Di bulan ketika hujan selalu turun di sore hari

DSC_0170

Basah oleh hujan akhir Januari

Mataku hanya menatap tetesan hujan yang rapat di tanah coklat. Tetesan hujan dari atap jerami yang menimbulkan lubang-lubang kecil di tanah. Saat aku mengatakan, “Aku kesulitan memahamimu”. Sore itu. Lalu mata kita bertemu. Dan kau katakan, “Kenapa sulit? Aku tidak berubah dari dulu seperti ini“. Kita saling menatap. Lama. Mencoba berbicara tanpa suara. Dan, nihil. Kembali ku tatap lubang-lubang kecil di tanah yang terpukul oleh hujan.

Aku merasakan kau berubah… Atau aku yang telah keliru. Membuat bingkai tentang dirimu yang ku harapkan. Dan memintamu untuk berada dalam bingkai itu. Bingkai dirimu, seperti yang ku terima ketika kita pertama kali berbicara tentang hati. Senja itu”

“Aku tidak suka diatur. Tidak seorang pun bisa mengatur ku. Terserah kamu”

Hujan masih turun. Masih ada yang ingin ku katakan. Tapi, melihat rautmu yang enggan membicarakannya lagi, aku memilih untuk mendekap gelasmu. Segelas kopi hitam. Mencoba menjalarkan hangat.

Kita tidak ada masalah. Kenapa kamu merasa kita seperti ada masalah?”

Kita sedang dalam masalah, rutukku. Kenapa kamu bisa secuek itu. Kenapa aku tidak bisa memahamimu. Astaga. Kenapa aku tidak bisa sesantai dirimu. Belum sempat ku berkata-kata. Kau telah membungkamku dengan..

Jika Tuhan berkehendak, kita pasti bersama

Hujan masih terus turun. Tidak deras. Tapi basah. Sebuah opini tentang kerelaan mengetuk ingatanku. Tak ada yang bisa kau lakukan. Kau tidak bisa menuntut bahkan meminta. Kau hanya perlu merelakan. Dan hujan masih turun di bulan itu. Selalu di sore hari. Seperti hari terakhir di bulan Januari. Tahun lalu.

Botero dan Tentang Menulis Kembali

DSC_0193

Oke, jangan tanya apa itu Botero. Yang jelas kata “Botero’s Painting” yang muncul ketika saya membuka kertas hijau terlipat rapi itu. Serupa dengan lipatan kertas hijau lainnya di dalam toples kecil bingkisan pernikahan yang tak pernah saya hadiri. Bukan apa-apa, karena lokasinya jauh di seberang pulau. Kertas yang saya ambil asal comot karena didera sepi dan kebuntuan menulis.

Saya ingat, lipatan kertas hijau itu saya buat lebih dari setahun yang lalu. Saat ingin aktif menulis di blog tetapi tidak tahu mau menulis apa. Berbekal ide inspiratif sebuah blog (yang sekarang lupa blog apa..sigh). Saya tulislah macam-macam ide yang tercetus. Dilipat. Dimasukan ke toples. Dan…dicuekin sekian lamaπŸ˜€. Sampai-sampai lupa, tentang apa Botero ini dan kenapa sampai saya menuliskan ini. Petunjuknya cuman satu, lukisan. Oke..gugling. Baru di laman pencarian, lihat lukisan nona super gembul berpose ala Monalisa.

Ah yaaaa….Botero ini muncul setelah membaca tulisan seorang pejalan yang menyamakan dirinya dengan objek lukisan si Fernando Botero. Terus, kenapa lantas saya latah menuliskan ide ini ya…masih bingung.

Setidaknya, mulai menulis lagiπŸ˜€

Ini, 2016 kan?

Jadi, ini 2016?

Saya sudah bertekad untuk memperbanyak lelucon, menertawakan diri sendiri, karena 2015 benar-benar bawa perasaanπŸ˜€. Tapi, begitu pintu dibuka…tantangan dan ujian sudah menyapa “Hai Ina, siap untuk yang lebih luar biasa? Siapkan mentalmu!”. Begitu… Baiklah…

Jadi, gini aja posting pertama 2016?

Iya, begini aja….

Sabar, ikhlas ya…

Menjejak Sejarah di Museum Brawijaya Malang

Aku menjumpainya di sebuah ruang sederhana. Berdinding kuning pucat. Ubin ruangan itu, meski tampak sompal dan kusam karena jarang dipel, masih memperlihatkan wujud asli ubin khas terakota. Mentari pagi masuk melalui jendela tinggi berlukis. Cahayanya langsung membias di wajahnya. Riuh gaduh di ruang sebelah menjalar di ruang tempat aku melihatnya. Tapi, itu seakan tidak mengusikmu. Matamu tajam, menunjuk, menggetarkan suara tegas. Kebaya kartini dan jarik sama sekali tidak menenggelamkan keberanianmu. Bahkan ditengah-tengah sekumpulan pria yang diam.
“Ia…pejuang yang berani hidup. Banyak orang yang berani mati, hanya sedikit orang yang berani hidup. Ia…yang memenggal kepala Gurkha”, kata-kata teman tiba-tiba menyentak. Berani hidup.

edit_MG_3923

edit_MG_3927

Membersamai para abg…tetiba wajah jadi mulus, cerah ceriaπŸ˜€

 

Saya sulit untuk tidak membuat daftar tujuan saat berjalan. Tidak harus detail tapi semua yang di-list harus dikunjungi, dicoba, dirasakan. Jika tidak, saya bisa uring-uringan. Makanya, berjalan dengan teman yg suka spontanitas, sama sekali tanpa rencana, benar-benar bikin saya labil. Kadang happy, kadang dan lebih banyaknya…senewen. Akhirnya uring-uringan. Tapi, sejatinya saya selalu senang berjalan bersamanya. Pagi itu kami berniat menghabiskan sisa hari memutari Malang sebelum kembali ke Jogja-Solo. Saya, secara sepihak, mengajak dua orang teman ke Museum Brawijaya. Kunjungan ke museum adalah it’s a must!!! Untunglah mereka tidak protes dan sepertinya juga sukaπŸ˜€.

Museum Brawijaya ini berdiri di area perumahan model Belanda di Jalan Besar Ijen. Dengan jalan yang luas dan pepohonan teduh di kiri kanannya . Saya membayangkan, di masa lalu tentulah kawasan ini wilayah elit. Masih sangat sejuk. Mobil hilir mudik dengan anggunnya, sering tapi tidak banyak. Fasad museum sederhana saja. Sebuah kolam harus kita titi sebelum masuk ke bangunan utama. Tank dan patung Sudirman menghias sisi depan museum sekaligus ikon gedung ini. Begitu masuk…kami dihadapkan pada sekumpulan anak sekolahan. Fuiiihh…kunjungan ini pasti akan riuh. Dengan 2000/orang, kami bersiap menjelajah museum yang tidak luas ini.

edit_MG_3934

Kamu, bisa menikmati museum dengan cara apa pun…termasuk lesehan dan membiarkan para “penghuni” museum bercerita..

edit_MG_3931

Selalu…ada senjata dalam tiap perang…dengan latar belakang lukisan pertemupran depan gedung Kempetai (sekarang tugu pahlawan)

Museum ini terbagi dalam 5 area, ini sih menurut penjelajahan saya. Ruang utama sebagai pintu masuk yang memajang foto-foto gubernur Jawa Timur dari periode pertama sampai sekarang. Ruang sayap kanan dan kiri yang isinya hampir mirip. Tapi saya lebih suka ruang sayap kanan. Disinilah saya berjumpa Willy dan Soesilawati, anggota Laswi yang pemberani, dalam beberapa carik potongan berita. Yup, museum ini lebih banyak memajang klipping koran yang sudah kekuningan. Selain dua wanita itu, saya bertemu pula dengan ibu Fatmawati yang sedang berpidato di depan ratusan tentara. Sungguh, ini kali pertama saya lihat ibu negara berpidato. Rasanya luar biasa… Sepertinya belum pernah melihat ibu negara pidato apalagi depan tentara.

edit_MG_3930

Jenderal Besar Soedirman semasa muda….duh..jadi deg-degan..πŸ˜€

edit_MG_3929

Quote Soedirman “Kemewahan adalah permulaan keruntuhan, kesenangan melupakan tujuan, iri hati merusak persatuan, keangkaramurkaan menghilangkan kejujuran”

Adakah sosok pejuang pria yang memikat di sana? Adaaa…astaga Jend. Besar Soedirman masa muda kok ganteng banget yaaa :D…hahaha … Sempat ga habis pikir kenapa rute gerilya Soedirman bisa sampai Malang. Seorang teman yang pernah mengikuti susur rute gerilya Jend.Besar Soedirman mengiyakan…rute gerilya-nya sampai Malang.

Di bagian halaman belakang, masih ada spot menarik yang jadi pusat perhatian pengunjung. Gerbong Maut. Ada satu gerbong kecil, ukurannya mungkin hanya 2×4 meter saja. Menurut plakat informasi, gerbong ini mengangkut 100 pejuang dari penjara Bondowoso ke Surabaya. Begitu melihat lebih dekat ke gerbong, saya langsung merinding. Betapa sumpek dan panasnya di dalam. Sudahlah berjejalan, tanpa ventilasi, berebut tempat berpijak dan udara, panas lagi karena semua terbuat dari besi. Saya yang berjejalan di komuter saat musim liburan dan lebaran aja bengek…apalagi ini. Tercatat, 46 orang meninggal (gila…setengahnya!!!). Sisanya sampai di Surabaya dalam kondisi sakit parah, sakit, dan hanya 12 saja yang sehat. Sedih…😦

Gerbong maut…kata orang…ini yang bikin jadi angker… Kalau kata saya, ini sejarah!!

Museum Brawijaya Malang bisa jadi salah satu tujuan travelling selain kawasan wisata alam. Memang agak sulit kalau kesini karena sepertinya tidak ada kendaran umum yang lalu lalang. Kemarin kami naik taksi, hitungannya jadi murah. Dan karena supirnya baik hati, mau menunggu, kunjungan ke museum tidak banyak menghabiskan anggaran. Ya…masuknya aja murah banget. Sebenarnya, dinaikan tidak masalah jadi sekitar 5-10 ribu supaya bangunan dan koleksinya bisa terawat dan terpajang dengan baikπŸ˜€. Salam sejarahπŸ˜€

Jatuh Cinta Pada Morris Traveller

Ketika banyak pejalan yang menuliskan harapan tentang Indonesian Tourism di awal tahun 2015 ini, saya justru harus berjibaku menuliskan perjalanan 2014 yang tertunda. Mari tuntaskan. Bukankah ini juga bagian dari kebanggaan akan Indonesian Tourism versi abal-abal dari saya. So, let’s speak outπŸ˜€.

edit_MG_3818

Sebagiann besar mobil jadul yang dipamerkan bermerk Ford…jadi inget replika mobil ini yang sudah hancur lebur di tangan pricils😦

Kunjungan ke Museum Angkut Malang yang terletak di Jl. Terusan Sultan Agung 2, Kota Wisata Batu Malang, ini sebenarnya tanpa rencana. Asal nyomot aja. Hanya ini satu-satunya destinasi yang terlintas di pikiran begitu tiba di Stasiun Kota Malang. Setelah beberapa opsi tampak tidak mungkin terlaksana karena waktu yang singkat, lokasi yang jauh, sudah dikunjungi, murah meriah (penting :D). Dan beruntungnya kami, seorang rekan menawarkan mobilnya untuk dipakai (tentunya ia turut serta). Awalnya malu-malu kucing, lama-lama jadi malu-maluin karena kita pake mobilnya ga kenal waktu. Kelayapan sendiri dan membiarkan ia bersama keluarga kecilnya nungguin kami selesai muterin area museum yang luas banget. Sungguh tidak berperi-perjalanan, sangat tidak layak ditiru, kecuali kamu emang ga punya maluπŸ˜€

edit_MG_3823

Dibayar berapa pun ga mau naik sepeda ini…gimana cara ngayuhnya coba..udah lah ga ada sadel, pedalnya di roda depan, panjang lagi…berat euyyyy..

edit_MG_3802 Ternyata kami tiba terlalu dini. Wahana museum baru dibuka untuk pengunjung jam 11.00. Jadilah kami memutari areaΒ foodcourts dan souvenir yang tidak terlalu luas tapi didesain sangat menarik. Area ini berupa panggung kayu yang dipercantik dengan kanal mungil. Pengunjung bisa mengitariΒ foodcourts dengan sampan kecil. Dari pandangan sepintas, saya menduga museum ini tidak luas. Kesan itu semakin menguat ketika saya memasuki museum. Begini doang?? Hall luas bertingkat dua dengan jejeran motor dan mobil jaman dulu. Yah, masak begini aja museumnya. Bagus sih mobil dan motor yang dipajang. Beberapa adalah kendaraan yang mempunyai nilai sejarah bangsa ini. Tapi…kok begini aja. Akhirnya kami naik ke lantai dua.Β Area ini memamerkan alat angkut tanpa mesin. Mulai dari sepeda angin dari kayu, pedati, hingga alat angkut yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Ada juga spot interaktif bagi pengunjung untuk mengetahui suara jenis-jenis motor, arti sinyal kereta, dan sebagainya. Terus mengeksplor lantai dua dan sampai di pintu “keluar”. Udah gini aja? Rasa kecewa mulai merayapi hati. Kaki mulai gontai menuruni tangga. Dan tiba-tiba…..wowww…mata langsung dimanjakan area outdoor dengan nuansa pecinan tempo doeloe. Ternyata, museum ini menyimpan bagian “wow”nya secara khusus. Baiklaaa…mari menjelajah dengan senyum terkembang dan langkah kaki yang lebih bersemangat. edit_MG_3831

edit_MG_3830

Tuan Ong…soedah lama sadja menoenggoe soerat toean. Oetang toean soedahlah banjak. Djangan kirim soerat lagi, kirim doeit sadja. Tolong toean transfer ya. Itoe lebih tjepat dan terdjamin!!!

Museum Angkut ini dibagi dalam beberapa area tematik. Area hall di awal bisa dikatakan sebagai area pemanasan. Setelah keluar hall, kita akan menemui area pecinaan dengan rupa-rupa toko jaman dulu beserta gerobaknyaΒ dan…mmmm…angkutan yang tidak terlalu banyak. Spot menarik disini adalah kantor pos yang memajang surat-surat yang tidak sampai ke penerima. Geli deh baca suratnya, mulai dari yang berbahasa daerah sampai ejaan lama. Dari urusan remeh temeh sampai masalah asmara dan utang piutangπŸ˜€. Setelahnya kita akan temui area Broadway, pusatnya gangster-gangster, yang dibuat terbuka. Kemudian lanjut ke area Eropa dengan konsep indoor. Ini area yang paling saya suka. Ga panas soalnya…hahaha… Suasananya juga remang-remang jadi berkesan romantis…hihihi… Alat angkut yang dipamerkan di sini kebanyakan mobil Eropa. Ada juga truk pengangkut replika gentong-gentong bir. Lucu dan terkesan country. edit_MG_3848

edit_MG_3859

Dengan angle yang tepat, seharusnya terlihat seperti duduk-duduk cantik di cafe Paris yaπŸ˜€

Keluar dari area Eropa, kita langsung disuguhi halaman Buckingham. Kalau tepat ambil spot untuk foto, bisa dikira beneran di Buckingham lho. Di dalam “istana Buckingham” dipajang mobil dan bus khas Londong tak lupa Ratu Elizabeth yang duduk dengan anggun. Area Buckingham yang berkonsep aula istana ini lebih cocok untuk pengunjung cilik karena lebih luas bisa untuk lelarian, dalam ruang, an ada wahana maknanya.

edit_MG_3863

Travelling paling asyik bareng mate yang lucu…sabar…dan sayang ama kita…#eaaaa

Saya suka dengan konsep Museum Angkut ini. Sangat interaktif. Sejujurnya, semua wahana di bawah manajemen Jatim Park ini bagus semua. Mulai dari tata letaknya, keramahan petugasnya, sampai kebersihannya. Dan tarifnya tidak terlalu mahal. Di sini pula saya bertemu Morris Traveler yang seketika langsung jatuh cinta. Untuk urusan travelling, sebenarnya saya pingin mobil sport yang gede garang. Tapi begitu lihat si Morris yang imut dan tampak lugu ini jadi pinginπŸ˜€.

edit_MG_3845

Muach..muachh..mmmmuachhhh…

Suguhan yang menarik ketika keluar museum adalah….lorong menyerupai gerbong kereta jaman dulu. Semakin nyata dengan suara jesss…jesssnya, goyangannya, dan pemandangan dari jendela yang bergerak. Salut buat pengelola Museum AngkutπŸ˜›.