Rejeki Omprengan Kaliurang

Tidak bisa naik motor dan lokasi kampus jauh dari rumah adalah perpaduan yang tidak bagus (buat saya).

dari atas-bawah, penumpang cuman 2

Setiap kali ke kampus adalah saat-saat yang cukup menyiksa saya. Membayangkan lamanya perjalanan bikin saya malas duluan. Tidak bersemangat. Tapi demi amanah, harus di-ikhlas-ikhlas-in. Perjalanan pertama ditempuh dengan kereta Pramex kurang lebih 1 jam dari Solo – Yogya. Saat awal kuliah saya lebih sering naik bis karena jadwal kereta ga matching dengan jadwal kuliah.

Dari stasiun, pilihannya bis atau ojek. Kalau bis, nanti menyambung lagi di UGM. Kalau ojek, bisa langsung di depan fakultas. Waku lebih singkat tapi ongkos jelas membengkak. Naik bis rasanya pilihan bijaksana, (ngirit.com). Sampai di MM UGM saya harus ganti naik omprengan Yogya-Kaliurang. Omprengan ini sebutan saya untuk angkot berjenis elf seperti minibus.

Ompreng karena bentuknya sudah seperti kaleng rombeng. Karat dimana-mana, jok yang sudah kelihatan busa item-nya, lantainya kadang bolong-bolong, sampai-sampai bisa lihat aspal jalan. Tidak cukup itu, jalannya….alamak…mau mendaki atau menurun sama lambatnya. Kata temen, seperti siput lagi sakit perut. Lamaaaaaa….. Seharusnya jarak 9 Km bisa ditempuh kurang dari 30 menit naik motor. Ini bisa 1 jam lebih!!! Berbagai alasan ini yang bikin saya turun semangat kalau ke kampus.

Tapi, perasaan benci dengan omprengan berubah ketika saya ngobrol dengan pak supir. Saat itu ompreng agak sepi penumpang. Saya duduk di depan. Entah bagaimana mulanya si bapak mulai cerita. Ternyata okupansi perhari tidak seimbang dengan jumlah armada. Armada omprengan sangat banyak sedangkan penumpangnya sedikit sekali. Percaya. Dari UGM di Km 6 sampai Km 14 atau sebaliknya, lebih sering jumlah penumpang kurang dari 5 (kadang tinggal saya sendiri) dengan rata-rata tarif Rp. 3000-,. Agak ramai saat jam pulang sekolah dan jam bubar pasar. Per-harinya satu armada hanya bisa beroperasi 1 kali naik-turun (Condang Catur – Pakem – Condong catur) karena harus antri dengan armada lainnya. Pendapatan per hari sekitar Rp 30.000 – Rp 50.000. Jika dikeluarkan untuk bensin dan maintenance, pendapatan bersih tidak seberapa. Biaya maintenance paling besar karena mobil tua, onderdilnya susah dicari.

Masa jaya omprengan sudah berakhir sejak booming sepeda motor. Saya ingat ketika jaman kakak-kakak saya kuliah, omprengan selalu full. Belum lagi ada bis Baker. Tapi sekarang masa itu sudah berlalu. Penghasilan yang diperoleh tidak lagi besar. Hanya bisa berharap pada simbok-simbok dari pasar atau siswa SMP dan SD yang cuman bayar setengahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s