NIKMATNYA JAJANAN PINGGIR JALAN

( jajanan pinggir jalanan adalah makanan yang bisa dimakan sambil jalan atau nongkrong dan dibungkus kemasan plastik )

Jajanan pinggir jalan bukan makanan berat, bukan makanan yang mengenyangkan, bahkan jauh dari kata bergizi. Tapi jajanan pinggir jalan benar-benar punya magnet untuk dikerubutin. Banyak peminatnya. Dari yang dewasa sampai kanak-kanak. Meski tiap daerah punya jajanan khas pinggir jalan, pasti ada jajanan “imigran” entah imigran lokal maupun imigran asing. Adanya jajanan imigran ini bukannya tanpa sebab. Imigran lokal biasanya merambah daerah baru karena “nama” dan “rasa”nya telah dikenal penduduk setempat dan peluang usaha yang lebih menjanjikan. Istilahnya transmigran kuliner jajanan… Mereka datang ke daerah baru membawa jajanan daerah asalnya bukan bawa cangkul, sabit, traktor seperti transmigran beneran.

Kalau saya perhatikan, transmigran jajanan umumnya berasal dari Bandung dan sekitarnya. Siapa sih yang tidak kenal batagor, siomay, cilok, cimol, cakue, tahu sumedang?? Jajanan ini sudah menasional banget. Aa’ penjual “medok” banget Sundanya. Dan apa pun yang ditawarkan dari Bandung selalu disukai. Sepertinya Bandung bukan cuman trademark fashion-nya saja yang terkenal tapi juga jajanannya. Nah, kalau imigran asing umumnya dipopulerkan para entrepreneur, diperdagangkan ala waralaba. Namanya Eropa banget tapi rasanya disesuaikan dengan selera Indonesia. Sebut saja kentang goreng yang dikembangkan menjadi “tela goreng”. Naik ga tuh pamornya singkong goreng. Yang biasanya malu makan singkong goreng jadi ga lagi tuh. Salut deh buat wirausaha muda yang jeli mengkreasi. Sisanya adalah jajanan imigran asing yang umum seperti burger, hotdog, pizza, kebab, crepes. Kemana pergi rasanya sama saja.

Tiap daerah punya jajanan pinggir jalan khas masing-masing. Sewaktu di Bengkulu, saya suka jajanan baso kojek. Terbuat dari campuran tepung pati dan ikan, dibunderin kecil-kecil, dikasih saos kacang pedas…..hmmm….yummy… Ada juga pempek panggang yang diisi ebi kering halus, kecap, dan sambal. Ugh…enak banget. Belakangan saya baru tahu, ada jajanan serba sea food yang dijajakan di sekitar benteng Marlborough dan pantai. Udang, cumi, bahkan kepiting goreng yang kremyes kremyes. Asyik banget makan di atas tembok benteng sambil memandang ke lepas pantai…wuihhhh… Kalau di Jambi, saya suka jajanan bakwan ubi jalar. Ubi jalar kuning diiris bentuk korek, digoreng dengan campurang tepung pati dan ikan gabus, makannya dengan kuah cuka. Wahhh…panas-panas enak banget. Kerupuk opak kuah sambal cair juga mantap. Kerupuk opak dari singkongnya besar-besar dan renyah. Disiram kuah sambal sampai ke tepi-tepinya, sampai benyek, dilipat-lipat, langsung masuk mulut. Uuuuu….

Lain lagi di Palembang, jajanan pinggir jalannya rupa-rupa pempek. Lenjer, selam, adaan, kulit, keriting, ebi bundar, ebi lonjong, komplit. Tidak seperti di Jawa, pempek dimakan dalam wadah piring, di Palembang pempek pinggir jalan dimasukan ke plastik dan dimakan sambil jalan, nongkrong, atau dalam angkot. Asyik banget gigit pempek yang kenyal sambil nyedot kuahnya. Saya paling suka pempek jenis ebi bundar dan ebi lonjong. Makannya tidak perlu dengan kuah. Lebih praktis.

Nyebrang ke Bandung. Jangan ditanya rupa-rupa jenis jajanan pinggir jalannya. Ada batagor kuah, batagor kering, siomay, cilok, cimol, cireng, cakue, tahu gejrot, tahu sumedang, srabi manis, srabi oncom, srabi aneka toping, baso ikan (paling saya suka!!!), bala-bala, gehu, singkong manis. Wuahhh…banyak!!! Hebatnya, rasa jajanan bisa rupa-rupa; original, pedas, keju, barbeque, jagung bakar, nano-nano. Bahkan, satu jajanan bisa dicampur dengan jajanan lain. Batagor kuah campur gehu, cakue, tahu sumedang. Hmmm…

Nah, kalau di Solo saya agak susah menemukan jajanan pinggir jalannya. Nyaris ga ada. Mungkin pameo “makan ga makan yang penting ngumpul” ini jadi alasan sulitnya cari jajanan pinggir jalan  karena orang Solo lebih senang makan ramai-ramai sambil lesehan daripada makan sendiri. Semua jajanan pinggir jalan memiliki konsep “individualis”, jajanan hanya dinikmati satu orang saja. Siapa sih yang mau nyedot makanan dari plastik yang sama…hiiii… Jajanan yang biasa dijajakan pinggir jalan adalah srabi Solo. Tapi saya tidak pernah lihat orang makannya di jalan, pasti dibawa pulang dan dimakan ramai-ramai.

Iseng-iseng analisis jajanan pinggir jalan. Cara menjajakan jajanan di daerah Sumatera beda dengan di Jawa. Di sumatera jajanan lebih sering dipikul sedangkan di Jawa lebih sering didorong. Tidak tahu kenapa. Yang kedua, kalau diperhatikan, bahan pembuat jajanan pinggir jalan umumnya dari singkong dan turunannya yaitu tepung tapioka atau pati. Ini menunjukkan bahwa jajanan Indonesia terbuat dari tepung asli Indonesia, tapioka!! Bukan terigu lho. Terigu kan asalnya dari luar. Mana kuat orang Indonesia yang menciptakan jajanan ini jaman dulu beli terigu. Mahal dan tidak bisa dibuat sendiri. Hebat ya kita. Bisa menciptakan jajanan pinggir jalan yang nikmat dari alam sendiri. Sayangnya saya belum tahu jenis jajanan pinggir jalan di daerah lain. Mudah-mudahan suatu saat bisa mencicipinya.

3 thoughts on “NIKMATNYA JAJANAN PINGGIR JALAN

  1. Benedikt_AW

    Jajan yuuukkkk jajan🙂
    Jajanan pasar / pinggir jalan memang rajanya camilan hehehhe

    Salam
    Mas Ben

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s