Numpang Kereta Argo Dwipangga

(attention : apa yang saya lakukan sebaiknya tidak ditiru :D)

bilik telepon

Setiap hari saya harus bolak-balik Solo-Yogya naik kereta api Pramex (Prambanan Express). Serasa pekerja di Jakarta saja yang mondar-mandir naik KRD atau KRL dari Depok, Bogor, Bekasi, bahkan Bandung.

Sebenarnya bisa saja tinggal di Yogya, tapi saya agak malas selama masih bisa numpang sama orang tua…hehehehe. Bukan ding๐Ÿ˜€. Jika dibandingkan, atmosfer di Solo lebih adem, nyaman, sejuk dibanding Yogya. Mungkin karena penghuni (termasuk pendatang) tidak terlalu banyak di banding Yogya. Dan masih banyak yang ke sana ke mari naik sepeda. Entahkah ke sekolah, ke tempat kerja, ke pasar, jalan-jalan. Jadi udaranya masih lebih bersih, menurut saya lho.

Karena tiap hari naik kereta, saya bergabung dengan komunitas pelaju atau komuter PRASOJO (Pramex Solo-Jogja). Beruntungnya, kalau mau ke Yogya di pagi hari pilihannya banyak tidak harus Pramex. Bisa menumpang Banyu Biru (Semarang-Solo-Yogya) atau Lodaya (Solo-Bandung). Begitupun dari Yogya ke Solo di sore hari, bisa menumpang Sancaka (Yogya-Solo-Surabaya), Lodaya (Bandung-Solo), atau ekonomi Pasundan (Bandung-Kediri). Dengan tiket Pramex kita bisa menumpang kereta kelas bisnis dan ekonomi tersebut.

Sayangnya, jadwal Pramex sekarang berubah. Jadwal Pramex sore mundur 15 menit jadi 16.15. Akibatnya saya harus menunggu 1 jam di stasiun. Doh, malesnya…. Biasanya saya numpang Lodaya yang masuk jam 15.45, lumayan kan 30 menit. Tapi akhir-akhir ini Lodaya sering telat.

Sampai kemarin saya lihat beberapa anggota komunitas numpang Argo Dwipangga (eksekutif Jakarta-Solo). Sebenarnya tidak boleh numpang kereta ini, tapi begitu cukup banyak yang naik saya jadi ikutan naik.

Dasar memang melanggar aturan akhirnya ketahuan. Simpel aja ketahuannya. Tidak seperti rekan lain yang duduk membaur di tengah saya pilih kursi paling belakang. Tentu saja kondekturnya hapal penumpang…kok ada penyusup nih. Terpaksalah saya sisipkan 5000 perak. Kecil sih nominalnya, tapi tetep aja salah ya. Herannya kondekturnya tidak tegas terhadap penyusup yang lain. Saya juga males mengadukan si ini dan itu. Wong salah kok nyeret-nyeret yang lain. Lain kali tidak boleh. Atau lain kali pakai strategi biar ga ketahuan?? Hahahaha…

leaflet doa perjalanan

Setidaknya saya menikmati perjalanan yang nyaman naek Argo daripada naek Pramex…hahahaha…ย  Ya iyalah bisnis-ekonomis lawan eksekutif. Oya, ada yang baru di kereta Argo. Selain majalah kereta bulanan seperti majalah di pesawat Garuda, ada pamflet doa-doa perjalanan untuk 5 agama (muslim, katolik, protestan, hindu, dan budha). Bagus nih, buat mengingatkan yang lupa.

Plus ada bilik kecil khusus menelepon yang saya pikir tempat menarih koper gede. Tidak tahu apakah noise di bilik itu lebih kecil dibanding noise di kursi. Atau untuk menjaga privasi. Tapi tahulah orang Indonesia, hobi banget ngomong keras saat bertelepon.

Anyway…i love train so much =*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s