Wanita Yang Hatinya Seluas Samudera

Hitam eyeliner masih tersisa di pelupuk matanya ketika ia membuka pintu. Rok pendek berwarna krem dan kaos oblong putih yang telah memudar warnanya. Itu kostum yang kau pakai sore itu. Sore pertama kali ku mengetuk pintu rumahmu yang bercat hijau. Ada rasa takut untuk berkunjung kala itu. Sejatinya, aku selalu gundah bila ke rumahmu. Berkomat-kamit sepanjang jalan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Ya, segalanya akan baik-baik saja bila ada dirimu. Tapi, tak jarang air mata tak mampu ku bendung ketika pulang. Rasa sesak yang tak mampu ku tahan.

Kala pertama itu, ku pikir kau asisten rumah tangga. Kau jauh dari kesan sederhana. Kau teramat sangat sederhana. Sejuta gambaran tentangmu telah terpeta dalam otakku yang kerdil. Gambaran yang ku peroleh dari satu mulut ke mulut yang lain. Cerita yang membentukmu menjadi sosok yang tidak menyenangkan. Sejuta cerita yang tak satu pun ia tolak, hanya diam. Yang semakin menasbihkan diriku akan dirimu. Tetapi, setelah puluhan pertemuan, kau tidaklah seperti yang mereka ceritakan. Dengan segala kesalahtingkahanmu, ku sadari, kau memiliki kesabaran dan keikhlasan seluas samudera. Kau menaruh kepercayaan yang begitu besar.

Aku tidak mengerti kenapa kau bisa seperti itu. Sikapmu pada anak-anak. Sikapmu pada suami menumbuhkan kekaguman dan rasa sayang. Seandainya aku bisa sepertimu. Tapi, aku bukanlah dirimu. Aku tidak tahu apakah bisa sepertimu meski kau kau katakan, “yo dicoba, emang angel”.

Momen di malam sekaten tak kan bisa terlupakan. Saat kita berdua di motor. Bercerita tentang banyak hal. Pintamu untuk tak melupakan walau usia terus bertambah. Dan janjiku dalam hati untuk tak melupakanmu, mendoakanmu dalam setiap sujud dan ruku. Selamat ulang tahun…maafkan aku. Semoga Dia Yang Maha Penyanyang melimpahkan rahmatNya padamu, pada keluargamu.

Di bulan ketika hujan selalu turun di sore hari

DSC_0170

Basah oleh hujan akhir Januari

Mataku hanya menatap tetesan hujan yang rapat di tanah coklat. Tetesan hujan dari atap jerami yang menimbulkan lubang-lubang kecil di tanah. Saat aku mengatakan, “Aku kesulitan memahamimu”. Sore itu. Lalu mata kita bertemu. Dan kau katakan, “Kenapa sulit? Aku tidak berubah dari dulu seperti ini“. Kita saling menatap. Lama. Mencoba berbicara tanpa suara. Dan, nihil. Kembali ku tatap lubang-lubang kecil di tanah yang terpukul oleh hujan.

Aku merasakan kau berubah… Atau aku yang telah keliru. Membuat bingkai tentang dirimu yang ku harapkan. Dan memintamu untuk berada dalam bingkai itu. Bingkai dirimu, seperti yang ku terima ketika kita pertama kali berbicara tentang hati. Senja itu”

“Aku tidak suka diatur. Tidak seorang pun bisa mengatur ku. Terserah kamu”

Hujan masih turun. Masih ada yang ingin ku katakan. Tapi, melihat rautmu yang enggan membicarakannya lagi, aku memilih untuk mendekap gelasmu. Segelas kopi hitam. Mencoba menjalarkan hangat.

Kita tidak ada masalah. Kenapa kamu merasa kita seperti ada masalah?”

Kita sedang dalam masalah, rutukku. Kenapa kamu bisa secuek itu. Kenapa aku tidak bisa memahamimu. Astaga. Kenapa aku tidak bisa sesantai dirimu. Belum sempat ku berkata-kata. Kau telah membungkamku dengan..

Jika Tuhan berkehendak, kita pasti bersama

Hujan masih terus turun. Tidak deras. Tapi basah. Sebuah opini tentang kerelaan mengetuk ingatanku. Tak ada yang bisa kau lakukan. Kau tidak bisa menuntut bahkan meminta. Kau hanya perlu merelakan. Dan hujan masih turun di bulan itu. Selalu di sore hari. Seperti hari terakhir di bulan Januari. Tahun lalu.

Botero dan Tentang Menulis Kembali

DSC_0193

Oke, jangan tanya apa itu Botero. Yang jelas kata “Botero’s Painting” yang muncul ketika saya membuka kertas hijau terlipat rapi itu. Serupa dengan lipatan kertas hijau lainnya di dalam toples kecil bingkisan pernikahan yang tak pernah saya hadiri. Bukan apa-apa, karena lokasinya jauh di seberang pulau. Kertas yang saya ambil asal comot karena didera sepi dan kebuntuan menulis.

Saya ingat, lipatan kertas hijau itu saya buat lebih dari setahun yang lalu. Saat ingin aktif menulis di blog tetapi tidak tahu mau menulis apa. Berbekal ide inspiratif sebuah blog (yang sekarang lupa blog apa..sigh). Saya tulislah macam-macam ide yang tercetus. Dilipat. Dimasukan ke toples. Dan…dicuekin sekian lamaπŸ˜€. Sampai-sampai lupa, tentang apa Botero ini dan kenapa sampai saya menuliskan ini. Petunjuknya cuman satu, lukisan. Oke..gugling. Baru di laman pencarian, lihat lukisan nona super gembul berpose ala Monalisa.

Ah yaaaa….Botero ini muncul setelah membaca tulisan seorang pejalan yang menyamakan dirinya dengan objek lukisan si Fernando Botero. Terus, kenapa lantas saya latah menuliskan ide ini ya…masih bingung.

Setidaknya, mulai menulis lagiπŸ˜€

Ini, 2016 kan?

Jadi, ini 2016?

Saya sudah bertekad untuk memperbanyak lelucon, menertawakan diri sendiri, karena 2015 benar-benar bawa perasaanπŸ˜€. Tapi, begitu pintu dibuka…tantangan dan ujian sudah menyapa “Hai Ina, siap untuk yang lebih luar biasa? Siapkan mentalmu!”. Begitu… Baiklah…

Jadi, gini aja posting pertama 2016?

Iya, begini aja….

Sabar, ikhlas ya…