bisa diakses di www.markfiore.com freely. Di Youtube juga ada. Tema apa saja sih yang diangkat Mark melalui kartunnya? Macam-macam. Tentang masalah gay di “Un-Gay”, Mark menyorot pernikahan para Gay yang ditolak pemerintah padahal pejabat di pemerintahan -politisnya- banyak juga yang Gay. Diskriminasi terhadap kaum gay sedangkan menurutnya real Americans do not fear homosexual. Wewww…. Lain lagi masalah yang diangkat dalam “Majority Rule”. Kemenangan Obama bukan kemenangan murni karena hanya mengantongi suara 52,1% aja. Sedangkan Founder Father, George Washington dkk, menetapkan 60% suara untuk jadi presiden. Berarti Obama ga layak dong, masih kurang 7,9% lagi. Atau yang baru-baru ini terjadi tentang pastor yang melakukan tindakan aseksual atas alasan terlalu banyak akses porno-porno. Seperti di dunia nyata, kartun berjudul “Hierarchy Complicitus” ini juga menampilkan Paus yang “bungkam”.

Gimana dengan Indoensia?
Sebenarnya Indonesia punya banyak kartunis dan animator. Kalau mainan flash aja sihhh…kecilllll… Tapi kita kurang berani menampilkan kartun satire begitu apalagi sampai dapat Award. Sedangkan yang karikatur aja masih harus memperhatikan aturan tak tertulis yang ga jelas asal usul. Sekedar untuk mengingatkan tidak apa-apa toh? Kartun yang masih bisa diterima dan dipublish, bisa dilihat di Kompas Minggu. Dari Panji Koming, Timun, Sukribo, sampai Beny & Mice. Itu karena Kompas termsuk koran yang berani.

Okelah tidak perlu membuat kartun satir. Kartun yang menghibur dan mendidik saja Indonesia masih kekurangan. Masak sih kita ga bisa buat semacam Upin Ipin. Kalau saya jelas tidak sanggup, ga punya skill. Bisanya cuman jadi kompor….hehehehe…. Masalahnya apa ya. Pusat pendidikan animasi kita punya, ide juga ga kekurangan, media penyaluran bisa (untuk sementara) mengandalkan media online. Modal??? Mungkin ini jadi masalah. Dianggap tidak menjual dibanding kartun dari luar.

Jika implementasi TV digital sesuai dengan roadmap, sangat besar peluang kartunis untuk mengisi konten program animasi di televisi. Karena yang dibutuhkan pada saat itu adalah konten, konten, konten, konten, konten, baaaaaaaa….nyakkkkk konten. Siap-siap yuk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s