Menjejak Sejarah di Museum Brawijaya Malang

Aku menjumpainya di sebuah ruang sederhana. Berdinding kuning pucat. Ubin ruangan itu, meski tampak sompal dan kusam karena jarang dipel, masih memperlihatkan wujud asli ubin khas terakota. Mentari pagi masuk melalui jendela tinggi berlukis. Cahayanya langsung membias di wajahnya. Riuh gaduh di ruang sebelah menjalar di ruang tempat aku melihatnya. Tapi, itu seakan tidak mengusikmu. Matamu tajam, menunjuk, menggetarkan suara tegas. Kebaya kartini dan jarik sama sekali tidak menenggelamkan keberanianmu. Bahkan ditengah-tengah sekumpulan pria yang diam.
“Ia…pejuang yang berani hidup. Banyak orang yang berani mati, hanya sedikit orang yang berani hidup. Ia…yang memenggal kepala Gurkha”, kata-kata teman tiba-tiba menyentak. Berani hidup.

edit_MG_3923

edit_MG_3927

Membersamai para abg…tetiba wajah jadi mulus, cerah ceria :D

 

Saya sulit untuk tidak membuat daftar tujuan saat berjalan. Tidak harus detail tapi semua yang di-list harus dikunjungi, dicoba, dirasakan. Jika tidak, saya bisa uring-uringan. Makanya, berjalan dengan teman yg suka spontanitas, sama sekali tanpa rencana, benar-benar bikin saya labil. Kadang happy, kadang dan lebih banyaknya…senewen. Akhirnya uring-uringan. Tapi, sejatinya saya selalu senang berjalan bersamanya. Pagi itu kami berniat menghabiskan sisa hari memutari Malang sebelum kembali ke Jogja-Solo. Saya, secara sepihak, mengajak dua orang teman ke Museum Brawijaya. Kunjungan ke museum adalah it’s a must!!! Untunglah mereka tidak protes dan sepertinya juga suka :D.

Museum Brawijaya ini berdiri di area perumahan model Belanda di Jalan Besar Ijen. Dengan jalan yang luas dan pepohonan teduh di kiri kanannya . Saya membayangkan, di masa lalu tentulah kawasan ini wilayah elit. Masih sangat sejuk. Mobil hilir mudik dengan anggunnya, sering tapi tidak banyak. Fasad museum sederhana saja. Sebuah kolam harus kita titi sebelum masuk ke bangunan utama. Tank dan patung Sudirman menghias sisi depan museum sekaligus ikon gedung ini. Begitu masuk…kami dihadapkan pada sekumpulan anak sekolahan. Fuiiihh…kunjungan ini pasti akan riuh. Dengan 2000/orang, kami bersiap menjelajah museum yang tidak luas ini.

edit_MG_3934

Kamu, bisa menikmati museum dengan cara apa pun…termasuk lesehan dan membiarkan para “penghuni” museum bercerita..

edit_MG_3931

Selalu…ada senjata dalam tiap perang…dengan latar belakang lukisan pertemupran depan gedung Kempetai (sekarang tugu pahlawan)

Museum ini terbagi dalam 5 area, ini sih menurut penjelajahan saya. Ruang utama sebagai pintu masuk yang memajang foto-foto gubernur Jawa Timur dari periode pertama sampai sekarang. Ruang sayap kanan dan kiri yang isinya hampir mirip. Tapi saya lebih suka ruang sayap kanan. Disinilah saya berjumpa Willy dan Soesilawati, anggota Laswi yang pemberani, dalam beberapa carik potongan berita. Yup, museum ini lebih banyak memajang klipping koran yang sudah kekuningan. Selain dua wanita itu, saya bertemu pula dengan ibu Fatmawati yang sedang berpidato di depan ratusan tentara. Sungguh, ini kali pertama saya lihat ibu negara berpidato. Rasanya luar biasa… Sepertinya belum pernah melihat ibu negara pidato apalagi depan tentara.

edit_MG_3930

Jenderal Besar Soedirman semasa muda….duh..jadi deg-degan.. :D

edit_MG_3929

Quote Soedirman “Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, iri hati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan kejujuran”

Adakah sosok pejuang pria yang memikat di sana? Adaaa…astaga Jend. Besar Soedirman masa muda kok ganteng banget yaaa :D…hahaha … Sempat ga habis pikir kenapa rute gerilya Soedirman bisa sampai Malang. Seorang teman yang pernah mengikuti susur rute gerilya Jend.Besar Soedirman mengiyakan…rute gerilya-nya sampai Malang.

Di bagian halaman belakang, masih ada spot menarik yang jadi pusat perhatian pengunjung. Gerbong Maut. Ada satu gerbong kecil, ukurannya mungkin hanya 2×4 meter saja. Menurut plakat informasi, gerbong ini mengangkut 100 pejuang dari penjara Bondowoso ke Surabaya. Begitu melihat lebih dekat ke gerbong, saya langsung merinding. Betapa sumpek dan panasnya di dalam. Sudahlah berjejalan, tanpa ventilasi, berebut tempat berpijak dan udara, panas lagi karena semua terbuat dari besi. Saya yang berjejalan di komuter saat musim liburan dan lebaran aja bengek…apalagi ini. Tercatat, 46 orang meninggal (gila…setengahnya!!!). Sisanya sampai di Surabaya dalam kondisi sakit parah, sakit, dan hanya 12 saja yang sehat. Sedih… :(

Gerbong maut…kata orang…ini yang bikin jadi angker… Kalau kata saya, ini sejarah!!

Museum Brawijaya Malang bisa jadi salah satu tujuan travelling selain kawasan wisata alam. Memang agak sulit kalau kesini karena sepertinya tidak ada kendaran umum yang lalu lalang. Kemarin kami naik taksi, hitungannya jadi murah. Dan karena supirnya baik hati, mau menunggu, kunjungan ke museum tidak banyak menghabiskan anggaran. Ya…masuknya aja murah banget. Sebenarnya, dinaikan tidak masalah jadi sekitar 5-10 ribu supaya bangunan dan koleksinya bisa terawat dan terpajang dengan baik :D. Salam sejarah :D

Jatuh Cinta Pada Morris Traveller

Ketika banyak pejalan yang menuliskan harapan tentang Indonesian Tourism di awal tahun 2015 ini, saya justru harus berjibaku menuliskan perjalanan 2014 yang tertunda. Mari tuntaskan. Bukankah ini juga bagian dari kebanggaan akan Indonesian Tourism versi abal-abal dari saya. So, let’s speak out :D.

edit_MG_3818

Sebagiann besar mobil jadul yang dipamerkan bermerk Ford…jadi inget replika mobil ini yang sudah hancur lebur di tangan pricils :(

Kunjungan ke Museum Angkut Malang yang terletak di Jl. Terusan Sultan Agung 2, Kota Wisata Batu Malang, ini sebenarnya tanpa rencana. Asal nyomot aja. Hanya ini satu-satunya destinasi yang terlintas di pikiran begitu tiba di Stasiun Kota Malang. Setelah beberapa opsi tampak tidak mungkin terlaksana karena waktu yang singkat, lokasi yang jauh, sudah dikunjungi, murah meriah (penting :D). Dan beruntungnya kami, seorang rekan menawarkan mobilnya untuk dipakai (tentunya ia turut serta). Awalnya malu-malu kucing, lama-lama jadi malu-maluin karena kita pake mobilnya ga kenal waktu. Kelayapan sendiri dan membiarkan ia bersama keluarga kecilnya nungguin kami selesai muterin area museum yang luas banget. Sungguh tidak berperi-perjalanan, sangat tidak layak ditiru, kecuali kamu emang ga punya malu :D

edit_MG_3823

Dibayar berapa pun ga mau naik sepeda ini…gimana cara ngayuhnya coba..udah lah ga ada sadel, pedalnya di roda depan, panjang lagi…berat euyyyy..

edit_MG_3802 Ternyata kami tiba terlalu dini. Wahana museum baru dibuka untuk pengunjung jam 11.00. Jadilah kami memutari area foodcourts dan souvenir yang tidak terlalu luas tapi didesain sangat menarik. Area ini berupa panggung kayu yang dipercantik dengan kanal mungil. Pengunjung bisa mengitari foodcourts dengan sampan kecil. Dari pandangan sepintas, saya menduga museum ini tidak luas. Kesan itu semakin menguat ketika saya memasuki museum. Begini doang?? Hall luas bertingkat dua dengan jejeran motor dan mobil jaman dulu. Yah, masak begini aja museumnya. Bagus sih mobil dan motor yang dipajang. Beberapa adalah kendaraan yang mempunyai nilai sejarah bangsa ini. Tapi…kok begini aja. Akhirnya kami naik ke lantai dua. Area ini memamerkan alat angkut tanpa mesin. Mulai dari sepeda angin dari kayu, pedati, hingga alat angkut yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ada juga spot interaktif bagi pengunjung untuk mengetahui suara jenis-jenis motor, arti sinyal kereta, dan sebagainya. Terus mengeksplor lantai dua dan sampai di pintu “keluar”. Udah gini aja? Rasa kecewa mulai merayapi hati. Kaki mulai gontai menuruni tangga. Dan tiba-tiba…..wowww…mata langsung dimanjakan area outdoor dengan nuansa pecinan tempo doeloe. Ternyata, museum ini menyimpan bagian “wow”nya secara khusus. Baiklaaa…mari menjelajah dengan senyum terkembang dan langkah kaki yang lebih bersemangat. edit_MG_3831

edit_MG_3830

Tuan Ong…soedah lama sadja menoenggoe soerat toean. Oetang toean soedahlah banjak. Djangan kirim soerat lagi, kirim doeit sadja. Tolong toean transfer ya. Itoe lebih tjepat dan terdjamin!!!

Museum Angkut ini dibagi dalam beberapa area tematik. Area hall di awal bisa dikatakan sebagai area pemanasan. Setelah keluar hall, kita akan menemui area pecinaan dengan rupa-rupa toko jaman dulu beserta gerobaknya dan…mmmm…angkutan yang tidak terlalu banyak. Spot menarik disini adalah kantor pos yang memajang surat-surat yang tidak sampai ke penerima. Geli deh baca suratnya, mulai dari yang berbahasa daerah sampai ejaan lama. Dari urusan remeh temeh sampai masalah asmara dan utang piutang :D. Setelahnya kita akan temui area Broadway, pusatnya gangster-gangster, yang dibuat terbuka. Kemudian lanjut ke area Eropa dengan konsep indoor. Ini area yang paling saya suka. Ga panas soalnya…hahaha… Suasananya juga remang-remang jadi berkesan romantis…hihihi… Alat angkut yang dipamerkan di sini kebanyakan mobil Eropa. Ada juga truk pengangkut replika gentong-gentong bir. Lucu dan terkesan country. edit_MG_3848

edit_MG_3859

Dengan angle yang tepat, seharusnya terlihat seperti duduk-duduk cantik di cafe Paris ya :D

Keluar dari area Eropa, kita langsung disuguhi halaman Buckingham. Kalau tepat ambil spot untuk foto, bisa dikira beneran di Buckingham lho. Di dalam “istana Buckingham” dipajang mobil dan bus khas Londong tak lupa Ratu Elizabeth yang duduk dengan anggun. Area Buckingham yang berkonsep aula istana ini lebih cocok untuk pengunjung cilik karena lebih luas bisa untuk lelarian, dalam ruang, an ada wahana maknanya.

edit_MG_3863

Travelling paling asyik bareng mate yang lucu…sabar…dan sayang ama kita…#eaaaa

Saya suka dengan konsep Museum Angkut ini. Sangat interaktif. Sejujurnya, semua wahana di bawah manajemen Jatim Park ini bagus semua. Mulai dari tata letaknya, keramahan petugasnya, sampai kebersihannya. Dan tarifnya tidak terlalu mahal. Di sini pula saya bertemu Morris Traveler yang seketika langsung jatuh cinta. Untuk urusan travelling, sebenarnya saya pingin mobil sport yang gede garang. Tapi begitu lihat si Morris yang imut dan tampak lugu ini jadi pingin :-D.

edit_MG_3845

Muach..muachh..mmmmuachhhh…

Suguhan yang menarik ketika keluar museum adalah….lorong menyerupai gerbong kereta jaman dulu. Semakin nyata dengan suara jesss…jesssnya, goyangannya, dan pemandangan dari jendela yang bergerak. Salut buat pengelola Museum Angkut :-P.

Mencecap Lembut Es Krim Toko OEN Malang

Seraut wajah bulat manis menatap takjub gelas cembung bertangkai rendah di depannya. Tiga bulatan lembut, coklat, kuning, dan merah muda, memenuhi gelas berpinggir lekuk. Tampak taburan warna-warni serupa buah kering di atasnya. Setangkai wafer roll menancap di atasnya. Senyum gadis muda itu merekah. Diambilnya sendok kecil di sisi gelas. Menyendok bulatan kuning. Menyuapkannya ke dalam bibir mungilnya. Sejurus kemudian, rona merah menghias pipinya. Matanya mengerjap-ngerjap. Es krim itu dingin,  seperti udara di luar sana, tapi hatinya dalam sekejap menghangat.

edit_MG_3907

Mengunjungi Toko Oen di sudut jalan gereja Kayu Tangan adalah ketidaksengajaan.  Kami hanya berjalan menyusuri sekitar alun-alun dan tidak berharap akan menemukan sesuatu yang menarik.  Tapi, ternyata, Tuhan punya banyak kejutan untuk kami di malam itu. Selepas menikmati arsitektur Gereja Kayu Tangan yang berselimut cahaya kuning malam yang mempesona, mata saya terpaku pada bangunan bertirai putih pada jendela lebar model lama. Saya katakan pada teman jalan, mungkin sehabis mengelilingi alun-alun kita bisa mampir ke sana. Ia spontan berkata, sekarang saja. Dan spontanitasnya sungguh membawa berkah karena Toko Oen tutup jam 20.30 sedangkan jarum jam saya sudah menunjukkan lebih dari setengah delapan.

Toko Oen Malang yang sedikit tersembunyi

Toko Oen Malang yang sedikit tersembunyi

Tentang Toko Oen, persis seperti yang diceritakan banyak referensi. Interior dalamnya, kursi rotan sintetisnya yang berkaki rendah tapi nyaman, meja bundar bertaplak jadul, langit-langitnya yang tinggi berkayu jati, ubinnya yang kuning oranye, persis seperti yang digambarkan. Meski tidak lagi dimiliki oleh pemilik asli Toko Oen dari Yogya yang sekarang hanya punya satu toko di Semarang,  menu yang ditawarkan masih sama (dengan harga berbeda). Saya bingung melihat deretan nama-nama es krim dan makanan berbahasa Belanda, tak satu pun saya paham. Maka andalannya adalah…”Es krim yang spesial disini ya”. Tak lama, Es Krim Spesial Toko Oen datang ke meja. Tentunya dibawakan pramusaji berbaju hitam putih dan berpeci hitam. Es kirimnya tidak datang sendiri :-P. Sedangkan makanannya sudah tidak lagi tersedia kecuali yang dipajang di etalase toko. Setelah lihat-lihat apa yang terpajang, saya putuskan tidak makan. Yang tersisa tinggal rupa-rupa cake. Cake dan es krim tidak boleh bertemu malam itu :D.

edit_MG_3900

Sebenarnya tindakan bodoh menikmati es krim di malam hari walau Kota Malang tidak lagi dingin. Mana sudah berhari-hari saya batuk dengan tenggorokan yang meradang. Tetapi, begitu suapan kecil es krim warna kuning rasa vanila meluncur ke kerongkongan….tiba-tiba tenggorakan terasa lebih nyaman. Entah apa hubungannya tapi sepanjang malam itu saya tidak lagi batuk-batuk. Pun pagi harinya. Es Krim Spesial Toko Oen ini terdiri dari 3 bulatan es krim dengan 3 rasa, vanila, coklat, dan strawberry. Terus terang, saya tidak suka es krim rasa coklat dan strawberry jadi saya  makan terakhir. Semua makanan/minuman rasa strawberry mengingatkan saya pada obat. Nah, tekstur es krimnya ini yang menarik, lembut tapi menyisakan sensasi serutan-serutan es di lidah, manisnya pas, dan tidak cepat mencair. Rasa wafer yang menjadi topping es krim juga menarik, mengingatkan saya pada wafer yang jaman dulu. Rasa wafer seperti ini tidak akan saya dapatkan di toko-toko besar. Rasa wafer jenis ini mungkin hanya bisa didapatkan di warung-warung kecil di pinggir kota. Tentang harga, sepertinya agak lebih tinggi dibanding Toko Oen Semarang :D.

edit_MG_3903

Deretan toples berisi kue kering jaman dulu

 

Satu yang menarik di Toko OEN Malang adalah interiornya yang bikin nyaman ngobrol berjam-jam. Sampai-sampai kami didatangi pramusaji yang mengantarkan bill, pengusiran secara halus karena toko segera tutup :D. Lain waktu, jika berkunjung ke Malang, saya ingin kembali ke sini :).

edit_MG_3909

Bangku rotan sintetisnya biking betah duduk berlama-lama

 

 

 

Mendekap Hangat di Ndoro Donker

Rintik membayangi perjalanan kami menuju sebuah rumah putih mungil di puncak bukit perkebunan teh Kemuning. Mobil kami pacu perlahan karena tidak yakin, benar tidaknya arah yang dituju. Bekal kami hanya petunjuk tukang parkir di Amanah Agrowisata dan Petugas TPR di gerbang masuk wana wisata air terjun Jumog dan Candi Cetho. Selepas tanjakan, tampak rumah bercat putih yang dicari. Lega rasanya karena tangan mulai keriput kedinginan.

Rumah teh Ndoro Donker namanya. Pertama kali dengar dan lihat foto lokasinya yang keren dari seorang teman. Pada kunjungan pertama ke Bukit Kemuning, saya tidak sempat mampir. Hanya lewat dan bertekad suatu saat harus mampir. Sebagai penyuka teh, Ndoro Donker adalah destinasi wajib kunjung. Apalagi yang ditawarkan adalah teh lokal dengan kualitas ekspor. Sudah rahasia umum kalau teh yang dipasarkan secara lokal adalah teh kualitas rendah karena lebih banyak memasukkan ranting dan tangkai teh ketimbang daunnya. Warnanya yang merah kecokelatan adalah indikasi jenis kualitas teh lokal.
image

Begitu masuk, aroma teh langsung menggelitik hidung. Tiba-tiba mata juga dimanjakan oleh deretan toples-toples dan kaleng-kaleng lucu berwarna-warni. Persis di belakang meja kasir. Saya hanya menebak, pasti isinya rupa-rupa teh. Bergegas kami memilih tempat duduk. Ada 3 pilihan tempat duduk. Di luar dengan meja melingkar dan berpayung, di bagian depan dengan konsep rumahan, dan di teras belakang yang menghadap perkebunan teh. Kami memilih duduk di teras belakang yang langsung menyapu pandangan ke hamparan perkebunan teh yang basah.
image

image

Perlu lambaian tangan untuk mengundang waitress mengantarkan menu makanan dan minuman. Untuk makanan, kami memilih kentang Ndoro Donker dan pisang panggang. Dua macam saja mengingat perut baru saja diisi dengan makan siang porsi besar. Walaupun ada singkong keju dan iga bakar di meja sebelah yang menggugah selera. Untuk teh, kami memilih White Tea. Teh spesial Ndoro Donker selain Radja Tea. White tea ini adalah teh premium dari pucuk daun yang masih kuncup sedangkan Radja Tea adalah teh hijau premium.
image

image

Tak lama menunggu, teh dihidangkan dalam teko transparan yang masih panas. Di tengahnya terdapat saringan tempat pucuk daun teh diletakkan. Terlihat daun tehnya masih kuncup. Warna yang dihasilkan kuning kehijauan bening, seperti chamomile tea. Tehnya sendiri ditemani dengan sewadah kecil gula pasir dan potongan-potongan mungil gula aren. Aroma White Tea ini begitu menenangkan. Saat menyesap, rasa ringan tertahan di lidah. Membuat saya Tiba-tiba tersenyum, benar kata orang “A cup of tea makes everything better “. Sengaja saya tidak memasukkan gula ke dalam cangkir untuk memperoleh rasa asli teh. Saya lebih memilih mengulum potongan-potongan gula aren. Tentang makanannya, to be honest, nothing special. Tapi, tidak masalah karena di sini kita ingin menikmati secangkir teh kan ya. Merasakan dekapan hangat dan menenangkan, untuk mempercayai bahwa semua akan jadi lebih baik :-).

Wonderful Indonesia: Jejak-jejak Tak Kasat Mata di Raja Ampat

Jangan tanya, sudah berapa puluh gambar foto Raja Ampat yang sudah saya lihat. Banyak!!! Termasuk foto-foto indah yang terpampang di website official indonesia.travel. Bahkan, saya sudah berkali-kali melayangkan kartu pos bergambar Raja Ampat ke teman-teman Postcrosser di berbagai belahan bumi. Berkoar-koar betapa indahnya Raja Ampat. Padahal, kesana saja belum pernah :D. Tapi, saya merasa wajib mengabarkan tentang Raja Ampat pada mereka. Tentang Raja Ampat layaknya rumah bagi 75% spesies karang di dunia. Permukaan bawah laut Raja Ampat ditutupi oleh karang yang sehat. Sama sekali tidak mengalami bleaching. Karang yang sehat menjadi surga bagi jutaan plankton dan ikan kecil di piramida terbawah rantai makanan. Laut yang sehat bisa dilihat dari kesehatan terumbu karangnya. Menurut artikel tentang eksplorasi laut yang pernah saya baca, keanekaragaman spesies laut dan kuantitasnya bisa diidentifikasi dari terumbu karangnya. Jika menyelam di Selat Dampier -selat antara Waigeo, Batanta, dan bird’s head Papua- kita nyaris tidak bisa melihat pasir laut karena tertutup karang hingga 90%! Seperti melihat lantai yang tertutup karpet tetapi karpetnya berupa karang warna-warni dengan beragam bentuk, formasi, dan kontur. Dunia bawah laut Raja Ampat begitu menakjubkan tidak hanya bagi penghuni laut tapi juga manusia :).

IMG_6978

Gugusan Raja Ampata. Pic taken from indonesia.travel

Berapa luas wilayah Raja Ampat? Oh, tolong, Raja Ampat tidak bisa dihitung dari luasnya karena unit ini tidak cocok untuk kawasan ini. Menurut Indonesia.travel, luasnya mencakup 4,6 juta hektar tanah dan laut. Nah, ini seperti luas gedung bertingkat. Kita bisa menikmati permukaan daratannya berupa kepulauan. Kita juga bisa menikmati permukaan bawah lautnya dengan tingkat kedalaman yang berbeda-beda. Apa yang akan kita temui di tiap tingkatan pasti berbeda keindahannya. Seru kan!! Banyak yang bilang dunia bawah laut Raja Ampat begitu menakjubkan. Disini, ada lebih dari 540 jenis karang, 1.511 spesies ikan, dan 700 jenis moluska, yang bisa kita temui di tiap tingkatan kedalaman. Manta Rays, barakuda, kuda laut jenis pygmy, goatfish, dan hiu menghuni lautan Raja Ampat. Yang lebih memukau, menurut studi Dr Mark Erdmann, Raja Ampat merupakan wilayah endemic bagi 35 spesies ikan karang, 40 spesie karan, dan 8 spesies udang mantis. Spesies khas Raja Ampat yang kemungkinan akan sulit ditemui di wilayah laut lain diantaranya Papuan Garden Eel, Epaulette shark, kuda laut Pygmy, Black Manta, Bumphead Parrotfish, dan yan terkenal Wobbegong. Continue reading